News  

Kisah Paguyuban Kalijawi, Ibu-Ibu Yogyakarta Sulap Kampung Kumuh dengan Tabungan Rp2.000 Sehari

Sumber Foto @paguyuban.kalijawi

Milenianews.com, Jakarta – Sering kali kita mengira wajah kota hanya bisa berubah lewat proyek besar dan anggaran fantastis. Nyatanya, di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, perubahan justru lahir dari uang receh Rp2.000 per hari. Nominal yang mungkin habis untuk parkir, tetapi mampu mengubah kampung kumuh menjadi permukiman yang lebih layak dan ramah lingkungan.

Baca juga: Paguyuban Pensiunan Perikanan (PPP) Gelar Halal Bihahal, Prof. Rokhmin Sampaikan Hikmah Silaturahim

Melalui Paguyuban Kalijawi, para ibu mulai menabung Rp2.000 setiap hari sejak 2012. Dana swadaya itu kemudian dipadukan dengan bantuan stimulan untuk memperbaiki rumah secara bertahap.

Hasilnya, sekitar 165 rumah berhasil direnovasi dalam waktu 20 bulan, membuktikan bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi membutuhkan komitmen yang konsisten.

Berawal dari Kampung yang Rentan

Belasan tahun lalu, kawasan bantaran sungai dipenuhi rumah-rumah yang berdiri tanpa tata ruang. Sanitasi buruk, akses pemadam kebakaran minim, banjir kerap datang, dan sungai lebih sering diperlakukan sebagai tempat membuang limbah daripada sumber kehidupan.

Alih-alih terus menunggu bantuan, warga memilih bergerak sendiri.

Gerakan ini juga melahirkan konsep penataan kampung M3K (Munggah, Mundur, Madhep Kali).

Rumah-rumah yang semula membelakangi sungai kini diarahkan menghadap aliran air. Perubahan sederhana itu membuat sungai berubah fungsi, dari “halaman belakang” tempat membuang sampah menjadi “halaman depan” yang dijaga bersama.

Dari Swadaya Menjadi Inspirasi

Keberhasilan Paguyuban Kalijawi akhirnya menarik perhatian berbagai pihak dan membuka jalan bagi dukungan pemerintah tanpa menghilangkan semangat gotong royong warga.

Kini, komunitas tersebut tak hanya mengelola tabungan bersama, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat tentang lingkungan, krisis air, hingga hak warga atas ruang hidup.

Baca juga: Keributan Pelajar Pecah di Jalan Monjali Yogyakarta, Dua Orang Diamankan

Di saat sebagian pembangunan kota masih bergantung pada proyek bernilai miliaran rupiah, perempuan-perempuan bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong membuktikan perubahan kadang tidak lahir dari besarnya anggaran, melainkan dari recehan yang dikumpulkan dengan kesabaran dan tekad bersama.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *