Milenianews.com – Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 menyisakan sebuah ironi di balik euforia penerimaan mahasiswa baru. Di saat jutaan siswa berlomba memperebutkan kursi perguruan tinggi negeri (PTN), sekitar 60 ribu calon mahasiswa yang telah dinyatakan lolos justru tidak melakukan daftar ulang.
Data yang dirilis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) itu memunculkan banyak pertanyaan. Mengapa kesempatan yang menjadi impian banyak pelajar justru dilepaskan begitu saja? Apakah faktor ekonomi menjadi penyebab utama, atau ada persoalan lain yang perlu mendapat perhatian pemerintah?
DPR Minta Pemerintah Telusuri Penyebab
Fenomena tersebut langsung mendapat perhatian dari Komisi X DPR RI. Anggota Komisi X, Sofyan Tan, meminta Kemendiktisaintek segera melakukan investigasi agar pemerintah mengetahui penyebab sebenarnya di balik banyaknya peserta yang tidak melanjutkan proses registrasi.
Menurutnya, beberapa faktor bisa memengaruhi keputusan calon mahasiswa. Salah satunya adalah ketidaksesuaian jurusan dengan minat. Ada pula peserta yang memilih melanjutkan studi di perguruan tinggi lain yang dinilai lebih sesuai dengan rencana masa depan mereka.
Namun, Sofyan menilai faktor ekonomi menjadi persoalan yang paling perlu dicermati. Ia menduga sebagian calon mahasiswa terpaksa melepas kursi PTN karena keterbatasan biaya kuliah, terutama setelah tidak memperoleh bantuan melalui program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
Karena itu, ia mendorong pemerintah melakukan survei langsung agar kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan kondisi di lapangan.
Biaya Kuliah Masih Menjadi Kendala
Banyak keluarga masih beranggapan bahwa lolos melalui jalur SNBP otomatis membuat biaya kuliah menjadi murah. Faktanya, besaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) tetap menyesuaikan kondisi ekonomi keluarga.
Masalah muncul ketika nominal UKT yang diterima berada di luar kemampuan orang tua. Di sisi lain, kuota KIP Kuliah juga terbatas sehingga tidak semua mahasiswa yang membutuhkan bisa memperoleh bantuan tersebut.
Akibatnya, sebagian calon mahasiswa memilih mengundurkan diri sebelum proses perkuliahan dimulai daripada menghadapi kesulitan biaya di kemudian hari.
Baca juga: Delegasi UBSI Siap Bangun Jejaring Internasional di Global Youth Congress 2026 Thailand
Salah Pilih Jurusan dan Efek FOMO
Selain persoalan ekonomi, faktor psikologis juga ikut memengaruhi keputusan peserta.
Tidak sedikit siswa mengikuti SNBP hanya karena takut tertinggal dari teman-temannya atau Fear of Missing Out (FOMO). Mereka mendaftar tanpa perencanaan yang matang dan memasukkan pilihan jurusan sekadar memenuhi kuota.
Ketika diterima di jurusan yang kurang diminati, sebagian peserta memilih tidak melanjutkan proses registrasi.
Padahal, keputusan tersebut tidak hanya berdampak pada diri sendiri. Kursi yang ditinggalkan sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi siswa lain yang benar-benar menginginkan program studi tersebut.
Pentingnya Komunikasi Sejak Awal
Keputusan melanjutkan pendidikan tinggi tidak hanya bergantung pada siswa. Orang tua juga memegang peran penting dalam menentukan kesiapan finansial maupun rencana studi.
Sayangnya, banyak keluarga baru membahas biaya kuliah, biaya hidup, atau rencana merantau setelah hasil SNBP diumumkan. Ketika tidak tercapai kesepakatan, calon mahasiswa akhirnya memilih mundur.
Kondisi tersebut bahkan berpotensi berdampak pada sekolah asal karena sejumlah perguruan tinggi dapat mengevaluasi kuota SNBP pada tahun berikutnya.
UBSI Hadir sebagai Alternatif Kuliah Berkualitas
Bagi siswa yang tidak lolos SNBP atau terkendala biaya pendidikan, kesempatan untuk melanjutkan kuliah tetap terbuka lebar.
Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif menawarkan pendidikan tinggi yang berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau. Kampus ini juga menyediakan berbagai program beasiswa, termasuk bagi siswa yang telah mengikuti seleksi SNBP maupun UTBK.
Melalui kurikulum yang mengikuti kebutuhan industri, fasilitas pembelajaran modern, serta jaringan kerja sama dengan dunia usaha dan industri, UBSI berupaya mencetak lulusan yang siap bersaing di dunia kerja.
Selain itu, sistem pembiayaan yang transparan dan fleksibel memberi kesempatan lebih luas bagi calon mahasiswa untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya yang berlebihan.
Fenomena 60 ribu peserta yang tidak melakukan daftar ulang menjadi pengingat bahwa akses pendidikan tinggi masih menghadapi berbagai tantangan. Meski demikian, banyak pilihan tetap tersedia bagi generasi muda untuk mewujudkan cita-cita. Dengan memilih kampus yang sesuai kebutuhan dan kemampuan, impian meraih pendidikan tinggi tetap dapat diwujudkan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













