Milenianew.com, Vientiane– Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004, diundang menghadiri The 3rd Roundtable on Climate and Water Issues dan The 9th Meeting of the Asian Parliamentary Assembly Water Consultative Council (AAWC) di Vientiane, Laos. Acara itu digelar pada 28-29 Juli 2026.
Forum strategis ini dihadiri oleh para pimpinan parlemen dan pejabat legislatif dari 14 negara di kawasan Asia-Pasifik, yaitu Korea Selatan, Malaysia, Kamboja, Kazakhstan, Kirgizstan, Laos, Nepal, Uzbekistan, Sri Lanka, Thailand, Indonesia, Bangladesh, Mongolia, dan Kepulauan Solomon. Hadir pula para duta besar, diplomat, pejabat pemerintah, pakar sumber daya air, serta mitra pembangunan.
Pertemuan tersebut dibuka oleh Mr. Vilayvong Bouddakham, Vice President of the Lao National Assembly, serta Ms. Han Jung-ae, Member of the National Assembly of the Republic of Korea sekaligus Chair of the Asian Parliamentary Assembly Water Consultative Council (AAWC).
Forum ini bertujuan memperkuat kerja sama regional dalam meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim serta mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang adil, efisien, terpadu, dan berkelanjutan.
Dalam sambutan pembukaannya, Mr. Vilayvong Bouddakham menyampaikan bahwa Asia dan dunia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari konflik bersenjata, perubahan iklim, bencana alam, hingga kekurangan energi. “Berbagai permasalahan tersebut telah memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan,” kata Mr. Vilayvong Bouddakham.
Ia juga mengapresiasi peran AAWC yang sejak didirikan pada 2019 terus memperkuat kerja sama regional. Menurutnya, AAWC telah berkembang menjadi wadah penting bagi anggota parlemen, pemerintah, pakar, dan sektor swasta untuk bertukar pengalaman dalam penyusunan peraturan perundang-undangan, perumusan kebijakan, serta penerapan praktik terbaik dalam pengelolaan sumber daya air dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan rasa terhormat dapat menghadiri forum tingkat tinggi yang sangat penting dan bermanfaat bagi masa depan pengelolaan sumber daya air di kawasan Asia-Pasifik.
Prof. Rokhmin juga mengapresiasi kemajuan teknologi dan kapasitas manajemen Republik Korea dalam pengelolaan sumber daya air, yang telah terbukti tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di dunia.
Untuk itu, Prof. Rokhmin mendorong penguatan kerja sama antara Indonesia dan Republik Korea dalam tiga bidang prioritas.
Pertama, pengembangan sistem pengelolaan sampah dan limbah terpadu, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. “Pengelolaan sampah dan limbah yang tidak baik akan mencemari sungai, danau, air tanah, serta ekosistem pesisir dan laut,” kata Prof. Rokhmin Dahuri.
Kedua, modernisasi sektor pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian modern, produktif, efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. “Hal ini sangat penting karena sekitar 30 persen penduduk Indonesia masih menggantungkan kehidupan dan mata pencahariannya pada sektor pertanian,” ujarnya.
Ketiga, kata Prof. Rokhmin, pengembangan proyek desalinasi air laut yang dipadukan dengan energi surya untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat di pulau-pulau kecil.
“Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas lebih dari 17.000 pulau, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di pulau-pulau kecil dan kawasan terpencil,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Prof. Rokhmin, penerapan teknologi desalinasi berbasis energi terbarukan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi konkret untuk memperkuat ketahanan air sekaligus mempercepat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keenam mengenai akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak.
Sebagai tindak lanjut konkret dari pembahasan dalam forum tersebut, Prof. Rokhmin Dahuri juga akan mengajukan sejumlah proposal kerja sama kepada Asian Parliamentary Assembly Water Consultative Council (AAWC) untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam mendukung pembangunan sumber daya air yang berkelanjutan di Indonesia.
Proposal tersebut diharapkan dapat menjadi model kemitraan antara Indonesia dan negara-negara anggota AAWC dalam transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, serta pembangunan infrastruktur pengelolaan sumber daya air yang modern, inklusif, terpadu, dan berkelanjutan.
Adapun beberapa usulan proyek prioritas yang akan diajukan meliputi:
- Integrated Water Safety Management in Citarum River, West Java.
- Wastewater Management for Jakarta Area.
- Integrated Irrigation Management System for Prosperous and Sustainable Agriculture in Cirebon–Indramayu Regencies
Melalui ketiga inisiatif tersebut, Prof. Rokhmin berharap AAWC dapat menjadi mitra strategis Indonesia dalam memperbaiki kualitas lingkungan, meningkatkan ketersediaan dan keamanan air, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan petani, dan mempercepat pencapaian SDGs.
Kehadiran Prof. Rokhmin Dahuri mewakili Indonesia dalam forum tersebut bersama Eva Monalisa, Anggota Komisi VII DPR RI, dan Ahmad Dahlan, Kuasa Usaha Ad Interim Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Rakyat Laos.
Air merupakan sumber kehidupan, fondasi peradaban, penggerak pembangunan ekonomi, serta penopang keberlanjutan ekosistem bumi. Karena itu, tantangan air tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau satu sektor saja.
Diperlukan kolaborasi yang kuat antara parlemen, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat, dan lembaga internasional untuk menghadirkan kebijakan, inovasi teknologi, investasi, serta tata kelola sumber daya air yang berkelanjutan.











