Sampoerna University Gelar Crossroad 2026, Pamerkan 11 Karya Mahasiswa VCD di Era AI

Alumni Sampoerna University, Wahyu Mahendra (paling kanan) dan Karunia Dwi Novita (kedua dari kanan) bersama Arum Githa Putri, Dosen Visual Communication Design, Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University (ketiga dari kanan), juga berbagi tentang relevansi kebutuhan industri kreatif dengan skill yang didapatkan di Sampoerna University.

Milenianews.com, Jakarta – Di tengah era ketika AI bisa membuat gambar dalam hitungan detik, mahasiswa desain justru dituntut berpikir lebih lama. Sebab industri tidak lagi hanya membutuhkan orang yang bisa membuat visual menarik, tetapi mereka yang mampu memahami masalah, membaca audiens, dan mengubah teknologi menjadi solusi.

Persimpangan itulah yang coba dihadirkan Sampoerna University (SU) melalui Student Exhibition tahunan “Crossroad” pada 26–28 Agustus 2026. Memasuki tahun keempat, pameran bertema “Meeting Point” ini mempertemukan mahasiswa, komunitas, perusahaan, dan praktisi di persimpangan seni, desain, teknologi, serta budaya.

Baca juga: TEDxSampoerna University 2026 Digelar 7 Maret di TIM, Tawarkan Ruang Refleksi di Era Digital

Kehadiran pameran ini juga relevan dengan perkembangan ekonomi kreatif Indonesia. Berdasarkan data BPS yang disampaikan SU, sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta tenaga kerja pada 2025. Artinya, kebutuhan terhadap talenta kreatif terus membesar meski kemampuan membuat desain bagus saja sekarang belum tentu cukup.

Desain Bukan Lagi Sekadar Bikin Bagus

Menurut Arum Githa Putri, Dosen Visual Communication Design, Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University, mahasiswa VCD dipersiapkan untuk memahami persoalan sebelum menghasilkan karya.

“Di Sampoerna University, mahasiswa VCD tidak hanya dibekali kemampuan untuk menghasilkan karya visual, tetapi juga memahami audiens, mengidentifikasi masalah, mengembangkan konsep, dan menerjemahkannya menjadi solusi komunikasi visual yang relevan. Pendekatan ini mempersiapkan mahasiswa untuk berkembang sebagai Creative Technologist dan Time-Based Media Designer, yang mampu memadukan teknologi, desain, dan visual bergerak. Seiring perkembangan AI, kami juga mengajarkan mahasiswa untuk memahami pemanfaatan teknologi secara tepat, karena AI tetap membutuhkan arahan manusia. Oleh karena itu, kemampuan seperti data thinking, data marketing, dan kolaborasi menjadi penting untuk terus diasah,” jelas Githa.

Pemikiran tersebut diterjemahkan dalam proyek akhir mahasiswa yang dipamerkan selama tiga hari.

Student Exhibition ini menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana mahasiswa menerapkan apa yang mereka pelajari dalam proyek yang menuntut proses berpikir dan penyelesaian masalah secara menyeluruh, sekaligus merespons dinamika industri kreatif. Lebih dari sekadar pameran karya, project yang dipersiapkan selama satu tahun ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan bagaimana mereka mengembangkan ide, memahami persoalan komunikasi, hingga menerjemahkannya menjadi solusi visual yang relevan bagi industri dan masyarakat,” lanjut Githa.

11 Proyek, dari Sampah hingga Bisindo

Sebanyak 11 Final Year Projects mahasiswa VCD dipamerkan dalam format gamification. Temanya pun tidak berhenti pada estetika.

Ada Interactive Waste Sorting Game karya Samantha Inggrid, A Social Board Game karya Bening Mahamaya Winata, hingga Learning Interactive Video on Pet First Aid karya Innaya Putri Munandar.

Surya Danusaputro Liman, B.Sc., M.E., Ph.D., Vice Rector of Academic Affairs, Sampoerna University (tengah) bersama Arum Githa Putri, Dosen Visual Communication Design, Faculty of Engineering and Technology, Sampoerna University (kiri) menghadiri Student Exhibition tahunan Program Visual Communication Design (VCD) yang dilaksanakan pada 26–28 Agustus 2026.

Proyek lain mencakup pembelajaran tentang kebersihan makanan, permainan kartu kuliner tradisional Indonesia, edukasi diabetes tipe 2, film pendek horor, gim AR untuk belajar Gamelan Gangsa, Blender Add-On untuk desain booth, animasi edukasi layang-layang, hingga Web-Based Bisindo Application karya Jenifer Alexandra Anwari.

Salah satu karya yang menarik datang dari Dinda Safira melalui Indonesia Traditional Food Card Game: Catur Rasa.

Baca juga: TEDx Sampoerna University 2026 Dorong Resiliensi Gen Z Hadapi Disrupsi

“Melalui Catur Rasa, saya ingin memperkenalkan kembali kekayaan makanan tradisional Indonesia yang telah mengalami akulturasi dengan budaya lain, dengan menggabungkan unsur edukasi dan permainan kartu yang dekat dengan anak muda. Pemain diajak mengenal ragam kuliner dari berbagai daerah di Indonesia melalui konsep permainan yang interaktif dan menyenangkan,” jelas Dinda.

Dengan kata lain, makanan tradisional tidak cuma dimakan. Kali ini, ia dijadikan permainan sekaligus media belajar.

Bukan Sekadar Pameran Karya

Crossroad 2026 juga menghadirkan tiga sharing sessions bersama praktisi industri kreatif dan enam alumni experience-sharing sessions.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa dunia kerja punya aturan yang sedikit berbeda dari ruang kelas. Nilai bagus bisa membantu masuk, tetapi kemampuan beradaptasi menentukan apakah seseorang bisa bertahan.

Karunia Dwi Novita, Illustrator/Graphic Designer PT Global Urban Essential, mengatakan pengalaman kuliah memberinya ruang untuk mengembangkan berbagai kemampuan.

“Selama kuliah di VCD, saya mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan beragam keterampilan, mulai dari desain hingga 3D. Berbagai proyek selama perkuliahan juga memperluas kemampuan saya, termasuk dalam storytelling, yang menjadi salah satu pengalaman paling berkesan.”

Hal serupa disampaikan Wahyu Mahendra, Motion Designer Sterly.

“Menurut saya, selain skill yang didapat saat kuliah, salah satu soft skill yang paling penting adalah adaptabilitas. Selain mampu beradaptasi dengan tim, klien, maupun situasi kerja yang berbeda, kemampuan time management dan komunikasi juga sangat penting, terutama dalam lingkungan kerja yang dinamis dan remote.”

Dua pernyataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah masalahnya: teknologi bisa berubah sangat cepat, sementara manusia dituntut tetap relevan.

Ketika AI Masuk, Manusia Tidak Boleh Keluar

Sampoerna University juga membawa orientasi pendidikan berstandar internasional melalui akreditasi institusional dari New England Commission of Higher Education (NECHE). SU menyebut dirinya sebagai institusi pendidikan tinggi pertama dan satu-satunya di Indonesia serta Asia Tenggara yang memperoleh akreditasi tersebut.

Pada akhirnya, Crossroad bukan hanya pameran tugas akhir. Ia menjadi gambaran bagaimana pendidikan desain mencoba menjawab pertanyaan yang semakin penting: ketika AI bisa membantu membuat karya, apa yang membuat manusia tetap dibutuhkan?

Jawabannya mungkin bukan pada siapa yang paling cepat membuat gambar.

Baca juga: TEDxSampoernaUniversity akan Hadir dengan Membahas Isu GenZ

Melainkan siapa yang paling paham mengapa gambar itu harus dibuat, untuk siapa, dan masalah apa yang ingin diselesaikan.

Student Exhibition “Crossroad” terbuka untuk publik hingga 28 Agustus 2026 di Student Union, Sampoerna University, L’Avenue Building, Jl. Raya Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan.

Di tengah persimpangan teknologi, desain, dan budaya, “Crossroad” mencoba menunjukkan bahwa masa depan kreatif bukan tentang manusia melawan AI. Yang lebih penting adalah siapa yang tahu cara membuat AI bekerja untuk manusia.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *