Empat Kota dan Tiga Masa, Merajut Memori Perjalanan di Negeri Jiran

kota-kota malaysia

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Malaysia adalah negara tetangga yang cukup sering saya kunjungi. Kadang saya masuk langsung ke Kuala Lumpur, melalui Penang, menyinggahi Melaka, dan hari ini saya menuju Johor Bahru menumpang bus dari Singapura. Seingat saya, pada tahun 1992 saya pertama kali menginjakkan kaki ke Johor Bahru, yang saat itu juga ditempuh dengan naik bus.

Perjalanan kali ini dimulai dengan cara sederhana yang sudah biasa, yakni menyeberang dari Singapura. Karena berangkat pagi hari, bus terisi penuh namun tidak sampai sesak. Suasana di dalam bus mengalir seperti ritme kehidupan sehari-hari. Penumpangnya tampak membaur, hampir tak bisa dibedakan mana warga Singapura dan mana orang Malaysia. Jalan raya yang menghubungkan dua negara tetangga ini hanya dipisahkan oleh sebuah jembatan membentang di Selat Johor yang sempit.

Masuk ke wilayah Johor, terdapat sedikit antrean di bagian imigrasi, tetapi semua proses berlalu dengan lancar. Perjalanan ke Malaysia kali ini memang tidak dimulai dari kemegahan bandara, melainkan dari gerbang perbatasan. Johor Bahru menjadi halaman pertama dalam buku perjalanan ini, sebelum saya melanjutkan langkah ke Kota Melaka.

Baca juga: Melaka, Kota Persilangan Sejarah dan Budaya Peranakan

Menginjak pusat kota Johor Bahru terasa seperti berada di ruang pertemuan berbagai arus manusia. Para pekerja lintas batas Singapura-Malaysia yang melintas setiap hari, wisatawan Indonesia dan mancanegara, serta masyarakat lokal tumpah ruah di kawasan komersial pertokoan ini. Downtown ini terus bersolek. Arus lalu lintas pun ikut menyesuaikan karena banyaknya jalan layang baru yang dibangun. Sementara itu, kawasan kuliner yang dulu persis berada di depan pintu keluar imigrasi kini sudah bergeser melebar dan menjauh. Tiga tahun tidak singgah ke sini cukup membuat saya merasa pangling.

Johor Bahru sebenarnya bukanlah tujuan utama; saya singgah sekadar untuk menuntaskan rindu pada suasana downtown-nya yang kaya akan variasi kuliner dan dipenuhi pekerja asal Indonesia. Meski wajah kotanya sudah berubah, saya tetap bisa menyesap rasa khas kuliner pusat kota ini. Tipe rumah makannya tak banyak berubah, hanya saja lokasinya kini menuntut saya untuk berjalan kaki sedikit lebih jauh.

Saya memesan laksa johor yang khas, dengan kuah ikan yang kaya rempah dan tekstur mi laksanya yang tebal menyerupai spageti, bukan mi beras pada umumnya. Tak lupa, saya mampir mencicipi sajian manis khas Johor, yakni bubur cha-cha. Berkuah santan legit, isiannya meriah dengan pisang, ubi, sagu mutiara, dan potongan manis lainnya—mungkin hidangan ini masih memiliki pertalian saudara sepupu dengan bubur kampiun.

Karena ingin melanjutkan perjalanan ke Kota Melaka dengan bus, sebuah taksi membawa saya menuju Larkin Sentral, terminal bus utama di Johor Bahru. Bentuk dasar terminal ini tidak banyak mengalami perombakan, tetap besar dan bersih. Usai membayar tiket, saya langsung bergegas menuju area keberangkatan bus antarkota. Meski penumpangnya ramai, armada bus yang tersedia sangat memadai, sehingga saya masih dengan mudah mendapatkan tiket bus kelas eksekutif menuju Melaka.

Saya menukarkan tiket dengan boarding pass di lajur bus yang akan saya tumpangi. Suasana di sekitarnya sibuk dan ramai, namun tetap tertib dan sama sekali tidak berisik; tidak terdengar ada yang berteriak ataupun suara klakson yang memekakkan telinga. Penumpang hilir mudik membawa koper dan tas perjalanan berbagai ukuran, dan menariknya, saya tidak melihat satu pun penumpang yang menggunakan kardus sebagai wadah barang. Dari ruang tunggu keberangkatan, saya melihat bus datang dan pergi silih berganti, hingga akhirnya bus yang akan membawa saya ke Melaka pun tiba.

Larkin Sentral perlahan tertinggal, disusul Johor Bahru yang makin menjauh di belakang. Perjalanan menuju Melaka resmi dimulai. Setelah melewati deretan gedung tinggi dan padatnya lalu lintas kota, bus memasuki gerbang tol dan meluncur cepat meninggalkan kawasan urban. Di kiri dan kanan jalan, pemandangan berganti menyajikan hamparan ladang, perkebunan hijau, tanah kosong, dan sesekali membelah permukiman desa—sebuah pengingat visual bahwa Malaysia adalah negara dengan jumlah penduduk yang cukup padat.

Ke Kuching, Menyusuri Perbatasan dari Pontianak

kota kuching

Duduk di dalam bus, lamunan saya melayang ke perjalanan tahun 2017 silam, dari Pontianak, Indonesia, menuju Kuching di Sarawak, Malaysia. Perjalanan darat itu melewati Entikong, kota perbatasan yang masih berada di wilayah Indonesia, dan Tebedu, kota perbatasan di sisi Malaysia. Begitu melewati pos perbatasan, suasana jalan perlahan berubah, meski secara geografis masih berada di hamparan Pulau Kalimantan yang sama. Tidak ada transisi lanskap yang mengejutkan; desa dan perkebunan tetap silih berganti, bedanya permukiman di wilayah Sarawak tampak lebih banyak.

Semakin mendekati Kota Kuching, volume lalu lintas mulai meningkat. Permukiman warga terlihat lebih rapat dan fasilitas perkotaan mulai tampak mendominasi. Perjalanan yang awalnya dipenuhi oleh pemandangan hijau alam, perlahan bersalin rupa menjadi ingar-bingar suasana kota.

Tahun 2017 itu, saya menjejakkan kaki di Kuching, sebuah kota yang sejak dulu telah menjadi poros perdagangan sekaligus pusat pemerintahan Sarawak. Saya memang sangat ingin kembali mengunjunginya, terutama setelah melihat di media sosial tentang banyaknya perubahan pada wajah waterfront, peningkatan konektivitas, serta ambisi besar mereka untuk menjadikan Kuching sebagai pusat wisata unggulan.

Kala itu, waterfront Kota Kuching baru saja bersolek dengan dibukanya Jembatan Darul Hana. Jembatan pedestrian megah sepanjang 335 meter itu menghubungkan kawasan tepi sungai dengan sisi utara Sungai Sarawak. Kini, kawasan sungai tersebut makin diposisikan sebagai koridor wisata utama dan ruang publik yang hidup. Secara fisik, area ini mungkin belum berubah drastis, mengingat rencana pembangunan waterfront baru sepanjang 4,8 kilometer baru akan dieksekusi pada tahun 2027 mendatang.

Kuching sangat gigih mempertahankan bangunan dan lanskap kawasan lamanya agar tidak berubah. Namun, ada semangat baru yang menyala untuk mengubah status kota wisata sejarah ini menjadi kota heritage yang konsep dan benang merah sejarahnya dilestarikan dengan lebih terarah. Jika delapan tahun lalu Kuching hanyalah sebuah kota tua yang tenang, foto-foto masa kini menunjukkan ruang heritage yang makin dikembangkan untuk menawarkan pengalaman wisata yang matang.

Melaka dan Kinabalu, Dua Kota Serumpun di Tepi Laut

Bus yang saya tumpangi dari Johor Bahru akhirnya memasuki batas Kota Melaka, menandakan saya sudah menempuh perjalanan darat lebih dari tiga jam—dan sempat tertidur cukup lama di jalan. Setibanya di sana dan turun di terminal Melaka Sentral, saya langsung menyetop taksi menuju Dutch Square. Ini adalah kawasan paling ikonik yang menjadi episentrum wisata Melaka. Pusat bersejarah ini juga dikenal dengan sebutan Red Square, karena seluruh bangunan utama di sekitarnya didominasi oleh warna merah bata yang mencolok.

Saya melangkah masuk ke Kafe Stadthuys dan memesan secangkir coffee latte. Sembari menatap gelas kopi dan menunggunya sedikit dingin, pikiran saya kembali menerawang jauh ke tahun 2012. Kali ini menuju sebuah kota di Malaysia yang lokasinya jauh dari Kuching, yakni Kota Kinabalu. Berada di Sabah, wilayah paling timur Malaysia, kota ini berlatarkan kemegahan Gunung Kinabalu. Ia adalah pintu gerbang menuju Sabah, sebuah kota pesisir yang menjadi muara budaya Borneo.

Kota Melaka dan Kinabalu memiliki satu kesamaan magis: keduanya sama-sama menghadap ke laut lepas. Melaka bersandar pada Selat Melaka yang legendaris, sementara Kinabalu menatap luasnya Laut Cina Selatan. Kedua kota ini memfungsikan laut sebagai denyut nadi kehidupan, baik dari kacamata sejarah masa lalu maupun sebagai sumber mata pencaharian penduduknya di masa kini. Keduanya sama-sama memiliki jejak panjang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan.

Baca juga: Menembus Bukit Kapur Lembah Kinta Demi Segelas Kopi Putih dan Stasiun Tua Ipoh

Sebagai kota multietnis, kita bisa dengan mudah menemukan komunitas Melayu, Tionghoa, India, serta etnis lokal yang membaur di kedua kota tersebut. Selain itu, keduanya juga menyimpan jejak peninggalan kolonial yang pekat. Melaka memiliki warisan arsitektur Portugis, Belanda, dan Inggris yang sangat kuat. Di sisi lain, Kinabalu lebih banyak memperlihatkan sisa-sisa era British North Borneo serta sejarah perkembangan kota pasca-Perang Dunia II. Keduanya sangat mahir menggabungkan memori sejarah masa lalu dengan denyut kehidupan modern dalam mengembangkan industri pariwisatanya.

Gelas kopi saya sudah tandas. Saya beranjak meninggalkan kafe dan mulai berjalan kaki berkeliling. Red Square dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah yang pernah menjadi saksi bisu pergantian kekuasaan di Melaka. Gedung Stadthuys berdiri megah memamerkan arsitektur khas Belanda, berdampingan dengan Christ Church dan Menara Jam Tan Beng Swee. Roda industri pariwisata di kota ini terus berputar ramai; terlihat rombongan wisatawan berjalan kaki menelusuri sudut kota, toko-toko suvenir yang tak pernah sepi pembeli, hingga deretan restoran yang terus mengepulkan asap dapur.

Perjalanan dari Johor Bahru ke Melaka membuat saya menyimpulkan bahwa keduanya memancarkan warna yang sangat berbeda. Johor Bahru memperlihatkan wajah Malaysia yang dinamis, sibuk, dan modern. Sementara itu, Melaka seolah mengajak kita untuk berhenti sejenak, duduk tenang, dan mendengarkan cerita masa lalu. Dan, bangkitnya memori singkat saya tentang Kota Kuching dan Kota Kinabalu sukses memantik rasa rindu. Sepertinya, saya memang perlu segera merencanakan perjalanan kembali ke Sarawak dan Sabah.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *