Sekolah di Tengah Perairan, BSI Explore 2026 Temukan Kisah Siswa yang Masih Andalkan Perahu

BSI Explore

Milenianews.com, Bekasi – Suara mesin perahu menjadi bagian dari perjalanan sejumlah anak di Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi, menuju sekolah.

Bagi sebagian siswa, berangkat sekolah mungkin berarti berjalan kaki melewati jalan yang sudah tersedia atau menaiki kendaraan dari rumah. Namun, bagi anak-anak yang tinggal di kawasan perairan Muara Bendera, perjalanan menuju ruang kelas memiliki cerita yang berbeda.

Mereka masih mengandalkan perahu untuk berangkat dan pulang sekolah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pengalaman yang dilihat langsung mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) ketika menjalankan program BSI Explore 2026 di Desa Pantai Bahagia, Jumat (21/8).

Selama berada di wilayah tersebut, mahasiswa tidak hanya menjalankan berbagai program pendidikan. Mereka juga melihat lebih dekat bagaimana kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur turut membentuk keseharian masyarakat, termasuk perjalanan anak-anak dalam memperoleh pendidikan.

Ketika Perahu Menjadi Kendaraan Sekolah

Sinta, mentor Tim 13 BSI Explore 2026 Desa Pantai Bahagia, mengatakan kondisi infrastruktur di wilayah tersebut masih berbeda dengan kawasan perkotaan.

Sejumlah jalan sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Dalam kondisi tertentu, perahu justru menjadi sarana transportasi yang lebih memungkinkan digunakan masyarakat.

“Jalanannya itu masih agak sulit dimasuki oleh mobil, bahkan motor. Selain itu, di sini orang-orang lebih banyak mengendarai perahu karena jalanannya masih kurang bagus,” ujar Sinta dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (21/8).

Keterbatasan akses tersebut juga dirasakan siswa SDN Pantai Bahagia 02.

Menurut Sinta, anak-anak yang tinggal di Muara Bendera menggunakan perahu untuk menuju sekolah karena wilayah tempat tinggal mereka sebagian besar telah dikelilingi perairan.

“Yang mirisnya itu untuk anak-anak di SDN Pantai Bahagia 02, di sini masih menggunakan perahu setiap berangkat dan pulang,” katanya.

Perjalanan mereka pun memiliki jadwal tersendiri.

Sinta menjelaskan, terdapat dua waktu penjemputan siswa dari sekolah. Anak-anak kelas 1 dan 2 dijemput sekitar pukul 10.00 WIB, sedangkan siswa kelas 3 hingga kelas 6 mendapatkan penjemputan sekitar pukul 12.30 WIB.

Rutinitas tersebut memperlihatkan bagaimana perjalanan menuju sekolah bagi anak-anak Muara Bendera bukan hanya persoalan jarak, tetapi juga bergantung pada kondisi geografis wilayah tempat mereka tinggal.

Muara Bendera yang Dikelilingi Perairan

Muara Bendera masih menjadi bagian dari Desa Pantai Bahagia. Namun, karakter geografisnya membuat akses melalui jalur darat sangat terbatas.

Sinta menggambarkan sebagian kawasan tersebut sudah didominasi perairan. Rumah warga banyak yang berbentuk rumah panggung, sementara perahu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Di sana itu jalanannya sudah benar-benar terputus, enggak ada jalanan tanah sama sekali. Di sana sudah full dengan perairan, rumahnya pun rumah panggung. Jadi masyarakatnya juga masing-masing punya perahu,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat perahu bukan sekadar alat transportasi tambahan. Bagi masyarakat Muara Bendera, keberadaannya menjadi bagian penting untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Termasuk bagi anak-anak yang harus pergi ke sekolah.

Sinta menyebut sekitar 80 persen anak yang tinggal di Muara Bendera bersekolah di SDN Pantai Bahagia 02. Karena itu, keberadaan perahu penjemputan memiliki peran penting untuk memastikan siswa dapat pergi dan kembali dari sekolah.

Perahu Gotong Royong untuk Anak-anak

Persoalan transportasi bagi anak-anak di Muara Bendera sebelumnya juga telah mendapat perhatian.

Menurut Sinta, pemerintah sempat memberikan perahu untuk membantu mobilitas siswa. Namun, setelah muncul kendala dalam penggunaannya, pemerintah desa kemudian berinisiatif menyediakan perahu melalui kesepakatan dan gotong royong masyarakat.

“Ini sebuah kesepakatan, ‘ini enggak apa-apa deh kita bikin perahu gotong royong’ untuk anak-anak. Perahu ini dikhususkan untuk anak-anak yang tinggal di Muara Bendera,” jelasnya.

Perahu tersebut kemudian menjadi salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap akses pendidikan anak-anak.

Di tengah keterbatasan infrastruktur, semangat gotong royong menjadi cara masyarakat mencari solusi agar anak-anak tetap dapat bersekolah.

Di Balik Perairan, Ada Mangrove dan Lutung

Pengalaman mahasiswa BSI Explore 2026 di Pantai Bahagia tidak berhenti pada persoalan pendidikan.

Di tingkat desa, mahasiswa juga membawa program penanaman mangrove serta edukasi mengenai ekosistem pesisir.

Program tersebut dipilih karena kawasan Pantai Bahagia menghadapi persoalan lingkungan, termasuk abrasi dan banjir rob.

“Di sini kan memang di pesisir, di pesisir itu harus dijaga tempat-tempatnya dari abrasi. Permasalahannya itu abrasi dan banjir rob. Jadi masih sangat kurang terhadap penanaman mangrovenya, sehingga kami memutuskan untuk membawakan program penanaman mangrove dan pengenalan edukasi mangrove,” kata Sinta.

Untuk mendukung program tersebut, mahasiswa mendapatkan informasi dan pendampingan dari Sekretaris Desa Pantai Bahagia, Ahmad Qurtubi.

Kawasan tersebut juga telah memiliki budidaya bibit mangrove yang dapat mendukung kegiatan penanaman.

Bagi mahasiswa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Pantai Bahagia memiliki persoalan sekaligus potensi. Di satu sisi, kawasan pesisir menghadapi ancaman abrasi dan banjir rob. Di sisi lain, ekosistem mangrove dan keberadaan lutung menyimpan peluang untuk dikembangkan.

Baca juga: Menembus Akses Sulit, BSI Explore 2026 Siapkan Penanaman Mangrove di Pantai Bahagia

Potensi Wisata di Tengah Keterbatasan

Sinta melihat kawasan Pantai Bahagia memiliki potensi wisata berbasis lingkungan yang cukup menarik apabila akses dan infrastrukturnya semakin baik.

Keberadaan mangrove dan habitat lutung menjadi salah satu daya tarik yang menurutnya dapat dikembangkan.

“Kalau seandainya jalanan di sini memang bagus, ini juga bisa menjadi suatu tempat wisata yang bagus, terutama di mangrovenya. Ada lutung di mangrove, jadi bisa menjadi suatu objek wisata,” ungkapnya.

Potensi tersebut memperlihatkan wajah Pantai Bahagia yang berlapis.

Di satu sisi, terdapat anak-anak yang harus mengandalkan perahu untuk mendapatkan pendidikan. Di sisi lain, terdapat kawasan mangrove dan habitat lutung yang menyimpan kekayaan lingkungan.

Keduanya bertemu dalam satu ruang yang sama.

Melihat Pantai Bahagia dari Dekat

Kehadiran BSI Explore akhirnya membuat mahasiswa UBSI melihat Pantai Bahagia bukan sekadar sebagai lokasi pelaksanaan program pengabdian.

Mereka menemukan cerita tentang anak-anak yang setiap hari harus menyesuaikan perjalanan sekolah dengan kondisi perairan. Mereka juga melihat bagaimana masyarakat bergotong royong menyediakan perahu khusus untuk membantu mobilitas siswa.

Pada saat yang sama, mahasiswa menemukan ekosistem mangrove, persoalan abrasi dan banjir rob, serta keberadaan lutung yang berpotensi menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis lingkungan.

Semua cerita tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dan lingkungan di Pantai Bahagia memiliki hubungan yang erat dengan kondisi geografis masyarakat.

Bagi anak-anak Muara Bendera, perahu menjadi jalan menuju sekolah. Bagi masyarakat, perahu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sementara bagi mahasiswa BSI Explore 2026, perjalanan ke kawasan tersebut menjadi kesempatan untuk memahami bahwa akses pendidikan tidak selalu hadir melalui jalan yang mudah.

Kadang, ada perjalanan yang harus ditempuh melalui air.

Dan di atas perahu itulah, anak-anak Pantai Bahagia terus bergerak menuju satu tujuan sederhana: tetap bersekolah dan terus belajar.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *