Puisi  

Pelabuhan Terakhir

pelabuhan terakhir

Karya: Dea Affriyanti

Mendekap lara yang begitu lama,
mengerahkan cakra teruntuk basmara yang sementara.
Kini, sudahlah lara, meski masih banyak sekali enigma.
Skema atas melaratnya jiwa kini sudah tak lagi dipelihara.

Dua… tiga… empat… sekarang hanya ada kasih penuh triasih.
Ku meraung sembari menggenggam jari-jari yang kini bobotnya sama.
Esok ku pergi dengan raut yang benar selaras tanpa adanya belas kasih,
milik puja yang datang bak fenomena yang berkharisma.

Hidupku penuh laksamana yang tak berencana.
Ku ikhlas lelap dalam bait yang tadinya penuh akan wasima,
tapi kini dipetik oleh wirasana yang sangat berdaya.
Tak ada lagi bab pertanda bahaya, esok aku pulang…

Siapa yang akan dikalungi dengan gelar anggakara,
yang cakap dalam menghidupkan detak yang mati sedari lama?
Bukan sekadar opera yang berpura-pura,
tetapi terakhir untuk mengisi sukma dengan kondisi prima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *