Potret (Kuno) Suku Quraisy

Judul:  Suku Quraisy

Penerbit: Pustaka Alvabet, Banten

Penulis: Awathif Adib Salamah

Cetakan: 1,  2024

Tebal: 440+vi hlm

Milenianews.com, Ngobrolin Buku– Kata para alim, “separuh kejeniusan seseorang ada dalam tulisannya. Maka, menulislah agar semesta tahu wajah kejeniusan kita.” Ini sumber tenagaku untuk membaca dan menulis. Ya, Ramadan kali ini, Nusantara Centre mendiskusikan banyak buku. Salah satunya buku ini: Suku Quraisy, karya Awathif Adib Salamah.

Dalam bukunya, Awathif berhipotesa bahwa suku Quraisy  berasal dari keturunan Fihr bin Malik (ia bagian dari suku Kinanah). Fihr bin Malik adalah anak dari Malik bin al-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Ismail bin Ibrahim. Jadi sumber tertuanya itu Ibrahim (peletak dasar Ka’bah).

Etimologi “Quraisy” sendiri berasal dari kata “taqarrusy”, yang berarti “berkumpul bersama” atau “perkumpulan.” Nama ini diberikan karena Qusayy bin Kilab, keturunan keenam dari Fihr bin Malik, berhasil menyatukan klan-klan Quraisy dan mengambil alih kendali atas Ka’bah di Mekkah.

Suku ini awalnya hidup nomaden dan tersebar di antara kerabat Kinanah mereka. Namun, setelah Qusayy bin Kilab menyatukan mereka, suku ini jadi kekuatan dominan di Mekkah; menguasai perdagangan dan politik di kota tersebut.

Dalam riset Awathif, suku Quraisy dikenal sebagai pedagang handal yang menguasai jalur perdagangan internasional, terutama antara Syam dan Yaman.

Mereka dipercaya sebagai pengurus Ka’bah dan memiliki peran penting dalam ritual haji. Hal ini karena mereka punya kualitas spiritual yang dalam dan dikenal sebagai penganut agama monoteisme.

Mereka memiliki etos kerja yang kuat dan tekun dalam berpolitik karena punya kultur kepemimpinan yang kuat serta berpengaruh besar di Jazirah Arabiah.

Sayangnya, suku Quraisy awalnya menolak ajaran Islam (mereka penyembah berhala) dan bahkan melakukan penindasan terhadap umat Islam. Hal ini karena mereka memiliki kekuasaan yang berlebihan sehingga sering menyalahgunakannya.

Saat bersamaan, mereka punya warisan watak konflik dan perpecahan di antara klan-klan yang berbeda. Kini warisan itu terlihat saat bangsa Iran diserang Amerika dan Israel: tak satupun negeri-negeri Arabiyah bersekutu membantu.

Dalam buku ini, Awathif juga menjelaskan bagaimana suku Quraisy menjadi kekuatan besar, berpengaruh dan disegani di jazirah Arabiah, terutama di kota Mekkah.

Secara tematik, ia menulis asal-usul suku Quraisy; peran politiknya; peran ekonominya; peran keagamaannya; dan tentu saja pengaruh mentalitas kesukuannya.

Walau ditulis berdasarkan penelitian yang serius dan teliti; menggunakan sumber-sumber sejarah dan tradisi lisan; bersumber utama Alquran, beberapa kekurangannya tetap hadir: (1)Buku ini sangat bergantung pada sumber-sumber sejarah dan tradisi lisan kuno yang memiliki keterbatasan informasi sehingga membawa cacat bibliolatrik (tekstualis); (2)Buku ini lebih banyak menyajikan informasi sejarah tanpa melakukan analisis kritis yang mendalam; (3)Tidak ditemukan referensi modern yang digunakan, sehingga kurang up to date.

Tentu saja buku ini sangat keren karena detil dan super “ideologis” sehingga membaca kata “jahiliyah” adalah ketiadaan adab, amoral, syirik, sombong, dan bodoh dari kebenaran serta kewarasan (h. 93). Dus, kita layak membaca demi keinginan membangun kembali peradaban muslim yang hakiki.

Resensor: Yudhie Haryono (Pengasuh Pesantren Yusufiah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *