Oleh: Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A. (Amil Zakat PPPA Daarul Qur’an dan Pekerja Sosial)
Mata Akademisi, Milenianews.com – Meja kayu di sudut kamar dan kedai kopi hari ini kerap kali tampil rapi dan steril dari tumpukan buku berbau apek. Pemuda duduk berlama-lama di sana, jemarinya lincah meluncur di atas layar, memindai ribuan serpihan gambar dan kalimat puntung tanpa pernah benar-benar singgah. Ada kegamangan yang mengendap pelan: zaman menyediakan limpahan informasi yang tak pernah tertandingi oleh abad-abad silam, tetapi pada saat yang sama, ia justru membiarkan batin anak mudanya kering kerontang dari kebiasaan bermenung dan menimbang makna dalam hening.
Kegelisahan semacam itu menuntun ingatan kita surut ke masa seabad silam, tepatnya ketika Rustam Effendi menerbitkan himpunan sajak Percikan Permenungan (1926). Di masa ketika Tanah Air masih berupa angan-angan yang diraba dalam gelap, Rustam menyadari bahwa ikhtiar pembebasan tak bisa bertumpu sekadar pada gelegar amarah di jalanan. Pembebasan, menurutnya, menuntut pembongkaran bahasa dan ketertiban pikiran. Bagi Rustam, sajak dan permenungan adalah ikhtiar meretas belenggu lama demi menemukan ungkapan yang berdaya hidup, sebuah laku batin pemuda yang sadar bahwa kemerdekaan bermula dari keberanian menyusun kalimat sendiri.
Baca juga: Resolusi Jihad Santri Kiwari: Hajar Perusak Lingkungan, Jadikan Maqashid Syariah Keenam!
Namun, godaan untuk sekadar menjadi manusia tiruan yang terpesona pada kemilau luaran zaman telah lama diwanti-wanti oleh Abdul Muis dalam roman Salah Asuhan (1928). Sosok Hanafi dihadirkan menjadi cermin retak bagi siapa saja yang gagap memaknai modernitas. Hanafi memuja kebaratan sebatas setelan jas, dansa-dansi, dan gaya tutur yang meremehkan kaumnya sendiri, sementara akal budinya rapuh dan jiwanya tercabut dari bumi tempat ia berpijak.
Tragedi Hanafi sejatinya adalah nalar generasi hari ini yang mudah silau oleh riuh tren global di layar pintar. Pemuda abad ke-21 menelan mentah-mentah kutipan dan gaya hidup mutakhir tanpa pernah membekali diri dengan bacaan yang mendalam tentang sejarah, filsafat, atau kebudayaannya sendiri. Ketercerabutan itu lahir manakala laku membaca dianggap sebagai beban yang melelahkan, sehingga mereka merasa telah menjadi bagian dari masyarakat maju hanya karena fasih mengulang jargon asing yang mengapung di udara.
Cermin Retak dari Masa Revolusi
Dari pergulatan budaya masa kolonial, tatapan sejarah bergeser ke masa revolusi fisik yang penuh kecemasan melalui novel Mochtar Lubis, Jalan Tak Ada Ujung (1952). Mochtar Lubis tidak memilih menulis heroisme yang pongah. Dengan membedah ketakutan purba di dalam dada Guru Isa, ia memberikan tamsil tentang seorang guru sekolah dan pemain biola yang gemetar di tengah desing peluru dan bau mesiu Jakarta. Melalui kalimat-kalimatnya yang jernih dan tanpa tedeng aling-aling, Mochtar mengingatkan kita bahwa pergulatan manusia yang paling sunyi adalah menaklukkan teror di dalam kepalanya sendiri.
Di dalam novel tersebut, sosok Hazil yang tampak gagah perkasa dan gemar berpidato lantang tentang perjuangan justru rapuh dan berkhianat begitu didera siksaan di kamar tahanan. Mochtar Lubis menitipkan pesan moral yang muram bahwa keberanian yang hanya dibangun dari riuh slogan akan lekas runtuh di hadapan ujian nasib yang sesungguhnya. Nyali sejati membutuhkan ketahanan martabat yang hanya bisa matang melalui permenungan yang jujur, bukan dari sorak-sorai kerumunan yang mudah pasang dan surut.
Kesadaran akan tugas sejarah yang sunyi itu berdentang keras pula dalam sajak dingin Chairil Anwar, Prajurit Jaga Malam (1948). Chairil merekam denyut waktu yang berjalan setetes demi setetes dari dada ke dada, di tengah kesadaran bahwa kemerdekaan masih harus ditebus dengan laku berjaga yang sabar dan waspada. Prajurit Chairil tidak sedang berpesta pora di atas panggung kemenangan; ia berdiri tegak menghitung jam-jam yang berlalu di pos jaga, memikul tanggung jawab atas nasib manusia yang tertidur lelap di bawah naungan bintang-bintang.
Sajak Chairil itu seketika menjadi ironi manakala dihadapkan pada malam-malam pemuda abad ke-21. Mereka memang terjaga, namun bukan lagi untuk menimbang arah sejarah masyarakat dan bangsanya. Kamar-kamar indekos dan kamar tidur kini terang benderang hingga dini hari, tetapi pemuda di dalamnya begadang hanya untuk menenggelamkan diri dalam pusaran algoritma yang mencacah perhatian menjadi kepingan-kepingan tak bermakna. Malam tak lagi menjadi ruang kontemplasi atau tempat menyalakan lentera akal budi. Mata pemuda tetap terjaga menatap layar, sementara pikiran tertidur lelap tanpa pernah tersentuh oleh satu pun percikan gagasan yang bernas.
Kekosongan Epistemologis dan Miskinnya Nalar
Gejala ini berpangkal pada nalar yang kian terbiasa mencerna serpihan teks cepat saji dan alergi terhadap keheningan membaca buku. Laku membaca sejatinya menuntut kesabaran menelusuri alinea demi alinea, menahan godaan untuk melompat, serta membiasakan diri menghadapi argumen yang rumit dan berlapis. Ketika buku-buku tebal ditinggalkan dan sekadar dianggap pajangan antik, pemuda mengidap ketidaksabaran, lekas bosan pada uraian panjang, mudah menyimpulkan persoalan pelik hanya dari judul berita, dan mengira telah memahami dunia berbekal ringkasan beberapa detik.
Seiring surutnya gairah membaca, laku menulis pun perlahan mati suri dan kehilangan martabatnya sebagai sarana penertiban pikiran. Padahal, menulis catatan atau esai reflektif sejatinya adalah upaya mendisiplinkan isi kepala yang berserakan agar mewujud menjadi bangunan pengertian yang tertata. Ketika tradisi mencatat dan mengarang ini lenyap, yang tersisa dalam ruang publik kita hanyalah lontaran komentar reaktif yang dangkal, emosional, dan kerap kali tergelincir dari sinisme yang satu ke sinisme lainnya.
Ketiadaan laku membaca dan menulis ini pada akhirnya melahirkan kekosongan epistemologis di kalangan generasi muda. Tanpa sandaran buku dan rujukan pustaka yang kokoh, pikiran menjadi rumah kosong yang mudah disusupi oleh pepesan kosong, hoaks, serta histeria massa. Pikiran yang buta terhadap lintasan sejarah akan memandang setiap peristiwa remeh sebagai hal baru, mengulang kekeliruan masa lampau dengan penuh rasa percaya diri, dan pongah memamah prasangka seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak.
Kemiskinan literasi ini tampak nyata pula pada menyusutnya daya ungkap dan perbendaharaan kata dalam percakapan sehari-hari. Bahasa pemuda kian mengerut menjadi singkatan-singkatan fungsional, istilah gaul yang seragam, dan emotikon bisu yang miskin nuansa. Ketika kata-kata puitis dari Rustam Effendi atau pembedahan psikologis yang teliti dari Mochtar Lubis tak lagi dikenal, manusia kehilangan perkakas untuk mengenali rasa takut, cinta, keadilan, dan luka batinnya secara jernih. Nyatanya, ketidakmampuan berbahasa selalu bermuara pada pendangkalan dalam menghayati hidup.
Baca juga: Hari Santri dan Perlawanan Sunyi Penjaga Ayat di Pelosok
Ikhtiar Menyambung Kembali Percakapan
Lebih dari itu, bayangan masa depan terasa kian mencemaskan manakala kita membayangkan peradaban ini kelak diserahkan kepada para pemimpin yang tak pernah bersahabat dengan buku. Apa yang bisa diharapkan dari para pengambil kebijakan yang nalar berpikirnya tidak terstruktur, yang tak pernah meluangkan waktu menelaah fiksi untuk mengasah empati, atau membaca risalah pemikiran untuk menguji prinsip moralnya? Masa depan di tangan nalar yang dangkal hanyalah deretan angka-angka mekanis tanpa sandaran, yang mudah limbung ketika dihantam badai krisis kemanusiaan.
Menengok kembali roman Balai Pustaka dan sastra Angkatan ’45 kudu diniatkan menjadi ikhtiar menyambung kembali tali percakapan yang sempat putus dengan para pendahulu. Dari lembaran-lembaran masa lalu itu, kita belajar bahwa republik ini dirancang, diperdebatkan, dan dipertahankan lewat goresan pena, kejernihan argumentasi, dan kesetiaan pada aksara di meja-meja kerja yang bersahaja.
Tugas pemuda hari ini barangkali tak lagi menenteng senapan karaben di pematang sawah sebagaimana yang dipotret oleh Chairil Anwar di masa revolusi. Namun, panggilan untuk “menjaga malam” tetap ada dan menuntut kesungguhan yang sama beratnya, yakni dengan mematikan sejenak pendar layar yang memperdaya, menarik kursi ke dekat jendela, menyalakan lampu belajar, dan mulai membaca halaman demi halaman buku dengan hening. Karena di sanalah, di atas lembaran kertas yang dibaca dan dituliskan dengan sabar, nasib peradaban dijaga agar tidak runtuh ditelan nalar yang tunaaksara.
Yogyakarta, 26 Oktober 2026
(2 hari menuju peringatan Sumpah Pemuda)
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













