Milenianews.com, Mata Akademisi– Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syaikh Nawawi menuliskan hadits Nabi tentang keutamaan diam. Namun beliau tidak menyertakan muhadits dan perawinya. Dalam hadits berikut terungkap keutamaan diam. “(Pertama), shalat itu tiang agama, namun diam lebih utama.” Maksudnya diam lebih utama dari shalat.
Bagi Syaikh Nawawi, diam yang dimaksud adalah diam dari perkara yang tidak bermanfaat, baik terkait urusan agama maupun dunia. Seperti tidak membalas ketika disakiti. Diam seperti ini termasuk kategori ibadah tertinggi, seperti sabda Nabi, “Diam adalah ibadah tertinggi.” (HR. Dailami). Tentu ini kode keras dari Nabi.
Jadi bisa dipahami orang yang sanggup diam pasti sanggup melaksanakan shalat. Tidak demikian bagi orang yang mendirikan shalat, belum tentu mampu menguasai dirinya untuk diam. Orang yang mengumbar kata-katanya berpotensi bersalah dan berdosa. Syaikh Nawawi menyebut bahwa umumnya dosa berasal dari omongan.
“(Kedua), sedekah dapat memadamkan murka Allah, namun diam lebih utama.” Lagi-lagi Nabi memberi warning, sebegitu hebatnya pahala sedekah, namun sedekah belum mampu memuncaki laku diam. Laku diam lebih utama dari sedekah, kendati sedekah dapat memadamkan murka Allah.
Terhadap hadits ini, tampaknya Syaikh Nawawi membangun argumentasinya dengan mengutip hadits Nabi yang relevan. “Diam itu perhiasan bagi orang berilmu dan penutup (kekurangan) bagi orang bodoh.” Sementara sedekah tidak seperti itu. Faktanya, lanjut Syaikh Nawawi, kebodohan seseorang tertutupi sepanjang dia tidak berbicara. Sementara sedekah tidak seperti itu.
Diam pada diri orang berilmu terkandung kewibawaan dan kecerdasan. Dikatakan berwibawa karena kata-katanya berisi dan bernas pada saat disampaikan. Dikatakan cerdas karena, orang yang diam mempelajari yang dikatakan lawan bicara sehingga bisa mematahkan argumentasinya.
“(Ketiga), puasa itu tameng dari api neraka, namun diam lebih utama.” Dengan kata lain diam adalah tameng yang lebih kokoh untuk melindungi diri dari api neraka. Nabi memberi informasi, “Diam adalah akhlak terhebat.” (HR. Dailami).
Orang dalam kategori ini melebihi orang yang berpuasa. Karena dia tidak melakukan ghibah, ujaran kebencian, dan menebar hoaks. Sementara ghibah dan yang seumpamanya tidak membatalkan puasa. Di sinilah letak makna sabda Nabi tersebut.
“(Keempat), jihad adalah puncaknya agama, namun diam lebih utama.” Orang yang berjihad belum tentu mampu diam ketika dirinya dipojokkan, difitnah, diprovokasi, dan dipersekusi. Kata Syaikh Nawawi, orang dalam kategori ini sedikit jumlahnya.
Nyatanya, pihak musuh lebih waspada kepada pribadi yang diam, tidak berekspresi. Sebab orang yang diam, strateginya tidak bisa diidentifikasi. Tak heran kalau Nabi memuji-memuji pelaku diam, “Diam adalah hikmah (mengandung kebijaksanaan) dan sangat sedikit pelakunya.” (HR. Dailami).
Kesimpulannya, diam adalah ibadah tertinggi, penutup kekurangan orang bodoh, akhlak terhebat, dan kebijaksanaan yang sedikit pelakunya. Dengan demikian dapat dimengerti kalau diam memuncaki shalat, sedekah, puasa, dan jihad. Dengan kata lain, diam adalah kristalisasi shalat, sedekah, puasa, dan jihad.
Penulis: Dr. KH. Syamsul Yakin MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta