Suara tawa di ruang tamu Pak Ustaz malam itu mendadak terdengar berdengung, seolah mengejek isi kepala Maskun. Di tengah tayangan film Kuntilanak yang memantul dari layar televisi, nada dering dari Nokia second miliknya menjerit nyaring, memecah fokus semua anak-anak pengajian. Jantung Maskun seakan merosot ke perut saat melihat satu nama berkedip di layar kecil itu: Anie.
Gadis campernik yang selama ini ia puja dalam diam itu duduk tak jauh darinya. Terpisahkan oleh beberapa gundukan bantal dan teman-teman mengajinya. Logikanya berontak. Mengapa Anie harus menghubunginya lewat telepon padahal jarak mereka sedekat ini? Harusnya, ini menjadi momen paling romantis dalam hidup Maskun, seorang remaja SMK jurusan teknik yang selama ini terlalu lurus dan lugu.
Namun, realitas justru menamparnya dengan telak. Ketika Maskun memberanikan diri mencuri pandang ke arah Anie, gadis itu tampak biasa-biasa saja. Tidak ada rona merah di pipi, tidak ada tatapan penuh makna. Lebih parah lagi, teman-teman Anie yang menyadari nama Maskun muncul di layar saling lirik dan tersenyum simpul senyum yang di mata Maskun terasa seperti sebuah penghakiman telanjang atas kepengecutannya. Malam itu, di antara sisa-sisa wangi arang dan piring nasi liwet, Maskun merasa mati kutu. Angan-angan cinta semalamnya hancur seketika, digantikan oleh rasa perih yang menusuk-nusuk harga dirinya tanpa ampun.
Bagaimana Maskun bisa sampai pada malam yang terasa seperti kutukan itu? Semua berawal beberapa bulan sebelumnya, jauh sebelum ia mengenal rasa patah hati.
Bagi masyarakat di daerahnya, masjid adalah tempat ibadah yang indah dan tegar. Sebuah ruang romantis untuk merayu Tuhan Sang Maha Pencipta dengan untaian doa-doa. Setiap kali shalat Magrib tiba, pemandangan yang tersaji begitu rapi, baik dari segi pakaian maupun barisan shafnya. Di dalam sana, sekat-sekat duniawi runtuh. Berbagai kalangan dengan ragam pekerjaan dan status sosial melebur menjadi satu, membangun keharmonisan murni untuk berjamaah menghadap Tuhan.
Di antara jamaah yang khusyuk itu, Maskun memiliki tempatnya sendiri. Ia adalah seorang remaja SMK jurusan teknik, yang mungkin bisa dinobatkan sebagai remaja paling lugu di seluruh desanya. Kehadirannya selalu mudah ditandai. Bayangkan saja, seorang anak muda berbaju lusuh, namun dengan percaya diri menebarkan aroma parfum coolman yang luar biasa menyengat ke seluruh penjuru masjid. Saking tajamnya wewangian itu, tak jarang orang tua yang kebetulan berdiri di dekatnya sampai tidak kuat menahan napas.
Meski begitu, Maskun tidak pernah peduli. Ia selalu memejamkan mata, terlihat sangat khusyuk memanjatkan doa, seolah ada hal sangat mendesak yang sedang ia minta kepada-Nya.
Setelah jamaah perlahan bubar membawa urusannya masing-masing, Maskun pun ikut keluar, meski kadang masih ada satu doa yang belum sempat ia tuntaskan. Setiap kali melangkah melewati lorong masjid, perhatiannya selalu teralihkan oleh riuh suara anak-anak yang sedang menunggu kedatangan Ustadz untuk mengaji. Tawa dan canda mereka yang tanpa beban selalu berhasil membuat Maskun tersenyum sendiri. Jauh di lubuk hatinya yang paling sepi, terselip keinginan untuk ikut duduk bersila dan mengaji bersama mereka. Sayangnya, realitas segera menyadarkannya bahwa tak ada satupun remaja seusianya di kelompok itu. Niat tulus itu pun selalu menguap begitu saja, tertiup oleh rasa malu yang sudah menjadi tabiat dasarnya.
Dalam perjalanan pulangnya dari masjid, Maskun sering kali berpapasan dengan remaja-remaja seumurannya yang asyik nongkrong di persimpangan jalan. Mereka tertawa lepas, beberapa memamerkan sepeda motor modifikasi yang dibeli dari hasil merengek pada orang tua, sementara yang lain sibuk memamerkan ponsel keluaran terbaru. Sebuah ironi sosial yang sepertinya sudah mengakar di negeri ini dan tak lekang oleh zaman. Nilai seorang pemuda sering kali ditakar dari seberapa keras suara knalpotnya atau seberapa mahal barang yang menempel di badannya, bukan dari isi kepala apalagi kebersihan hatinya.
Maskun sadar betul akan hal itu. Sebagai remaja dengan baju lusuh dan statusnya sebagai siswa SMK jurusan teknik yang di mata masyarakat sering kali dipandang sebelah mata dan sekadar diproyeksikan menjadi kelas pekerja kasar, ia tahu dirinya berada di kasta bawah dalam hierarki pergaulan itu. Ia tak punya materi untuk dipamerkan selain sisa aroma parfum coolman-nya yang murahan.
Namun, semesta rupanya tidak selalu berpihak pada mereka yang bermodal harta. Suatu malam di tengah perjalanan pulang, takdir mengadang langkah Maskun dalam wujud tiga orang perempuan. Di sebelah kanan, ia mengenali wajah Fauziyah, anak tetangganya. Fauziyah berjalan beriringan dengan dua temannya yang menurut Maskun adalah orang asing.
Di saat remaja lain mungkin akan bersuit atau memamerkan harta untuk menarik perhatian, Maskun mematung. Namun, pandangan matanya ibarat anak panah yang melesat cepat dan akurat menuju titik sasarannya, salah satu teman asing Fauziyah itu. Tanpa dikomando, mereka saling memandang. Di tengah riuhnya standar sosial yang dangkal di sekeliling mereka, tatapan itu terasa sangat murni. Sebuah pandangan yang terdalam, merasuk ke jiwa, meski pada saat yang sama terasa mengambang dan penuh tanda tanya.
Gadis itu seakan menjadi anomali yang seketika meruntuhkan dunia Maskun.
Waktu berlalu. Sebulan setelah pertemuan tak sengaja itu, sebuah perubahan besar terjadi. Maskun, si remaja terlugu yang selalu dililit rasa malu itu, resmi mendaftarkan diri menjadi santri di masjid Al-Istikomah. Ia menepis semua kecanggungannya. Niatnya kini membelah dua, ia rajin beribadah dan aktif di sana tentu saja karena Allah SWT, namun di saat yang sama, murni karena perempuan itu. Pasalnya, akhir-akhir ini ia menyadari bahwa gadis tersebut rutin berada di masjid, memberi Maskun kesempatan untuk sering bertemu, walau semuanya masih sebatas saling bertukar pandang dalam diam.
Ternyata, gerak-gerik Maskun yang kikuk itu diam-diam mengetuk pintu hati sang gadis. Mereka mulai dekat. Nama perempuan itu adalah Anie, Anie Syarifatunnisa. Walau Maskun tahu betul nama seindah itu tidak ia dapatkan dari perkenalan tatap muka yang jantan, melainkan hasil curi dengar saat teman-temannya memanggil gadis itu. Sayangnya, sifat pemalu Maskun ibarat virus. Anie pun ikutan terkontaminasi rasa canggung setiap kali mereka berdekatan.
Konflik batin Maskun mencapai ujian pertamanya saat bulan suci Ramadhan tiba. Di malam Lebaran, saat gema bedug dan takbir bersahutan di seluruh desa, Maskun menjalankan misi rahasianya. Ia merancang sebuah kartu Lebaran cantik berisi puisi-puisi romantis. Karena tak punya alat sendiri, ia meminta bantuan Rizal untuk mencetaknya. Rizal si kawan yang polos itu tak pernah tahu bahwa di balik rancangan kartu dan kata-kata puitis itu, tersimpan perasaan spesial Maskun untuk Anie. Rizal mengira itu sekadar ucapan wajar antarkawan.
Saat kartu itu sampai, Anie meresponsnya dengan senyum tulus nan manis, mengucapkan, “Terima kasih, Kak!” dari kejauhan. Cinta memang perlahan bersemi saat di antaranya ada ketulusan.
Namun, musuh terbesar Maskun adalah dirinya sendiri. Puncak kebodohannya terjadi seusai shalat Id. Dalam perjalanan pulang, di depan rumah tetangga, ia melihat Anie dibalut pakaian muslim berwarna merah yang sungguh anggun dari kerudung hingga ujung celana. Maskun terpaku melihat kecantikan itu, namun insting pengecutnya mengambil alih, ia berpura-pura tidak melihat. Di dalam dadanya, ia meronta memohon, Panggil aku, panggil aku, panggil aku…
Dan doanya di-ACC oleh Tuhan. “Kak Maskun. Minal aidin wal faidzin…” sapa Anie. “Sama-sama…” balas Maskun.
Belum sempat ia memaksimalkan teatrikal kesempatan itu, sebuah bus pariwisata melintas bising, membuyarkan segalanya. Kepanikan melanda Maskun. Tanpa aba-aba, ia memecah senyum canggung dan langsung membalikkan badan, kabur begitu saja. Setibanya di rumah, ia mengutuki kebodohannya sendiri. Kenapa aku harus langsung pergi tanpa pamit padanya!
Waktu berlalu. Maskun, Rizal, dan Purnama kini harus menjalani tugas lapangan (PKL) di sebuah instansi Pemerintahan Daerah di Tasikmalaya. Mereka ngekost di rumah saudara Maskun, rela berjalan kaki cukup jauh menuju tempat magang agar uang saku tak habis untuk ongkos angkot. Jarak yang memisahkan Maskun dan Anie membuat kerinduannya mengendap.
Hingga suatu malam, Rizal mengutarakan ide jahil. “Eh, sudah lama kita tidak mengaji, kangen sama Pak Kapten. Bagaimana kalau kita kerjain saja anak ngajinya?” Pak Kapten adalah sebutan Rizal untuk guru ngaji remaja Al-Istiqomah. Maskun dan Purnama setuju. Strategi misscall terus-menerus ke nomor anak-anak masjid pun menjadi hiburan yang memunculkan wajah ceria di sela keriput lelahnya mereka bekerja.
Siapa sangka, kejahilan itu membuka jalan tak terduga. Suatu hari, saat Maskun sedang sendiri di kamar karena teman-temannya pulang lebih dulu, sebuah pesan SMS masuk ke ponselnya. Dari Anie. Isinya adalah undangan ngeliwet bersama di rumah Pak Ustadz. Bagi Maskun, undangan itu adalah sebuah sejarah yang tak mungkin datang dua kali dalam hidupnya. Esoknya, mumpung instansinya sedang libur, ia bergegas pulang. Maskun menyiapkan diri, berjalan menembus malam yang cerah menuju masjid, mengira bahwa malam itu akan menjadi malam penaklukan cintanya.
Dan seperti yang kita tahu, malam ngeliwet yang ia kira akan menjadi panggung kemenangannya itu, justru berubah menjadi arena eksekusi bagi harga dirinya.
Malam itu terasa berlalu terlalu cepat bagi Maskun, mengubur angan-angannya untuk sekadar merasakan kebersamaan yang manis dengan Anie. Ketika pagi tiba, dengan sisa-sisa harga diri yang masih berdarah, Maskun duduk terpaku menatap layar ponselnya. Ia menunggu, berharap Anie akan menghubunginya atau sekadar mengirim pesan ucapan selamat pagi.
Ternyata nihil. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan.
Bahkan ketika mereka tanpa sengaja berpapasan, Maskun melihat Anie bersikap biasa-biasa saja, seolah insiden semalam dan tatapan-tatapan murni mereka di masa lalu hanyalah ilusi yang diciptakan Maskun sendiri. Sikap biasa Anie itu ibarat pisau tak kasat mata yang menusuk-nusuk hati Maskun. Sakit. Namun di balik rasa sakit itu, nuraninya merutuki diri sendiri: Mengapa aku tidak bisa bersikap sedikit saja lebih jantan? Mengapa aku tidak berani menyapanya duluan, meneleponnya, atau nekat bertamu ke rumahnya?
Waktu terbukti menjadi hakim yang paling kejam. Tiga tahun telah terlewati sejak malam itu, dan Maskun masih saja memendam perasaannya dalam-dalam kepada Anie. Ia tidak pernah beranjak ke mana-mana, terpenjara oleh rasa penasarannya sendiri.
Hingga suatu hari, palu godam itu akhirnya benar-benar dijatuhkan.
Saat sedang bermain dengan teman-teman Rizal, ketidaksengajaan membawa Maskun pada sebuah percakapan yang meruntuhkan sisa pertahanannya. Ia mendengar secara langsung bahwa ada seorang pemuda yang sedang menunggu Anie untuk dijadikan pacar. Parahnya lagi, pemuda itu bercerita dengan suara lantang dan penuh percaya diri tepat di depan Maskun. Teman-teman Rizal yang lain seketika terdiam dan memandang Maskun dengan sorot mata dingin yang penuh rasa kasihan, sebab mereka semua tahu bahwa dulu Maskunlah yang sering pulang mengaji bersama-sama dengan Anie.
Di momen itu, Maskun diuji untuk terakhir kalinya. Namun, alih-alih meledak marah atau menyatakan perasaannya, ia tetaplah Maskun si pengecut. Ia menelan ludah, memasang wajah biasa-biasa saja dan membiarkan pembicaraan itu berlalu, walau di dalam dadanya badai tegang berkecamuk hebat sebelum akhirnya luruh menjadi sebuah kepasrahan total.
Sejak hari pembiaran itu, Maskun akhirnya menyadari sebuah kebenaran pahit. Cinta yang hanya dipendam adalah hukuman seumur hidup yang menyiksa dirinya sendiri. Waktu terus berjalan tanpa ampun. Bahkan ketika Maskun akhirnya menduduki bangku kuliah, bayang-bayang gadis campernik itu tidak pernah benar-benar lekang. Ia masih sering bergerilya, menanyai teman-teman yang dulu satu sekolah dengan Anie untuk mencari tahu nomor ponsel terbarunya, sebab nomor lama di memori Nokia second-nya sudah lama hangus dan tak aktif lagi.
Tahun berganti menjadi dekade. Usia muda menguap, digantikan oleh rambut yang memutih dan tubuh yang melambat. Maskun kini telah berkeluarga, bahkan rumahnya sering diramaikan oleh celoteh riang anak dan cucu-cucunya. Namun ironisnya, di tengah keramaian keluarganya sendiri, ada satu sudut di hatinya yang selalu terasa sunyi dan kosong.
Sampai usia menua dan tubuhnya merenta, pikiran Maskun diam-diam masih terus mencari sosok Anie. Ia terus mencari ke mana perginya gadis itu dan di belahan bumi mana ia kini berada. Pencarian tak berujung itu tak lagi bertujuan untuk memilikinya, melainkan sebuah obsesi putus asa untuk menebus dosa kepengecutannya di masa lalu, untuk sekadar menyatakan cinta yang puluhan tahun tertahan di ujung lidah. Pada akhirnya, Maskun hidup dalam penjara penyesalannya sendiri, sebuah tragedi ironis dari seseorang yang kalah sebelum sempat berperang.
Penulis Feby Surya A. Bashit
Tentang Penulis
Feby Surya A. Bashit lahir di Tasikmalaya 28 Februari 1990. Beralamat di Kp. Simpang Ds. Simpang Kec. Bantarkalong. Seorang pengajar di SMK Negeri juga sebagai dosen di universitas Bantarkalong Tasikmalaya. Pernah belajar menulis sastra kepada Bode Riswandi. Karya-karya sastra dalam bentuk puisi pernah dipublikasi di koran Priangan dan Harian Radar Tasikmalaya, dan puisinya tergabung dalam buku antologi puisi “Ungkapan yang Meracau”. Selain aktif menulis, juga berprestasi membimbing siswanya sering masuk ke provinsi dalam bidang menulis cerpen dan monolog pada ajang FLS3N tiap tahunnya.








