Cara Paling Valid Mengenal Bumi Sriwijaya, Naik Getek dan Makan Pindang Bergoyang di Bawah Ampera

sungai musi

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Karakter wisata sebuah kota sering kali bisa dipahami melalui jalan rayanya, seperti Malioboro di Yogyakarta. Ada pula yang dikenali lewat kawasan kota lama seperti di Semarang, pasar batik di Pekalongan, kekayaan kuliner di Padang, atau jejak sejarah di Salatiga. Namun, Palembang menawarkan cara yang sedikit berbeda; untuk benar-benar mengenal kota ini, kita harus menuju ke sungainya.

Jika datang ke Palembang, jangan terburu-buru mencari pusat kota atau sekadar berburu pempek kapal selam. Pergilah menyapa nadinya: Sungai Musi.

Di Sungai Musi, sejarah Palembang mengalir. Sejak dahulu kala, di sanalah perahu-perahu berlabuh membawa barang dagangan, manusia, sekaligus ragam budaya. Laksamana Cheng Ho maupun Mahaguru I Ching tercatat memasuki wilayah ini melalui jalur Sungai Musi. Di sungai inilah denyut perdagangan tumbuh; hasil bumi dari pedalaman bersinggungan dengan gerabah, keramik, gula, dan garam yang melintas di perairannya. Pertemuan ini saling memengaruhi dan membentuk identitas budaya Palembang. Pempek dan kain songket adalah contoh nyata dari asimilasi tersebut.

Hingga hari ini, Musi masih setia membelah Palembang layaknya di masa lalu, memisahkannya menjadi kawasan Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Di tengah-tengahnya, aliran Musi terus hadir menghidupkan kota, menyambung napas peradaban sejak berabad-abad lalu hingga sekarang.

Baca juga: Idulfitri dan Nasi Minyak, Saat Palembang Menyajikan yang Terbaik

Saya mencoba menyelami Palembang lebih dalam melalui jalur air, bukan dari pusat perbelanjaan atau jalan raya. Saya duduk di atas perahu kecil bermesin berkapasitas enam orang yang kali ini saya sewa khusus untuk diri sendiri, agar lebih leluasa mengamati denyut kehidupan tepian Musi. Dari atas perahu, kota ini perlahan membuka wajah aslinya. Rumah-rumah tua, dermaga, perkampungan, dan keseharian masyarakat menjelma menjadi potongan-potongan cerita yang tersembunyi di balik hiruk-pikuk kota.

Membelah Musi dengan Getek Menuju Seberang Ulu

getek

Dari Dermaga Benteng Kuto Besak, perahu yang saya tumpangi mulai membelah permukaan air, bergoyang pelan mengikuti arus. Sungai Musi mengalir lebar, memantulkan warna langit dan bayangan bangunan di tepi seberang. Berada di tengah sungai memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan menyusuri jalan utama kota. Jembatan Ampera berdiri gagah tak jauh dari hadapan, membentang bak pintu gerbang raksasa yang menyatukan kedua sisi kota.

Perahu yang saya tumpangi ini disebut getek dalam bahasa lokal. Alih-alih melintas di bawah jembatan, perahu kami menyeberang sejajar dengan struktur merah tersebut. Menyeberangi sungai dengan cara ini membuat saya merasa seolah menjadi penduduk di era Kesultanan Palembang. Pada masa itu, sungai adalah jalan utama tempat hasil bumi, manusia, dan berbagai gagasan bergerak bebas. Kedua tepi sungai pun berkembang dengan karakter dan sejarah yang berbeda, meski tetap saling bergantung.

Perahu hampir merapat ke tepian Seberang Ulu. Rumah-rumah dan dermaga kecil tempat perahu ditambatkan tampak semakin jelas. Aktivitas warga mulai tertangkap mata; ada yang sedang memperbaiki perahu, melintas di dermaga, anak-anak yang berlarian, hingga para tukang perahu yang asyik bercakap-cakap sembari menunggu penumpang. Meski Palembang telah berevolusi menjadi kota modern, ritme kehidupan masyarakat tepian di Seberang Ulu seolah tak lekang oleh waktu. Ini adalah budaya tua di mana sungai selalu diperlakukan sebagai halaman depan rumah.

Perahu merapat di Kampung Kapitan. Saya turun di salah satu dermaga kayu yang biasa digunakan sebagai akses naik-turun penumpang. Kampung Kapitan berlokasi di kawasan 7 Ulu Palembang, tepat di seberang Benteng Kuto Besak dan tidak jauh dari Jembatan Ampera. Nama “Kapitan” sendiri berasal dari gelar yang diberikan oleh penguasa kolonial Belanda kepada pemimpin komunitas Tionghoa pada masa lampau.

Kampung Kapitan: Saksi Bisu Tumbuhnya Budaya Peranakankampung kapitan

Kampung Kapitan dikenal sebagai salah satu jejak historis terpenting komunitas Tionghoa di Palembang. Rumah-rumah tua di kampung ini menyimpan berlapis cerita tentang jejaring perdagangan, struktur kekuasaan, asimilasi perkawinan, serta budaya peranakan yang tumbuh subur di sepanjang tepian Musi.

Kompleks rumah panggung di Kampung Kapitan memperlihatkan perpaduan unik antara arsitektur Tionghoa, Palembang, dan Melayu, lengkap dengan sentuhan gaya kolonial. Kawasan ini menjadi bukti fisik bahwa etnis Tionghoa bukanlah sekadar pendatang, melainkan bagian integral dari sejarah perdagangan, budaya, dan kehidupan Palembang sejak masa lampau.

Saya mulai melangkah melewati deretan rumah bernuansa Tionghoa yang kental. Beberapa ukiran kayu yang catnya telah memudar masih setia menyimbolkan filosofi budaya leluhur. Tampak pula lampion-lampion tua yang tak lagi terpakai namun masih dibiarkan menggantung di teras. Dari balik pintu yang terbuka, terlihat sebuah lemari khas Palembang yang dipercantik dengan ukiran Tionghoa, berdiri kokoh di tengah ruangan.

Saat berkeliling, saya masih bisa menemukan simbol-simbol Tionghoa murni seperti relief naga dan burung phoenix di sekitar altar sembahyang. Pengaruh ini juga terlihat jelas pada cermin segi delapan (ba gua) yang dipasang di atas pintu depan, serta pada meja marmer di teras yang penyangga kayunya sarat dengan estetika ukiran Tionghoa. Jika berjalan pelan dan sesekali berhenti untuk memperhatikan detail, identitas Tionghoa peranakan itu akan terasa semakin kuat. Pada bangunan rumah yang lebih besar—mungkin milik saudagar kaya di masa lalu—pintu, jendela, dan dinding kayunya dihiasi ornamen flora serta ukiran kaligrafi Tionghoa yang berpadu serasi dengan elemen tradisional Palembang.

Di sekeliling kampung, tampak penghuni yang sedang bersantai di teras, berjalan dengan pasangan, atau anak-anak yang asyik bermain di selasar kayu. Sebagian dari mereka memiliki paras lokal Palembang dengan sentuhan Asia Timur berkulit cerah, sebuah tampilan fisik yang mempertegas jejak asimilasi sejarah Tionghoa di kawasan ini.

Menariknya, sejarah dan budaya ini sama sekali tidak terasa berjarak atau asing. Kekayaan budaya tersebut melebur dalam bentuk arsitektur rumah, tata ruang kampung, tempat ibadah, dan tentu saja, hadir di atas meja makan. Pempek, kuliner kebanggaan Palembang, konon lahir dari inovasi pedagang keturunan Tionghoa yang berjualan keliling pada masa itu. Hidangan lain seperti tekwan, celimpungan, laksan, hingga laksa merupakan produk hibrida budaya peranakan. Nuansa serupa yang ada di Kampung Kapitan ini sebenarnya juga bisa ditemui di Kepulauan Riau, Penang, hingga Kota Melaka.

Saya berjalan perlahan, membayangkan bagaimana kawasan ini dulunya sangat bergantung pada aliran air. Dari letaknya, terlihat jelas bahwa Sungai Musi memang diperlakukan sebagai halaman depan rumah-rumah di Kampung Kapitan. Sungai Musi adalah urat nadi sekaligus jalan utama, sementara Kampung Kapitan menjadi ruang persinggungan tempat bertemunya berbagai peradaban.

Baca juga: Pempek di Kampung Pempek: Menghirup Identitas Palembang dari Mangkok Cuko

Menyantap Pindang di Warung Terapung, Meresapi Napas Sungai Musi

restoran terapung

Dari dermaga, saya melangkah masuk menuju sebuah kapal kayu yang pada lambungnya tertulis jelas: “Warung Terapung Mbok War”. Ukurannya cukup besar untuk sebuah kapal kayu, dengan lebar sekitar 5 meter dan panjang mencapai 15 meter. Kapal ini ditambatkan dengan kokoh di tepi Musi, tepat di bawah bayang-bayang Jembatan Ampera.

Ruang penumpangnya disulap menjadi area makan; ada deretan meja yang menghadap ke luar jendela, di bagian tengah lambung, hingga di area buritan yang menghadap lepas ke perairan. Setiap kali ada kapal cepat yang melintas, warung terapung ini akan bergoyang lembut mengikuti irama gelombang ombak.

Bagian depan kapal difungsikan sebagai area persiapan, lengkap dengan dapur kecil dan etalase kaca yang memamerkan hidangan. Sama seperti warung terapung lainnya di kawasan ini, etalasenya didominasi oleh kuliner berat khas Palembang dengan menu utama aneka ragam ikan goreng dan gulai pindang. Tersedia pindang ikan patin, baung, gabus, udang, hingga pindang tulang sapi. Semuanya disajikan lengkap dengan sayur lalapan khas Palembang yang direbus. Sebagai pendamping, ada sayur kacang panjang, tumis tauge, oseng buncis, potongan petai segar, dan tentu saja, dua jenis racikan sambal yang menggugah selera.

Keistimewaan bersantap di sini bukanlah pada kemewahan atau tata ruang yang serba tertata, melainkan pada pengalaman dan sensasinya. Menikmati hangatnya kuah pindang dan nasi putih sembari merasakan lantai kapal yang beralun lembut memberikan kenikmatan tersendiri. Terlebih lagi, Jembatan Ampera menjulang megah tepat di atas kepala, sementara perairan Musi beserta perahu-perahu getek yang lalu-lalang menjadi sajian visual utamanya. Lewat sungai inilah, Palembang membuktikan dirinya sebagai kota wisata sejarah yang sungguh berbeda dan berkesan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *