Demi Belajar Komputer, Anak-anak Pantai Bahagia Rela Jalan Dua Jam Bersama BSI Explore 2026

BSI Explore

Milenianews.com, Bekasi – Bagi sebagian anak, belajar komputer mungkin hanya berjarak beberapa langkah dari rumah. Tinggal masuk kelas, duduk di depan laptop, lalu mengikuti arahan guru.

Namun, cerita berbeda datang dari Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Bagi sejumlah siswa di desa tersebut, keinginan untuk mengenal komputer membuat mereka rela menempuh perjalanan panjang demi mengikuti les yang diberikan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) melalui program BSI Explore 2026.

Bahkan, sebagian anak rela berjalan kaki hingga sekitar dua jam setelah pulang sekolah agar tetap dapat mengikuti kegiatan tersebut.

Kisah itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi Muhammad Dhafi Sukandar, Ketua Kelompok 13 Utama BSI Explore Desa Pantai Bahagia. Selama kurang lebih dua minggu menjalankan program pengabdian, ia bersama tim tidak hanya mendampingi pembelajaran di sekolah, tetapi juga memperkenalkan dasar-dasar penggunaan laptop dan komputer kepada siswa.

Semangat Belajar yang Melampaui Jarak

Program les komputer diberikan kepada siswa kelas 4, 5, dan 6 sebagai bagian dari upaya memperkenalkan literasi digital. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk membantu siswa mempersiapkan kebutuhan pembelajaran, termasuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Antusiasme siswa ternyata jauh lebih besar dari perkiraan mahasiswa.

Dhafi menceritakan, terdapat sejumlah siswa yang harus menggunakan akses perahu untuk menuju sekolah. Setelah kegiatan belajar selesai, mereka masih harus menempuh perjalanan cukup panjang untuk kembali mengikuti les komputer.

Mahasiswa sebenarnya telah memberikan pilihan kepada siswa untuk tidak mengikuti kegiatan apabila akses menuju lokasi terlalu sulit. Namun, para siswa justru memilih tetap datang setelah meminta izin kepada orang tua.

“Mereka rela berjalan pulangnya itu sekitar dua jam dari sekolah untuk mengikuti kegiatan les komputer ini. Kita juga sudah bilang kalau misalnya tidak memungkinkan tidak apa-apa, tapi mereka tetap memaksa dan minta izin kepada orang tuanya dan diizinkan,” ujar Dhafi dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).

Bagi Dhafi, keputusan anak-anak tersebut menjadi gambaran betapa besar keinginan mereka untuk belajar.

“Mereka punya semangat yang begitu besar dengan kedatangan kita. Semangat mereka ataupun keinginan mereka bertemu kita juga sangat luar biasa,” katanya.

Perjalanan panjang yang ditempuh anak-anak itu akhirnya bukan sekadar soal jarak. Ada keinginan untuk mendapatkan pengalaman yang mungkin belum setiap hari mereka temui, yaitu belajar menggunakan komputer secara langsung.

Dari Literasi hingga Komputer

Kegiatan BSI Explore 2026 di Desa Pantai Bahagia tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi.

Selama berada di sekolah, mahasiswa UBSI juga mendampingi guru dalam proses pembelajaran literasi dan numerasi. Berbagai kegiatan kemudian disesuaikan dengan jenjang dan kemampuan siswa.

Untuk siswa kelas 1, mahasiswa menggelar kegiatan menggambar dan mewarnai. Sementara siswa kelas 2 dan 3 mengikuti kegiatan bercerita berdasarkan gambar.

Adapun siswa kelas 4, 5, dan 6 mendapatkan kegiatan berupa lomba puisi dan kuis matematika, selain mengikuti les komputer.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi cara mahasiswa menghadirkan suasana belajar yang lebih interaktif. Anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh ruang untuk berkreasi, berkomunikasi, dan menunjukkan kemampuan mereka.

Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa kebutuhan pendidikan anak tidak hanya berkaitan dengan buku dan materi pelajaran.

Akses terhadap teknologi, pengalaman baru, kreativitas, serta pendampingan turut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan siswa.

Pantai Bahagia dan Sambutan Masyarakat

Selama menjalankan program, mahasiswa UBSI mendapatkan dukungan dari pemerintah desa dan pihak sekolah.

Dhafi mengatakan pihak pemerintah Desa Pantai Bahagia menyambut baik kehadiran mahasiswa. Bahkan, Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi, turut membantu mahasiswa mengenali berbagai potensi dan kondisi wilayah setempat.

“Untuk pihak desa sendiri alhamdulillah mereka sangat welcome kepada kita. Bahkan sekretaris desa di sini yaitu Bapak Ahmad Qurtubi, dia selalu mengajak kita explore ke mana-mana, menjadi seperti tour guide di sini, menjelaskan apa saja yang ada di sini,” ujar Dhafi.

Dukungan juga datang dari pihak sekolah. Para guru ikut membantu pelaksanaan berbagai kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa, termasuk menjadi juri dalam sejumlah perlombaan siswa.

Kolaborasi tersebut membuat pelaksanaan program tidak berjalan sendiri. Pemerintah desa dan sekolah menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan yang dirancang mahasiswa dapat diterima dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca juga: BSI Explore 2026 Tak Sekadar Mengabdi, Mahasiswa UBSI Ikut Bantu Aktivitas Warga Desa Kiarapayung

Ketika Keterbatasan Justru Menjadi Pelajaran

Bagi Dhafi, pengalaman menjalankan BSI Explore 2026 di Pantai Bahagia memberikan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar menjalankan program pengabdian.

Mahasiswa datang dengan membawa sejumlah kegiatan dan pengetahuan. Namun, selama berada di tengah masyarakat, mereka justru belajar mengenai arti keterbatasan, semangat, dan kemauan untuk terus mencoba.

Semangat anak-anak yang rela menempuh perjalanan panjang demi belajar komputer menjadi salah satu pengalaman yang membekas bagi tim.

Dhafi berharap ilmu yang telah diberikan, mulai dari penggunaan laptop hingga literasi dan numerasi, dapat dimanfaatkan dan diterapkan oleh para siswa dalam kehidupan maupun pendidikan mereka di masa mendatang.

“Saya berharap mereka bisa memanfaatkan dan mengimplementasikan di kemudian harinya agar bisa bermanfaat juga di masa yang akan datang,” kata Dhafi.

Perjalanan Panjang Menuju Ruang Digital

Kisah anak-anak Pantai Bahagia memperlihatkan bahwa akses terhadap teknologi tidak selalu datang dengan cara yang mudah.

Bagi sebagian orang, laptop mungkin sudah menjadi perangkat yang biasa digunakan sehari-hari. Namun bagi anak-anak tersebut, kesempatan untuk belajar menggunakannya menjadi pengalaman yang cukup berharga hingga mereka bersedia menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkannya.

Di situlah BSI Explore 2026 menemukan makna pengabdiannya.

Mahasiswa UBSI datang membawa program pendidikan dan literasi digital. Namun, dari anak-anak Pantai Bahagia, mereka justru mendapatkan pelajaran yang tidak tertulis di dalam modul pembelajaran: keterbatasan akses tidak selalu mampu mengalahkan besarnya keinginan untuk belajar.

Perjalanan dua jam yang ditempuh sebagian siswa akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan menuju tempat les komputer. Ia menjadi simbol kecil tentang semangat anak-anak untuk membuka pintu menuju pengalaman baru, mengenal teknologi, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *