Menakar keputusan lewat visi, konsep diri, dan humanisme
Dalam konsep Vision and Mission, setiap individu idealnya memiliki gambaran masa depan yang jelas (vision) beserta langkah-langkah konkret untuk mewujudkannya (mission). Bila dikaitkan dengan fenomena ini, bekerja di luar negeri dapat menjadi bagian dari tujuan hidup asalkan direncanakan secara matang. Misalnya, seseorang menetapkan target menguasai bahasa asing dan menimba pengalaman kerja selama lima tahun di luar negeri, untuk kemudian kembali ke Indonesia membangun usaha sendiri. Dalam kondisi ini, bekerja di luar negeri bukanlah tindakan melarikan diri, melainkan strategi terencana mencapai tujuan hidup. Sebaliknya, jika seseorang hanya mengekor tren tanpa memahami tujuan akhirnya, mereka akan rentan merasa kecewa dan kehilangan semangat saat menghadapi tantangan di negara tujuan.
Peran konsep diri (self concept)—yaitu cara seseorang memandang kemampuan, kelebihan, dan keterbatasannya—juga sangat signifikan. Orang dengan konsep diri yang positif cenderung memandang bekerja di luar negeri sebagai peluang untuk berkembang (growth mindset). Mereka yakin kemampuannya dapat terus diasah melalui pengalaman baru. Namun, jika keputusan tersebut didasari oleh penilaian diri yang rendah atau rasa minder dalam bersaing di lingkungan lokal, dorongan untuk “kabur” berisiko menjadi bentuk pelarian dari masalah.
Hal ini terlihat dari contoh nyata para lulusan yang memilih bekerja di Jepang melalui jalur resmi. Mereka yang sukses umumnya telah mempersiapkan diri sejak awal dengan belajar bahasa, mengikuti pelatihan keterampilan, serta memahami budaya kerja di sana. Mereka memiliki tujuan terarah, seperti menabung untuk membuka usaha atau melanjutkan studi saat kembali kelak. Sebaliknya, mereka yang berangkat hanya karena tergiur postingan gaji besar di media sosial kerap mengalami kesulitan saat harus beradaptasi dengan budaya dan aturan kerja yang keras.
Perspektif Psikologi Humanistik yang digagas Abraham Maslow menekankan bahwa manusia memiliki dorongan alamiah untuk bertumbuh dan mencapai aktualisasi diri. Keinginan bekerja di luar negeri merupakan bagian dari proses memperkuat potensi individu dalam mencari pengalaman baru, kemandirian, dan pengembangan diri. Namun, Carl Rogers juga mengingatkan bahwa kebahagiaan dan perkembangan diri tidak selalu ditentukan oleh lokasi geografis tempat kita berada. Bekerja di luar negeri bukanlah satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Seseorang tetap dapat berkembang, berprestasi, dan memberi manfaat bagi masyarakat tanpa perlu meninggalkan Indonesia.
Refleksi pribadi dan arah masa depan
Sebagai seorang mahasiswa jurusan Manajemen, saya memandang fenomena “Kabur Aja Dulu” tidak dapat langsung dijustifikasi secara hitam-putih sebagai hal yang sepenuhnya positif atau negatif. Setiap orang memiliki riwayat, kondisi ekonomi, dan harapan hidup yang berbeda. Selama dilakukan melalui jalur yang sah dan dipersiapkan secara matang, keberanian mencari pengalaman di luar negeri patut diapresiasi.
Perencanaan karier yang matang menuntut kita untuk bijak menyikapi media sosial. Media sosial sering kali hanya menampilkan aspek yang menyenangkan, seperti besarnya gaji atau gaya hidup yang nyaman, sementara tantangan seperti perbedaan budaya, tekanan kerja, hingga rasa kesepian jarang diperlihatkan.
Baca juga: #Kaburajadulu: Catalyst Perubahan Struktural atau Hanya Sekadar Letupan Ketidakpuasan Sementara?
Melalui pengamatan di dunia kerja, saya melihat bahwa perusahaan saat ini lebih mengutamakan kemampuan nyata (skill-based) dibandingkan sekadar ijazah formal. Kemampuan bahasa asing, komunikasi lintas budaya, kedisiplinan, dan adaptabilitas adalah nilai-nilai yang sangat dihargai. Hal ini rasional jika banyak anak muda berusaha mengejar pengalaman internasional untuk mengasah kompetensi tersebut. Namun, persiapan tersebut tetap harus disesuaikan dengan visi karier masing-masing individu, bukan sekadar dipicu rasa takut ketinggalan (FOMO).
Bekerja di luar negeri tidak berarti memutuskan rasa cinta terhadap Indonesia. Pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk membawa pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir baru yang diterapkan saat kembali berkiprah di tanah air.
Fenomena “Kabur Aja Dulu” menjadi cermin bagaimana generasi muda menyikapi tantangan dunia kerja global yang semakin kompetitif. Diharapkan anak muda tidak sekadar mengikuti tren sesaat, tetapi berani membuat rencana kehidupan yang matang. Di saat yang sama, pemerintah diharapkan terus membuka lebih banyak peluang kerja berkualitas di dalam negeri, meningkatkan mutu pelatihan, serta memberikan perlindungan maksimal bagi warga yang memilih bekerja di luar negeri. Pada akhirnya, keberhasilan karier tidak ditentukan oleh di mana kita bekerja, melainkan pada kejelasan visi dan komitmen kita untuk terus belajar dan memberi dampak positif bagi sesama
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













