Pasar Wit-Witan, Destinasi baru Wisata Kuliner Tradisional di Banyuwangi

Pasar Wit-Witan Banyuwangi

Milenianews.com, Banyuwangi – Setelah Arabian Street Food (Arasfo), Banyuwangi terus menambah tempat-tempat menarik dengan menjadikan kota wisata untuk mengembangkan ekonomi daerah tersebut.

Bahkan tempat ini menjadi ikon kuliner di Banyuwangi yang bisa dituju wisatawan, yakni Pasar Wit-Witan yang terletak di Desa Alasmalang, Kacamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Di pasar tersebut tersedia banyak jajanan kuliner tradisional, termasuk makanan khas Singojuruh, Geseng bangsong atau Itik jantan. Geseng bangsong sendiri menjadi makanan khas yang khusus disajikan saat perayaan-perayaan keagaaman, seperti Maulid Nabi, Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha.

Baca Juga : KBRI Lisbon Gelar Festival Gastronomi Asia untuk Kenalkan Kuliner Asia

Pasar Wit-Witan sendiri buka setiap Ahad padi, dari pukul 06.00 – 10.00 WIB. Selain geseng bangsong, banyak juga makanan tradisional lainnya, seperti rawon alas, sego cawuk, tiwul, gatot dan lainnya.

Selain itu, minuman khas yang menjadi jajanan tradisionl sehari-hari ada disini, mulai es cendol, dawet dan minuman lainnya. Namun, ada hal unik yang ditampilkan di sini. Ya, para pedagangnya yang diwajibkan mengenakan pakaian adat khas masyarakat Using Banyuwangi.

Ditambah lagi, para pedagang berkomitmen untuk tidak menggunakan plastik dalam penyajian dagangannya. Melainkan menggunakan daun pisang sampai tempurung kelapa.

Suasana jadul dan sejuk pun terasa saat menyantap makanan di pasar ini. Tempatnya yang berada di kawasan hutan kecil penuh dengan pohon rindang, tempat duduk dari bangku bambu dan sendok yang digunakan dari kayu, semakin menambah nuansa jadulnya.

Pasar ini selalu ramai didatangi ratusan wisatawan, kondisi tersebut juga memberi berkah bagi para pedagang yang merupakan warga setempat.

Lamhatin, seorang pedagang geseng entok, memiliki usaha warung Geseng Mbak Tin, mengaku bisa mendapat keuntungan lebih tinggi saat berjualan disini.

“Kalau jualan di rumah, saya biasanya habis 6-7 ekor entok per hari. Namun di Pasar Wit-Witan ini, saya bisa masak hingga 24 ekor entok. Itupun dua jam saja sudah ludes. Alhamdulillah,” kata Tin, sapaan akrabnya, dikutip Tempo. Ahad (3/11).

Kembangkan di Kecamatan lain

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar saat mengunjungi pasar Wit-Witan juga tak ketinggalan menjajal salah satu kuliner khas Banyuwangi, terutama Geseng Bangsong.

Baca Juga : Seniman Jalanan Jogja Sambut Pelantikan Presiden Dengan Pentas Budaya

“Nikmat sekali rasanya. Rasa pedas bercampur asam dari daun wadung yang menjadi campuran bumbunya sungguh nikmat,” ujar Anas.

Ia pun mengapresiasi langkah masyarakat desa yang mendukung pariwisata daerahnya sendiri. “Ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.

“Kami pun terus mendorong agar ke depan setiap kecamatan bisa memiliki satu pasar tradisional yang menjual kuliner khas dan menampilkan kesenian daerah setempat.” (Ikok)

Sumber : Tempo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *