Milenianews.com, Jakarta— Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 baru saja berlalu. Berikut ini Catatan Pendidikan yang disampaikan oleh Dr. Zulfikri Anas M.Ed., dosen FKIP Universitas Terbuka (UT):
Masalah Paradigma
- Pendidikan masih dipahami sebagai sistem seleksi, bukan sistem pelayanan.
- Sekolah “baik” sering diukur dari siapa yang berhasil disaring, bukan siapa yang berhasil dibina.
- Segmentasi pendidikan semakin tajam (negeri vs swasta, unggulan vs non-unggulan, kota vs desa, umum vs keagamaan), sehingga pendidikan kehilangan ruh inklusivitasnya.
- Kebijakan berbasis standar seragam mengabaikan keragaman konteks.
- Anak dipaksa menyesuaikan sistem, bukan sistem yang menyesuaikan kebutuhan anak.
Pembelajaran: Krisis Makna dan Keterlibatan
- Pembelajaran masih didominasi ceramah dan hafalan, minim eksplorasi, dialog, dan pengalaman kontekstual.
- Anak tidak kehilangan konsentrasi, tetapi kehilangan makna belajar.
- Mereka mampu fokus pada hal yang relevan bagi mereka (misalnya game), tetapi tidak pada pembelajaran yang kering.
- Minimnya desain pembelajaran yang menarik dan adaptif, padahal dunia luar (teknologi, game, media) sangat progresif memahami psikologi anak.
- Penilaian masih berorientasi hasil akhir, bukan proses belajar dan perkembangan individu.
Zulfikri Anas lalu menyodorkan Revolusi Pembelajaran:
- Alihkan dari ceramah ke pembelajaran aktif, kontekstual, dan berbasis proyek.
- Adopsi prinsip desain dari dunia digital (tantangan bertahap, feedback cepat, tujuan jelas).
- Kembangkan asesmen formatif berkelanjutan yang menilai proses dan perkembangan individu.
- Pendidikan inklusif bukan sekadar akses, tetapi kualitas pengalaman belajar yang adil bagi setiap anak.
- Reformasi kurikulum dan pembelajaran harus diarahkan pada penciptaan makna, keterlibatan, dan relevansi.
- Negara tidak hanya bertugas mengatur pendidikan, tetapi memastikan setiap anak, tanpa kecuali, mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu dan bermakna.












