Memahami Perbedaan Existentialism, Nihilism, dan Absurdism

Milenianews.com –  Saat membaca buku filosofi paham Existentialism, Nihilism, dan Absurdism sering kita temui. Banyak orang salah mengira bahwa ketiga paham tersebut memiliki arti yang sama. Malah sebaliknya, ke tiga paham ini memiliki karakteristik pemahaman yang berbeda atas satu sama lain. 

Ketiga paham tersebut memiliki karakteristik sumber yang sama, yaitu pengembangannya. Paham Existentialism, Nihilism, dan Absurdism berasal dari ide yang sama, yaitu “Kehidupan Tidak Memiliki Arti”. Cara pengembangan ide tersebutlah yang membuat ketiga paham ini berbeda.

Baca juga : Sering Dikira Sama, Ini 5 Perbedaan Sains Data dan Statistik!

Apa Perbedaan Existentialism, Nihilism, dan Absurdism?

Ilustrasi Perbedaan Existentialism, Nihilism, dan Absurdism.

Walaupun mereka tercetus dari ide yang sama, mereka tetap memiliki perbedaan yang mendasar dan jelas. Perbedaan yang paling jelas di antara paham-paham ini adalah kapan dan siapa yang mencetusnya, lalu tokoh mana saja yang mendalami dan memakai paham ini.

Existentialism

Pada perang dunia 2, paham existentialism terpopulerkan oleh Jean Paul-Sartre. Tergerak oleh pertanyaan “Bagaimana kalau kita ada duluan?”. Orang yang memahami existentialism ini melihat kehidupan dan eksistensi sebagai kanvas putih dan belum ternodai warna. Friedrich Nietzsche seorang filsuf dari Jerman pada akhir dari 1800-an menyatakan pernyataan kontroversialnya: “Tuhan Telah Mati”. Pernyataan ini tidak menjelaskan secara harfiah bahwa tuhan telah mati. Nietzsche berusaha menggerakan masyarakat pada saat itu, bahwa kita sendiri yang menentukan arti dan tujuan kehidupan kita, tidak oleh tradisi.

Existentialism jika disimpulkan, adalah suatu paham tentang eksistensi yang tujuannya ditentukan oleh diri kita sendiri. Dalam kehidupan kita, kita diibaratkan sebagai kertas kanvas yang belum ternodai. Apa yang kita mau lakukan, kejar, dan capai itu adalah hak dan pilihan bebas kita untuk menentukannya.

Nihilism

Nihilism yang berasal dari kata “Nihil” yang berarti “Tidak Ada” artinya sebagai Hidup tidak memiliki artinya. Melansir dari EBCSCO paham ini terpopulerkan oleh seorang penulis novel Ivan Turgenev dalam novelnya yang berjudul “Father and Son”. Friedrich Nietzsche menentang paham Nihilism, ia mengatakan bahwa ini adalah paham yang berbahaya. 

Nihilism secara singkat adalah sebagai paham yang tidak melihat kepentingan dan nilai dalam kehidupan. Ketiadaan arti dan nilai dalam mencoba ini yang membuat Nietzsche menentangnya. 

Absurdism

Tokoh yang mempopulerkan paham ini adalah seorang filsuf prancis bernama Albert Camus. Dalam novelnya yang berjudul The Stranger dan essaynya yang berjudul The Myth of Sisyphus.  Melansir dari Perlego.com menjelaskan bahwa manusia yang mengejar nilai dan arti hidup di dunia  yang tidak membiarkannya. Walaupun begitu manusia tetap kekeh untuk tetap mencari nilai dan arti. Paradoks ini lah yang disebut sebagai absurd  atau aneh dan lucu oleh filsuf-filsuf yang mendalami dan mempelajarinya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews

 Referensi: 

  1. https://ethics.org.au/ethics-explainer-existentialism/ 
  2. https://www.perlego.com/knowledge/study-guides/what-is-absurdism 
  3. http://perlego.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *