Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Pigeon Forge. Mendengar namanya, ingatan kita mungkin tidak langsung tertuju pada sebuah kota wisata yang megah. Terletak di bagian selatan Amerika Serikat, tepatnya di Negara Bagian Tennessee, kota kecil ini hanya dihuni oleh sekitar 6.500 penduduk ber-KTP setempat. Namun, jangan remehkan magnetnya. Dalam setahun, kota ini mampu menyedot hingga 11 juta wisatawan!
Angka itu setara dengan total kunjungan wisatawan mancanegara ke seluruh Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan Bali, jumlah turis asing yang datang ke Pulau Dewata hanya berkisar setengah dari pencapaian Pigeon Forge.
Sore itu, kami berada di dalam mobil sewaan yang melaju dari Bandara McGhee Tyson di Kota Knoxville menuju Pigeon Forge. Menurut aplikasi navigasi, perjalanan sepanjang 55 kilometer ini memakan waktu sekitar satu jam. Kami sengaja datang ke sini demi membuktikan sebuah paradoks: bagaimana bisa sebuah kota wisata pegunungan sekecil ini mampu menampung belasan juta manusia? Bayangkan jika Kintamani di Bali dijejali 11 juta orang dalam setahun, suasananya pasti sudah meluber tak terkendali.
Baca juga: Road Trip New York ke Washington DC, Menyusuri Jejak Sejarah Amerika
Perjalanan kami dimulai dari New York. Setelah terbang satu jam dan transit di Washington D.C., kami melanjutkan penerbangan selama satu setengah jam menuju Knoxville. Dari sana, barulah perjalanan darat sesungguhnya dimulai—sebuah ritus menembus alam bebas menuju ketinggian.
Jalanan menuju ke sana lebar dan mulus. Di kejauhan, tampak bukit-bukit hijau berselimut kabut tipis yang legendaris, alasan mengapa kawasan taman nasional yang megah ini dijuluki Great Smoky Mountains. Di jantung pegunungan inilah, Pigeon Forge menyembunyikan pesonanya.
Ratusan Destinasi Dunia di Sepanjang Parkway

Begitu roda mobil memasuki Pigeon Forge Parkway—jalan utama kota—suasana langsung berubah total. Jalan sepanjang 10 kilometer ini adalah urat nadi sekaligus ruang pameran utama kota. Dengan enam lajur yang membelah kota, trotoar yang lebar, serta area parkir yang luas, bangunan-bangunan di sepanjang jalan sengaja dirancang dalam ukuran raksasa. Jika dibangun dengan ukuran biasa, mereka akan tampak seperti rumah liliput.
Menyusuri jalan utama ini sungguh menjauhkan kita dari rasa bosan. Berlatar belakang hijaunya pegunungan, semua wahana wisata dunia seolah-olah dipindahkan ke sini. Di sisi kiri dan kanan jalan, keindahan alam berpadu harmonis dengan kreativitas tanpa batas buatan manusia.
Ada bangunan yang menampilkan King Kong sedang memanjat gedung pencakar langit mini. Terlihat pula replika kapal Titanic berukuran raksasa yang menabrak gunung es. Tidak jauh dari sana, berdiri WonderWorks, sebuah bangunan unik dengan arsitektur yang sengaja dirancang terbalik 180 derajat.
Bagi pencinta belanja, terdapat Pigeon Forge Mall—yang kerap disebut Red Roof Mall—dengan deretan pertokoan raksasa yang luasnya mengalahkan kompleks Blok M Mall di Jakarta. Untuk hiburan, mata saya menangkap papan nama teater komedi Hatfield & McCoy Dinner Feud. Sementara untuk urusan perut, selain jaringan restoran cepat saji seperti McDonald’s, hadir pula Restoran Paula Deen, sang koki selebritas. Bahkan Hard Rock Cafe pun turut meramaikan suasana, tampil unik dengan menggabungkan konsep tempat makan, museum musik rock, dan toko suvenir yang sangat lengkap.
Menjelajahi Parkway menggunakan mobil sewaan ternyata cukup menguras energi. Perjalanan bolak-balik sejauh 10 kilometer dengan kecepatan santai saja bisa menghabiskan waktu hampir satu jam. Namun, sepanjang jalan ego visual kita akan terus dimanjakan. Bangunan-bangunan unik, papan neon raksasa yang berpendar, museum interaktif, hingga restoran tematik seolah saling berlomba untuk mencuri perhatian mata dan pikiran kami.
Sentuhan Dolly Parton dan Kebangkitan “Pulau Impian”

Sejarah Pigeon Forge dapat ditarik mundur hingga tahun 1820, saat sebuah kincir penumbuk gandum raksasa dibangun. Kincir yang dikenal sebagai The Old Mill ini kemudian menjadi pusat ekonomi pertama di kaki pegunungan tersebut. Selama lebih dari satu abad setelahnya, tempat ini hanyalah sebuah desa kecil yang sepi dan terisolasi. Perubahan besar baru terjadi pada tahun 1934 ketika Taman Nasional Great Smoky Mountains diresmikan bersamaan dengan rampungnya pembangunan jalan raya lintas wilayah.
Sadar akan potensi ekonomi dari sektor pariwisata, pada tahun 1961 kota ini ditetapkan sebagai kota mandiri dan mulai bersolek menjadi kawasan wisata yang visioner. Puncaknya terjadi saat lahirnya Dollywood, sebuah taman hiburan milik penyanyi country dunia, Dolly Parton. Hubungan antara Pigeon Forge dan Dollywood adalah bentuk simbiosis mutualisme terbesar dalam sejarah kota ini. Bayangkan, sebuah taman hiburan sekelas Disneyland tiba-tiba hadir di Tennessee!
Lahir pada tahun 1986, Dollywood tidak dibangun dari nol, melainkan hasil penggabungan, renovasi, dan pengembangan besar-besaran dari beberapa taman hiburan yang sudah ada sebelumnya. Nama besar Dolly Parton yang kala itu sedang berada di puncak popularitas menjadi mesin promosi global yang dahsyat. Dollywood menjelma menjadi magnet magis yang melambungkan angka kunjungan Pigeon Forge hingga menembus jutaan orang per tahun.
Dollywood membuka ribuan lapangan kerja dan mendatangkan pendapatan luar biasa bagi kota sekecil desa ini. Pendapatan tersebut kemudian digunakan untuk mendanai pembangunan infrastruktur megah di Pigeon Forge Parkway, mengubah citra kota yang dulunya hanya tempat transit wisata gunung menjadi destinasi liburan utama. Berkat infrastruktur yang berkilau dan arus jutaan wisatawan per tahun, kisah setelahnya adalah rentetan sukses yang terus bertahan hingga hari ini.
Lampu-lampu neon di sepanjang Parkway mulai menyala satu per satu saat mobil sewaan kami meluncur menuju The Island in Pigeon Forge pada sore hari. Udara segar musim panas khas Smoky Mountains langsung menyambut begitu kami turun. Udara sore itu sebenarnya tidak terlalu dingin, tetapi entah mengapa terasa menusuk tulang—mungkin karena kulit tropis kami yang lebih terbiasa dengan suhu lembap Jakarta.
The Island merupakan pilar penyokong wisata kedua di area ini. Disebut pulau bukan karena berada di tengah laut, melainkan karena kawasan ini diapit oleh dua aliran sungai kecil. Mulai dibangun pada tahun 2008 dengan ambisi menjadi pusat hiburan raksasa ala Hollywood, proyek ini sempat mangkrak akibat hantaman krisis finansial global pada tahun yang sama.
Tahun 2013 menjadi momentum kebangkitan. Sebuah grup investor baru datang melihat peluang di tengah proyek yang terbengkalai tersebut. Aset dibeli, dan konsepnya dirombak total menjadi lebih modern dengan fokus pada area ramah pejalan kaki, wisata keluarga, dan belanja. Sebuah bianglala raksasa dan berbagai wahana ala Disneyland didatangkan untuk saling melengkapi dengan Dollywood. Restoran-restoran terkenal diajak membuka cabang, sementara berbagai merek toko wisata dan wahana diajak membuka gerai mereka. Lahirlah The Island sebagai salah satu destinasi utama yang kesuksesannya kini telah menasional dan mengglobal.
Saat melangkah masuk, kami merasa seperti berjalan di sebuah desa wisata kecil yang indah dan tertata rapi. Di bagian tengah kompleks, terdapat sebuah danau buatan lengkap dengan pertunjukan air mancur menari yang diiringi musik dan permainan lampu warna-warni yang meriah. Di sekeliling danau, tersedia deretan kursi bagi pengunjung yang ingin melepas penat atau sekadar melamun menikmati pancuran air. Lebih jauh memandang, kawasan ini dikepung oleh butik, gerai mainan, kedai makanan, hingga panggung musik yang menampilkan musisi jalanan sampai band lokal yang komplet.
Ditutup dengan Kehangatan Dapur Paula Deen

Langkah kaki kemudian menuntun kami masuk ke Big Rock Candy Kitchen, sebuah rumah produksi permen. Di sana, kami disuguhi demonstrasi pembuatan permen tradisional Amerika secara langsung. Sangat menarik melihat para pekerja sibuk menarik-narik adonan salt water taffy—permen kenyal khas Amerika—menggunakan bantuan mesin-mesin besar. Sebuah pemandangan yang sungguh unik bagi kami yang datang dari Jakarta. Aroma karamel, berondong jagung, dan cokelat fudge yang menyeruak di dalam ruangan benar-benar menggoda iman. Tentu saja, sebelum melangkah keluar, beberapa kantong belanjaan sudah berpindah ke tentengan kami.
Senja telah lama larut, dan tidak terasa sudah lebih dari tiga jam kami menghabiskan waktu di The Island. Sesuai rencana awal, makan malam kali ini akan ditutup di Paula Deen’s Family Kitchen. Reputasi restoran ini sudah tersohor secara nasional, dan nama Paula Deen sendiri sebagai koki sudah berada di kelas internasional. Deen adalah seorang koki selebritas pemilik jaringan restoran, penulis banyak buku memasak, sekaligus pembawa acara televisi terkenal. Ia dikenal luas berkat keahliannya mengolah kuliner tradisional khas Amerika Selatan (Southern food).
Baca juga: Jumatan di Queens, Menyusuri Masjid New York dan Hangatnya Couscous Maroko
Gaya memasak Deen sangat identik dengan hidangan rumahan (comfort food) khas Selatan yang kaya rasa—resep warisan keluarga yang royal dalam penggunaan mentega dan krim. Kepribadiannya yang hangat, logat Southern yang kental, serta metode memasak yang sederhana membuat Deen memiliki basis penggemar yang sangat loyal, sehingga restorannya tidak pernah sepi pengunjung.
Malam itu, meja kami dipenuhi dengan menu ikan tepung goreng yang disiram krim khas, salad segar, serta garlic bread. Hidangan yang populer, lezat, dan mengenyangkan ini menjadi penutup yang sempurna bagi petualangan kami di Tennessee.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.








