Keajaiban Gugusan Karst Halong Bay dan Catatan Perjalanan Menyusuri Lautan Vietnam Utara

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Pernah dua kali berkunjung ke Kota Ho Chi Minh dan kali ini berkeliling Hanoi menghadirkan wajah Vietnam yang berbeda. Ho Chi Minh yang dulu disebut Saigon merupakan kota modern yang penuh dengan gedung tinggi, pusat perdagangan, restoran, kafe, dan keramaian yang tak pernah berhenti. Di Ho Chi Minh, pengaruh Prancis, Amerika, dan kehidupan metropolitan berpadu dalam satu kota. Energi pertumbuhan ekonominya sangat terasa, dengan pusat bisnis yang selalu ramai serta kehidupan malam yang semarak.

Hanoi adalah ibu kota negara tempat pusat pusaran politik berada. Kota ini mengabadikan kebudayaan tradisional, di mana jejak sejarah kolonial terasa dekat dalam keseharian. Warisan Tiongkok dan Prancis masih bisa dilihat di Hanoi. Kawasan Old Quarter, kuil-kuil, Danau Hoan Kiem, serta bangunan kolonial masih banyak bertebaran di kota ini. Di sini kita masih bisa melihat warga berolahraga bersama di sekitar danau, menikmati masakan street food lokal, hingga menikmati kopi Vietnam di trotoar.

Ada satu destinasi lagi di Vietnam, yaitu Ha Long Bay—tujuan wisata yang memperlihatkan Vietnam dari sisi yang sama sekali berbeda, khususnya tentang pesona alamnya. Ha Long Bay bukanlah tempat yang sekadar dinikmati dari daratan. Daya tarik utamanya ada di laut dengan banyaknya pulau dan menara batu kapur yang seolah muncul dari permukaan air. Ini merupakan lanskap alam yang tidak ditemui di Hanoi maupun Ho Chi Minh. Ha Long Bay telah diakui sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO. Berwisata ke Ha Long berarti melihat inti penting dari pariwisata Vietnam.

Wisata ke Ha Long Bay bukan hanya tentang berlayar di laut atau sekadar melihat pulau. Daya tarik utamanya adalah berlayar menikmati laut, mengamati pulau-pulau kapur, menjelajah gua, dan tentu saja menikmati sajian kuliner. Mengunjungi Ha Long tidak sekadar datang ke sebuah objek wisata, berfoto, lalu pulang. Di sini kita berlayar di antara ratusan gugusan batu kapur yang menjulang dari laut. Rasanya mengayunkan perasaan ketika kapal bergerak perlahan di antara pulau-pulau yang bentuknya bermacam-macam dan tak pernah sama.

Baca juga: Ho Chi Minh dan Pesona Sungai Saigon di Malam Hari yang Tak Terlupakan

Perjalanan Menyusuri Lanskap Vietnam Utara

limusin

Limousine berhenti di depan hotel dengan tampilan bersih dan cukup mewah. Saya naik dan duduk di baris ketiga, sendiri dari tiga kursi yang ada. Van ini memiliki empat baris tempat duduk yang masing-masing berisi tiga kursi. Di depan di samping sopir ada dua penumpang, di baris kedua depan saya ada dua penumpang, dan di baris belakang ada dua penumpang. Dari sebelas tempat duduk, van diisi tujuh penumpang sehingga terasa cukup nyaman. Saya ternyata menjadi penumpang terakhir yang dijemput, karena setelah saya naik, van langsung meluncur ke luar kota.

Pagi hari di Old Quarter Hanoi masih tenang, walau jalanan kota yang sempit sudah mulai diramaikan lalu lalang sepeda motor. Kedai kopi dan warung sarapan sudah buka; ada yang masih kosong dan ada pula yang sudah dikerumuni pembeli. Pemandangan warga Hanoi di Old Quarter menjadi pengantar awal dari balik kaca mobil sebelum meninggalkan pusat kota.

Kami menempuh perjalanan sejauh 150 km menuju Halong Bay yang berada di sisi timur Kota Hanoi. Perjalanan melintasi jalan tol yang mulus. Saya membaca brosur yang tersedia mengenai perjalanan hari ini. Saya mengikuti tur Halong satu hari pulang-pergi. Perjalanan ini sangat menarik karena melewati lanskap pedesaan Vietnam Utara. Di sinilah dahulu para pejuang Vietcong berkumpul dan berlatih sebelum dikirim ke Vietnam Selatan. Van sempat berhenti di rest area di tengah perjalanan agar penumpang bisa ke toilet, dan saya menyempatkan diri membeli segelas kopi.

Pedesaan hijau mulai berganti dengan area perumahan dan perkotaan. Kami sudah memasuki kawasan Halong. Suasana kota wisata langsung terasa: jalan-jalan lurus tampak belum lama dibangun, hotel-hotel berdiri di pinggir jalan, bersanding dengan agen perjalanan, kapal wisata, rumah makan, serta kafe yang menanti pengunjung. Hari menjelang siang dan Kota Halong cukup ramai, tetapi tidak padat.

Kendaraan masuk ke kawasan pelabuhan yang sudah ramai. Ada banyak van seperti milik kami, dan lebih banyak lagi bus-bus wisata. Tur ke Halong datang dari berbagai kota di Vietnam, di mana sebagian besar peserta menggunakan bus, terutama untuk tur rombongan besar. Saya turun dan disambut oleh pemandu wisata, lalu melangkahi aula dan koridor menuju kapal. Di sepanjang jalur terdapat kios-kios yang menjual kebutuhan tur, camilan, serta oleh-oleh. Setelah tiket dan voucer diperiksa, kami menuju ke area keberangkatan. Perjalanan menikmati pedesaan Vietnam pun berganti menjadi petualangan di laut.

Panorama dari Dek Kapal dan Kemegahan Kota Batu Kapur

makanan di dek

Saya melangkah masuk ke dalam kapal dan langsung menuju area restoran yang memiliki interior modern dan rapi. Ruang makan ini cukup luas dengan meja-meja yang tersebar mengelilingi meja makanan buffet. Ada meja yang berada di sudut, di tepi menempel jendela kaca, hingga di area geladak ruang terbuka. Wisatawan juga bisa naik ke lantai dua yang dilengkapi jacuzzi outdoor. Dari sini pandangan ke arah depan dan sisi kapal terasa lebih lapang. Lantai atas merupakan area terbuka, tempat menikmati pemandangan bebas ke segala arah tanpa terhalang dinding kapal.

Saat kapal meninggalkan pelabuhan, para penumpang mulai menyebar ke berbagai sudut. Sebagian memilih duduk di dek terbuka merasakan terpaan angin laut, sedangkan sebagian lagi—termasuk saya—tetap duduk nyaman di ruang makan. Dari balik jendela kaca, pemandangan luar masih terlihat jelas. Para penumpang sibuk dengan kamera dan ponsel masing-masing, mengabadikan laut serta gugusan kars yang perlahan mulai terlihat membesar dan makin jelas.

Kapal bergerak dengan kecepatan perlahan, serasa tidak ada yang dikejar karena wisata ini memang berfokus mengelilingi area kars yang jumlahnya mencapai ratusan. Tengah hari sudah lewat dan penumpang dipersilakan menikmati makan siang secara buffet. Menu yang tersedia dibagi menjadi dua jenis, yaitu hidangan laut (seafood) dan vegetarian. Masakannya merupakan perpaduan antara kuliner Vietnam dan internasional. Saya memilih menu seafood dengan hidangan pembuka sup seafood yang mirip sup tom yam Thailand. Makanan utamanya berupa nasi dengan ikan asam manis, capcai, dan sapo. Sebagai penutup, tersedia buah-buahan segar, es krim, serta puding.

Makan siang bisa dinikmati secara perlahan sambil melihat ke luar jendela yang menampilkan bukit-bukit kars, kapal nelayan yang sedang mencari ikan, serta sesekali berpapasan dengan kapal wisata lain. Ada formasi yang tampak tinggi menjulang seperti batu menhir obelisk, ada yang melebar menyerupai pulau dengan puncak bukit yang rendah, dan ada pula sebaran acak pulau-pulau kecil di hamparan laut. Dari balik satu dua bukit yang muncul, terlihat gugusan lainnya di kejauhan seolah membentuk siluet batu kapur. Kapal terasa sedang memasuki sebuah kota batu yang berdiri tegak di atas laut.

Saya benar-benar tenggelam dalam lanskap khas Halong Bay yang merupakan situs Warisan Dunia UNESCO. Menurut data, area UNESCO ini mencakup wilayah seluas 65.650 hektar dengan 1.133 gugusan pulau besar, sedang, maupun kecil yang seolah muncul dari dalam laut dalam berbagai ukuran dan bentuk.

Baca juga: Hanoi, Kota Kolonial yang Menolak Luluh oleh Modernisasi

Pelajaran Syukur di Antara Keagungan Alam

pemandangan laut

Ada formasi batu yang runcing menyerupai kerucut sempurna, sementara yang lainnya berdiri hampir tegak lurus dengan dinding batu yang curam. Dari atas kapal, sangat menarik mengamati bagian kaki dari bukit-bukit kapur ini. Tidak semuanya tampak tenggelam begitu saja ke dalam laut. Jika diamati dengan teliti, di beberapa tempat terlihat celah dan ceruk yang sebenarnya merupakan mulut gua atau ruang yang bisa dimasuki. Bentuk garis kaki bukit serta celah dan ceruk tersebut merupakan hasil pengikisan air laut selama ribuan tahun.

Pandangan mata juga terasa segar karena meski berupa batu kapur, sebagian permukaannya tertutup oleh vegetasi hijau dan tumbuhan yang menempel di lereng. Perpaduan warna putih, abu-abu, dan hijau dari bukit, berpadu dengan birunya air laut dan langit, menciptakan pemandangan yang sangat mengesankan. Berada di sini membuat diri merasa kecil di tengah bentangan alam sekaligus menambah rasa syukur atas kehidupan ini.

Sebagai masyarakat Indonesia yang sudah akrab dengan laut, pantai, dan pulau-pulau kecil, melihat pemandangan di Halong Bay tetap memberikan sensasi berbeda yang memantik rasa syukur mendalam.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *