News  

UBSI dan BRIN Finalisasi Teknologi Digital dan Cek Sterilisasi Pupuk di Garut

program bintara ubsi brin

Milenianews.com, Garut – Tim peneliti Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memfinalisasi integrasi sistem digital dan mengecek kesiapan alat sterilisasi pupuk organik di kawasan ICARE Jawa Barat, Kabupaten Garut, pada 25-26 Oktober 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari penguatan program Bisnis Tani Terpadu (BINTARA). Program tersebut berfokus pada integrasi sektor pertanian dan peternakan berbasis teknologi tepat guna.

Baca juga: BMH Resmikan Sumur Bor Ke-296 untuk Masjid dan Sekolah di Malang

Dalam agenda yang berlangsung dua hari tersebut, tim merampungkan instalasi sistem Internet of Things (IoT) dan geolocation. Teknologi ini dirancang untuk memantau aktivitas pertanian serta peternakan terpadu secara langsung dan presisi.

Perwakilan tim peneliti UBSI, Kresna Ramanda, M.Kom, menyatakan bahwa implementasi teknologi digital ini bertujuan untuk mempermudah petani dan peternak dalam memetakan serta mengelola sumber daya di lapangan secara efisien.

“Penerapan sistem IoT dan geolocation ini kami rancang agar monitoring lapangan berjalan secara real-time dan akurat. Integrasi data ini mempermudah pencatatan sebaran potensi kandang dan lahan, sehingga efisiensi kerja peternak dalam program BINTARA meningkat signifikan,” ujar Kresna dalam keterangan rilis, Jumat (30/10).

Ditemui terpisah, Ketua tim program BINTARA dari UBSI, Dr. Diah Puspitasari, M.Kom, menyampaikan bahwa pengembangan program ini membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga riset, terutama dalam mengintegrasikan penerapan teknologi dengan kebutuhan mitra di lapangan.

“Melalui kolaborasi UBSI dan BRIN, kami berupaya memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya menjadi inovasi, tetapi juga dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi mitra. Finalisasi sistem IoT dan geolocation serta pengembangan pengolahan ‘Teh Kohe’ merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian dan peternakan terpadu yang didukung teknologi digital dan inovasi tepat guna,” ujar Dr. Diah.

Selain digitalisasi lahan, tim juga memeriksa keandalan alat sterilisasi “Teh Kohe”. Produk ini merupakan pupuk organik cair yang memanfaatkan kotoran domba lokal sebagai bahan baku utama.

Perwakilan tim riset BRIN, Ir. Hanudin, menjelaskan bahwa tahap sterilisasi menjadi kunci mutu produk pupuk hayati tersebut. Pengendalian suhu dan higienitas alat memastikan produk akhir aman dari patogen berbahaya.

“Dalam proses pembuatan Teh Kohe, terdapat dua tahapan penting yang perlu dikontrol, yaitu sterilisasi bahan pembawa berupa campuran kohe dan fermentasi mikroba bahan aktif dengan penambahan nutrisi,” ujar Hanudin.

Ia menambahkan, proses sterilisasi bertujuan mematikan mikroba kontaminan yang merugikan. Sementara itu, pengendalian fermentasi berfungsi mengoptimalkan kerja mikroba bahan aktif agar menghasilkan pupuk organik berkualitas unggul.

Kegiatan kolaborasi ini turut dihadiri oleh Dr. Rantan Krisnan dari BRIN, serta tim dosen UBSI yang hadir diwakili Kresna Ramanda, Endang Wahyudi, Sulaeman Hadi Sukmana, Qudsiah Nur Azizah, dan Erma Delima Sikumbang.

Baca juga: UMKM Bebicare Group Bersama BMH Hadirkan Sumur Bor Ke-294

Pemanfaatan kotoran domba menjadi pupuk bernilai tambah ini diharapkan menekan bisa biaya operasional kelompok tani setempat. Di sisi lain, sistem sirkular ini meminimalkan limbah peternakan yang selama ini belum terkelola optimal.

Selanjutnya, UBSI dan BRIN akan memperluas pendampingan teknis bagi para peternak dan petani di kawasan ICARE Jawa Barat. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem agribisnis hulu-hilir yang lebih mandiri, efektif, dan berkelanjutan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *