Puisi  

Sejarah Tidak Ditulis oleh Bedak dan Senyuman

sejarah tidak ditulis oleh bedak dan senyuman

Karya: Novita Sari Yahya

Perempuan Indonesia pernah melangkah melawan penjajahan,
membawa cahaya gagasan di tengah larangan dan ketakutan.
Mereka menuntut martabat bagi bangsa dan sesama,
bukan sekadar tempat nyaman di beranda kekuasaan.

Di Kongres Perempuan, suara dijalin menjadi kekuatan.
Persatuan tumbuh melampaui batas suku dan daerah.
Mereka berbicara tentang pendidikan dan kemerdekaan,
bukan tentang siapa yang paling memikat pandangan.

Lalu datang sangkar yang dibangun dari pujian.
Perempuan dirayakan selama tidak mengusik kenyamanan.
Diberi ruang untuk menata wajah dan merangkai kata,
namun dijauhkan dari keberanian menggugat ketidakadilan.

Sementara yang progresif memilih jalan yang terjal,
menakar kemajuan dari perubahan yang progresif.
Bukan dari tepuk tangan yang cepat lenyap tertiup waktu,
atau pujian yang tumbuh dari kepatuhan semata.

Sejarah tidak ditulis oleh bedak dan senyuman.
Sejarah perempuan progresif lahir dari keberanian yang menanggung risiko.
Dari suara yang tetap tegak di hadapan tekanan,
dan langkah yang tidak surut karena ancaman.

Kebijaksanaan bukan anak dari kenyamanan.
Kebijaksanaan tumbuh dari pencarian panjang akan kebenaran.
Berpihak pada keadilan meski tak selalu disambut,
dan menolak diam saat nurani diperjualbelikan.

Maka, perempuan tidak cukup menjadi hiasan zaman.
Perempuan adalah penggerak perubahan dalam kehidupan bangsa.
Mewarisi semangat para pendahulu yang menentang penjajahan,
menjaga kebenaran agar tetap lebih dari kenyamanan.

Bogor, 13 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *