Milenianews.com, Yogyakarta – Bukankah ruang seni seharusnya menjadi tempat paling aman untuk berbeda pendapat? Ironisnya, di ArtJog 2026, yang lebih dulu “dipamerkan” bukan hanya instalasi seni, melainkan perdebatan soal etika, pendanaan, hingga aksi protes yang berujung pemukulan. Di panggung yang mestinya merayakan kebebasan berekspresi, justru ekspresi itu sendiri menjadi sumber keributan.
ArtJog 2026 resmi dibuka di Jogja National Museum, Yogyakarta, Jumat (19/6), dengan tema Ars Longa Generatio yang melibatkan 96 seniman. Namun perhatian publik sejak jauh hari bukan tertuju pada karya-karya yang dipamerkan, melainkan pada polemik keterlibatan Yayasan Didit Hediprasetyo sebagai salah satu pendukung acara.
Baca juga: Pameran Seni ARTJOG Hadir Kembali dengan Tema Motif Ramalan
Rencana pembukaan oleh Didit Hediprasetyo sempat memicu gelombang kritik dari sejumlah seniman, komunitas seni, hingga mitra bisnis. Poster digital yang sebelumnya menampilkan nama Didit mendadak menghilang dan digantikan informasi bahwa pembukaan dilakukan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, Pengageng KHP Nitya Budaya Keraton Yogyakarta.
Ketika Cat Merah Menjadi Bahasa Protes
Sesaat setelah seremoni pembukaan selesai, suasana berubah drastis. Sekelompok orang yang menamakan diri Art Jokes melemparkan cat merah ke instalasi fasad terakota karya Roby Dwi Antono. Mereka juga menaburkan bunga layaknya prosesi pemakaman, sebuah simbol yang mereka sebut sebagai kritik terhadap arah penyelenggaraan festival.
Bagi kelompok tersebut, aksi teatrikal itu adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Mereka menilai penerimaan dukungan dari Yayasan Didit Hediprasetyo bertentangan dengan nilai independensi yang selama ini melekat pada ArtJog.
Namun aksi tersebut berujung ricuh. Sejumlah peserta protes diamankan, diinterogasi, bahkan dilaporkan mengalami tindakan kekerasan dari petugas keamanan.
Ironisnya, di festival yang menjual gagasan tentang kebebasan berpikir, perbedaan justru nyaris diperlakukan seperti ancaman keamanan.
Manajemen Minta Maaf, Polemik Belum Usai
Direktur Program ArtJog, Gading Paksi, menyampaikan permintaan maaf atas tindakan represif yang dialami para pemrotes. Ia menegaskan kekerasan tersebut bukan bagian dari prosedur penyelenggara dan menyebut kritik merupakan bagian yang sah dalam ekosistem seni.
Baca juga: 6 Kampus Seni dan Desain Paling Diminati di Yogyakarta
Meski demikian, polemik sudah terlanjur melebar. Beberapa mitra memilih mundur. ViaVia Restaurant secara terbuka membatalkan kerja sama sebagai bentuk menjaga prinsip independensi, keberagaman, partisipasi, dan transparansi.
Sementara itu, komunitas seni media baru HONF mengaku sejak awal tidak mengetahui adanya keterlibatan Yayasan Didit Hediprasetyo dalam pendanaan festival. Mereka bahkan sempat berencana menutup akses menuju ruang pamer karya mereka apabila Didit benar-benar hadir membuka acara.
Sponsor Datang, Pertanyaan Ikut Masuk
CEO sekaligus pendiri ArtJog, Heri Pemad, menjelaskan bahwa Yayasan Didit Hediprasetyo hanya menjadi salah satu dari banyak mitra pendukung dan tidak memiliki pengaruh terhadap keputusan artistik maupun kuratorial.
Menurutnya, ArtJog sejak awal dibangun melalui semangat kolaborasi berbagai pihak, sehingga dukungan finansial dari yayasan tersebut dipandang sebagai bentuk kemitraan biasa.
Namun di ruang publik, persoalannya bukan lagi sekadar soal siapa yang membayar. Yang dipersoalkan justru siapa yang dianggap layak hadir membawa nama dan simbol dalam ruang kebudayaan.
Di dunia seni, uang memang bisa membantu menyalakan lampu galeri. Tetapi legitimasi publik tetap tidak bisa dibeli semudah mencetak baliho sponsor.
Baca juga: Gelar Seleksi Mandiri di Bogor, UPN Yogyakarta Kembali Gandeng Sekolah Bosowa Bina Insani
Pengamat seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, menilai protes publik menunjukkan bahwa ArtJog telah berkembang menjadi lebih dari sekadar pameran seni. Festival ini telah menjadi ruang kebudayaan yang juga dipenuhi pertarungan nilai, etika, dan kepentingan.
Ia mengingatkan polemik sponsor bukan pertama kali menghampiri ArtJog. Pada 2016, keterlibatan perusahaan tambang Freeport juga memicu aksi penolakan, demonstrasi, hingga vandalisme terhadap logo sponsor.
Sepuluh tahun berlalu, isu yang muncul ternyata masih serupa. Hanya nama sponsornya yang berganti, sementara pertanyaan publik tetap sama: sejauh mana ruang seni mampu menjaga independensinya ketika membutuhkan dukungan dana?
ArtJog 2026 akhirnya tetap dibuka dan akan berlangsung hingga 30 Agustus mendatang. Namun bagi banyak orang, pameran kali ini tampaknya tidak hanya memajang karya seni.
Ia juga memamerkan kenyataan bahwa di balik setiap lukisan, instalasi, dan pertunjukan, selalu ada pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab daripada sekadar “apakah ini seni?”.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









