Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Saya menjadi bagian dari hilir mudik manusia di Queens, hadir di hiruk pikuk Jalan Steinway. Jalan yang terasa seperti potongan dunia yang dipadatkan dalam satu kawasan. Ada lounge Brasil, restoran Peru, ramen Tokyo, bakery Paris, supermarket Arab, toko kosmetik Korea hingga deretan gerai halal khas Timur Tengah yang aromanya memenuhi trotoar.
Saya terus melangkah mengikuti keramaian. Di sela deretan toko dan restoran itu, berdiri sebuah bangunan yang tidak terlalu mencolok. Tidak ada kubah besar atau menara menjulang tinggi. Tapi menjelang siang hari Jumat, arus manusia menuju bangunan itu membuat saya sadar, inilah salah satu pusat kehidupan muslim di Queens, New York.
Masjid Al Iman di Jalan Steinway.
Baca juga: Di Balik Gemerlap Times Square, Ada Gerobak Halal yang Menggerakkan New York
Masjid di tengah wajah multikultural New York


Sekilas bangunan Masjid Al Iman tampak seperti bangunan komersial lain di sekitarnya. Warna fasadnya sederhana, tanpa ornamen berlebihan. Hanya tulisan “Al Iman Mosque” yang cukup besar di bagian depan. Pintu masuknya berbentuk lengkung menyerupai kubah kecil.
Kalau bukan hari Jumat, mungkin banyak orang akan melewatinya begitu saja tanpa sadar itu masjid.
Namun hari itu suasananya berbeda. Saya melihat jamaah terus berdatangan dari berbagai arah. Sebagian tampak seperti pekerja restoran, sopir taksi, pegawai toko, hingga pekerja kantoran. Wajah-wajah yang menunjukkan keberagaman New York hadir di sini. Ada yang tampak berasal dari Pakistan, Bangladesh, Turki, Arab, Asia Tengah hingga Afrika Utara.
Saya mencoba mencari wajah Melayu di antara keramaian.
“Assalamualaikum Bapak, dari Indonesia ya?”
Saya menoleh dan mendapati seorang anak muda tersenyum ramah. Ternyata ia orang Bandung yang sudah lima tahun tinggal di New York. Awalnya datang untuk sekolah, lalu mendapat pekerjaan dan akhirnya menetap.
“Di sini capek sih, tapi gajinya juga beda jauh dibanding Jakarta,” katanya sambil tertawa kecil.
Percakapan singkat di negeri orang langsung terasa akrab. Lalu kami berpisah karena waktu salat semakin dekat dan saya menuju tempat wudhu.
Jumatan di New York, suasananya ternyata familiar


Begitu masuk ke dalam masjid, suasana langsung berubah lebih tenang. Ada bangku panjang untuk membuka sepatu sebelum masuk lebih dalam menuju rak sepatu bertingkat yang kapasitasnya besar.
Tempat wudhu berada di lantai bawah melewati tangga. Sistemnya berdiri, bukan duduk seperti banyak masjid Timur Tengah. Kamar mandi tertutup rapi dengan pintu yang bisa dikunci, mengingatkan saya pada fasilitas di Masjid Nabawi.
Ruang salat utama dilapisi karpet merah yang empuk. Ukurannya cukup luas, mungkin bisa menampung sekitar 500 jamaah. Lantai bagian belakang dibuat sedikit lebih tinggi sehingga saf tetap terlihat jelas.
Jamaah berdatangan dengan tertib dan tenang. Tidak ada suara keras. Sebagian membaca Al-Qur’an, sebagian duduk bersandar di dinding, ada juga yang duduk di kursi yang memang disediakan untuk jamaah lansia.
Yang menarik, suasana jumatan di sini sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia. Bedanya hanya bahasa.
Ketika khatib naik mimbar dan azan berkumandang, semua jamaah langsung bersiap. Ceramah disampaikan penuh dalam bahasa Arab tanpa sisipan bahasa Inggris. Saya hanya menangkap beberapa bagian yang familiar dari ayat dan doa. Durasi khutbah pun relatif singkat, mungkin sekitar 25 menit. Tidak jauh berbeda dengan jumatan di Jakarta atau Bandung.
Imam membaca Surat Al-Ghasyiyah pada rakaat pertama dan Surat Al-A’la pada rakaat kedua. Bacaan imam merdu dan tenang, membuat suasana salat terasa hangat walau berada ribuan kilometer dari Indonesia. Selesai salat, sebagian jamaah langsung keluar karena harus kembali bekerja. Sebagian lain tetap duduk mengikuti pengumuman dan diskusi komunitas masjid. Saya memilih keluar karena perut mulai memberi tanda.
Couscous porsi raksasa dan filosofi keberkahan


Tepat di seberang jalan dari masjid, ada restoran bernama Little Morocco yang sejak awal memang menarik perhatian saya. Begitu masuk, aroma khas Afrika Utara langsung menyambut. Campuran harum cumin, kayu manis, kunyit dan daging panggang memenuhi ruangan kecil itu.
Tempat duduk di dalam penuh, jadi saya memilih area luar ruangan di pinggir trotoar. Duduk di bawah matahari musim panas New York yang hangat sambil melihat lalu lalang manusia Queens terasa menyenangkan. Konsep pemesanannya sederhana seperti restoran cepat saji. Pesan di dalam, bayar, lalu makanan dibawa sendiri ke meja.
Saya memilih menu Moroccan Couscous ayam. Tidak lama kemudian pesanan datang. Saya langsung paham kenapa banyak orang Timur Tengah makan bersama. Porsinya besar sekali.
Di atas piring tersaji couscous berbentuk bulir-bulir kecil seperti nasi menir yang disiram kuah rempah berwarna kuning keemasan. Di atasnya ada potongan ayam besar, wortel, kol, labu, kacang arab dan kismis. Aromanya hangat dan dalam. Rempah cumin dan cinnamon terasa dominan tapi lembut. Ayamnya empuk dan kaya rasa. Couscous menyerap kuah dengan baik sehingga setiap suapan terasa gurih sekaligus sedikit manis dari kismis.
Baca juga: Paris, Harissa Tunisia dan Sholat Ied yang Tak Sempat Ditunaikan
Saya baru tahu bahwa dalam budaya Maroko, couscous memang sering disajikan dalam porsi besar sebagai simbol penghormatan kepada tamu dan harapan akan keberkahan. Makanan tidak hanya soal kenyang, tapi juga tentang doa baik bagi yang memberi dan yang menerima.
Saya duduk perlahan menghabiskan couscous sambil memandang jalan Steinway yang tetap sibuk. Orang-orang berlalu lalang dengan bahasa dan budaya berbeda-beda. Di Queens, New York, saya menemukan sesuatu yang sederhana tapi hangat.
Sebuah masjid tanpa kubah besar, sepiring couscous hangat, dan rasa bahwa sejauh apa pun pergi, suasana akrab itu selalu bisa ditemukan.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.














