Harmoni Komunitas di Bronx dan Pertumbuhan Komunitas Muslim di Tengah Kerasnya Kota

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Di sudut Bronx, Kota New York, dinding-dinding kota berbicara melalui grafiti—coretan nama, simbol, dan warna yang menjadi jejak kehidupan jalanan. Grafiti hadir di persimpangan jalan, di stasiun bawah tanah, deretan bangunan, hingga di antara bangkai-bangkai bus yang tak terurus. Sebuah penampakan kehidupan kota yang keras.

Sementara itu, ketika keluar dari Stasiun Bronx Park East, kita akan bertemu dengan Bronx Muslim Center—sebuah ruang jeda di mana kita bertemu dengan lingkungan yang tenang untuk beribadah serta menemukan kebersamaan.

Dua ekspresi Bronx berada dalam satu ruang kota. Bukti bahwa Bronx bukan hanya tentang kerasnya kehidupan urban, melainkan juga tentang identitas, iman, perjuangan, dan rasa memiliki.

Baca juga: Eksplorasi Islamic Cultural Center New York dan Perkembangan Budaya Islam di Pusat Manhattan

Saya tiba di stasiun Bronx 181st Street. Saya turun dari kereta arah utara. Sisi ini sepi, hanya ada dua orang yang turun dan tidak ada penumpang yang naik. Sementara di sisi seberang arah ke downtown, terdapat beberapa orang menunggu yang tampaknya hendak berangkat ke kantor. Belum padat dan belum ada antrean karena hari masih pagi. Saya melangkah keluar melewati koridor dengan kios-kios yang belum buka serta kios petugas stasiun yang tampak kosong.

Melangkah naik tangga menuju keluar, saya seolah memasuki sisi kota yang mungkin tidak pernah muncul dalam kartu pos Manhattan, New York. Sampai di luar hari belum terang dan masih temaram. Toko-toko semuanya masih tutup, tidak terlihat pendar cahaya toko yang buka 24 jam. Di jalanan, mobil-mobil melaju cepat. Ada dua orang berjalan di trotoar secara terpisah; keduanya langsung masuk ke stasiun secara tergesa-gesa, meninggalkan saya sendiri lagi.

Wajah Bronx Seperti di Film-Film

suasana bronx

Di hadapan saya di luar stasiun, bukanlah New York yang gemerlap berkilau seperti di downtown. Ini adalah wajah kota yang tampak kasar dan apa adanya. Dinding-dinding toko dan rolling door dipenuhi grafiti di mana hampir semua bangunan tampak kusam. Di persimpangan jalan pada dua sisi, ada minibus tua dan sebuah sedan terbengkalai dengan cat mengelupas serta bodi dipenuhi grafiti. Di seberang juga sama, terdapat satu bus yang tampaknya sudah bertahun-tahun tidak diurus.

Lampu jalan masih menyala menerangi trotoar yang masih temaram. Ada beberapa orang lagi berjalan di trotoar yang semuanya melangkah cepat. Mungkin kebetulan atau mungkin memang lingkungan tempat tinggalnya, mereka semua adalah orang berkulit berwarna. Dari stasiun tadi tidak terlihat warga berkulit putih. Bak sampah berdiri di tepi jalan dekat tiang listrik; tampak kokoh dengan tutup terbuka dan isinya penuh hingga tumpah berceceran di trotoar karena sampah yang ringan tertiup angin.

Saya berjalan agak menjauh dan berbelok di persimpangan jalan, namun pemandangannya tetap sama: rolling door kusam, ban mobil, serta drum tergeletak begitu saja di trotoar. Kantong sampah menumpuk di sekitar bak sampah. Ada kios yang memasang pagar namun tetap tampak kusam. Grafiti hadir di setiap ruang kosong—di mobil, bangku, pagar, apalagi dinding. Ada yang berupa tulisan nama atau tanda, ada pula yang sekadar memenuhi dinding dengan warna-warna mencolok.

Saya melihatnya sebagai coretan semata, tetapi ada pula yang mengakui grafiti kota sebagai karya seni. Saya memandangnya sebagai bahasa jalanan—tempat seseorang atau sekelompok orang meninggalkan jejak, identitas, atau keberadaannya di tengah kota besar. Dinding-dinding Bronx di 181st Street ini seakan menyimpan artefak orang yang datang dan pergi. Mereka yang pernah ke sini seolah ingin menyampaikan bahwa “saya pernah di sini”.

Saya memang sengaja datang ke sini setelah mencari informasi dari media sosial. Saya menyadari bahwa perjalanan ke sini bukanlah kunjungan ke tempat yang indah, teratur, dan nyaman. Sudut kotor, bangkai mobil, serta grafiti kota saya lihat sebagai gambaran paling jujur dari sebuah kota. Bronx adalah ruang hidup bagi banyak orang yang menyajikan kehidupan tanpa polesan: keras, padat, heboh, penuh warna, dan berkarakter.

Area Pemukiman dan Komersial Halal yang Lembut

trotoar

Ini Stasiun Bronx Park East, bukanlah stasiun bawah tanah melainkan stasiun di atas tanah yang ditopang rangka baja. Saya turun dan berjalan kembali di permukaan kota, lalu menyeberang melewati jembatan rangka baja. Tidak banyak mobil melintas, kota terasa tenang dan bersih. Ada grafiti jalanan di bawah jembatan yang tampak lebih rapi, tidak tumpah tindih atau penuh coretan, sehingga dinding masih terlihat bentuk dasarnya.

Ini adalah area perkampungan muslim di Bronx. Di persimpangan sebelah sana, berdiri Bronx Muslim Center dan lingkungan komersial Islami. Saya melangkah ke arah sana sebagai bagian dari jelajah kota. Teringat akan kawasan 181st Street dan melihat area ini, saya sadar bahwa Bronx bukan hanya tentang hal yang keras dan kasar; Bronx juga bisa lembut. Area ini merupakan kawasan pemukiman di mana sebuah komunitas membangun kehidupan, menjaga keluarga, mendidik anak, serta beribadah untuk menjadi bagian dari kota dan kehidupan yang normal.

Lalu lintas mobil tidak padat tetapi cukup ramai. Saya menelusuri trotoar yang lebar, ramah, dan tidak semrawut mengikuti arah menuju MAS-UNY Bronx Muslim Center. Ini adalah pusat kegiatan muslim yang menjadi bagian dari MAS (Muslim American Society) New York. Bronx Muslim Center (BMC) fungsinya tidak sekadar tempat salat, melainkan lebih luas: di sini diselenggarakan sekolah Islam akhir pekan, kajian Al-Qur’an, tafsir, halaqah pemuda, hingga program khusus perempuan.

Tersedia pula layanan keluarga, bantuan zakat, dukungan bagi mualaf, bantuan sosial, serta rujukan sosial. Tak ketinggalan, di sini juga melayani penyediaan makanan halal serta membangun komunitas bersama—tempat komunitas imigran merasa berada di tengah keluarga sendiri.

BMC telah melayani komunitas muslim di Bronx sejak tahun 1998. Masjid yang saya datangi ini ukurannya kecil, hanya mampu menampung 175 jemaah. Alhamdulillaah, saat ini sedang dibangun pusat baru dengan kapasitas lebih dari 2.000 orang yang rencananya dilengkapi dengan ruang serbaguna dan ruang pendidikan.

Baca juga: Queens, Oase Multikultural Sedunia dan Transformasi Sepotong New York yang Hangat

Titik Bronx yang Sedang Menulis Kisahnya Sendiri

area muslim center

Bronx Muslim Center berada di persimpangan Rhinelander Avenue dan White Plains Road. Ini adalah lingkungan yang dihuni banyak umat muslim. Menjelajah area ini membuat Islam dan kehidupan sehari-hari terasa menyatu. Saya melewati toko makanan halal, restoran Yaman, serta berbagai usaha yang melayani kebutuhan masyarakat muslim. Saya membaca papan nama Amana Market & Meat Grocery, Arth Al-Janatain, hingga restoran Yaman. Secara informal, kawasan ini dikenal sebagai “Little Yemen”.

Sebutan “Yemen” lebih merujuk pada istilah warga setempat untuk menggambarkan tempat berkumpul etnis Arab, mungkin juga karena restoran yang pertama kali dibuka atau yang populer membawa nama Yaman. Kenyataan yang berkembang pada awalnya bukanlah sekadar enklave Yaman, melainkan para pendatang keturunan Timur Tengah yang bermukim di sini. Mereka membawa makanan, bahasa, tradisi, serta budaya dari tanah asal, termasuk mendirikan masjid. Namun, masyarakat keturunan Yaman memang banyak membuka usaha restoran, minimarket, jasa, serta usaha lainnya karena mereka adalah kaum pedagang sejak dahulu.

Di tengah Bronx yang terkenal dengan persepsi lingkungan yang keras, tumbuhlah sebuah lingkungan yang memiliki identitasnya sendiri. Selain keberadaan mobil tua, bak sampah, dan grafiti kota, lahir pemandangan yang berbeda: lingkungan muslim tumbuh dengan alurnya sendiri. Masjid menjadi jantungnya, sementara toko halal, restoran, dan komunitas muslim menjadi bagian dari denyut nadinya.

Saya berdiri di depan Bronx Muslim Center sambil menyadari bahwa perjalanan ke sini serasa berpindah dari satu wajah New York ke wajah lainnya. Bronx di sudut ini sedang menulis kisahnya sendiri.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *