Milenianews.com, Jakarta – Ketika sebagian warga ibu kota terlelap, ratusan orang justru melangkah masuk ke pelataran Masjid Istiqlal. Mereka tidak datang untuk sekadar salat tarawih lalu pulang. Sebaliknya, mereka memilih menetap, membentangkan sajadah, lalu menghidupkan malam dengan doa dan bacaan Al-Qur’an. Di sepuluh malam terakhir Ramadan, masjid terbesar di Asia Tenggara itu berubah menjadi ruang perenungan yang nyaris tak pernah sepi.
Setiap tahun, pengelola masjid membuka kesempatan bagi jamaah untuk menjalani itikaf sepanjang sepuluh malam terakhir. Selain itu, panitia juga menyelenggarakan program itikaf terpadu dengan kuota terbatas. Namun demikian, jamaah umum tetap bisa datang tanpa mengikuti program khusus. Karena itu, suasana masjid terasa padat tetapi tertib. Jamaah duduk berbaris, sebagian membaca Al-Qur’an dengan suara lirih, sementara yang lain terdiam menengadahkan tangan.
Baca juga: Menyelami Kebaikan dalam Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan
Ritme Ibadah yang Terjaga Sepanjang Malam
Pertama, jamaah memulai malam dengan salat Isya dan tarawih berjamaah. Setelah itu, mereka tidak langsung beranjak. Mereka beristirahat sejenak, lalu kembali berdiri untuk tahajud. Selanjutnya, menjelang dini hari, lantunan doa semakin panjang dan khusyuk. Akhirnya, ketika azan Subuh berkumandang, mereka menyambutnya dengan wajah lelah tetapi hati yang terasa lapang.
Rizky (27), karyawan swasta asal Bekasi, sengaja mengambil cuti dua hari agar bisa fokus beritikaf. Ia memilih Masjid Istiqlal karena suasananya membantunya menjaga konsistensi ibadah.
“Kalau di rumah, saya sering terdistraksi oleh hp atau pekerjaan. Namun, ketika saya di sini, saya merasa lebih terkendali,” ujarnya setelah menyelesaikan salat tarawih, Jumat (27/2) . “Melihat orang lain tetap bangun dan beribadah membuat saya ikut semangat. Jadi, saya tidak mudah menyerah pada rasa kantuk.”
Ia menambahkan bahwa itikaf memberinya ruang untuk mengevaluasi diri. Selama ini, ia merasa ritme hidupnya terlalu cepat. Karena itu, ia memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan untuk memperlambat langkah dan menata ulang prioritas.
Baca juga: Allah Sembunyikan 6 Misteri, Salah Satunya Lailatul Qadar
Ruang Sunyi untuk Para Ibu dan Pekerja
Sementara itu, Rahmawati (34), ibu dua anak asal Jakarta Selatan, datang bersama kakaknya. Ia tidak mengikuti program terpadu, tetapi tetap bermalam selama dua malam. Menurutnya, itikaf bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan kebutuhan batin yang sulit ia dapatkan di tengah rutinitas rumah tangga.
“Sebagai ibu, saya sering mendahulukan kebutuhan orang lain. Namun, lewat itikaf, saya memberi waktu untuk diri saya sendiri,” tuturnya. “Saya datang ke sini dengan banyak doa. Saya ingin memohon kekuatan dan ketenangan.”
Ia juga mengaku merasakan suasana yang berbeda ketika memasuki malam-malam ganjil. Jamaah tampak lebih khusyuk, dan masjid terasa lebih hening. Karena itu, ia berusaha memaksimalkan setiap waktu yang ada. “Kami semua berharap bertemu Lailatul Qadar. Jadi, kami berusaha lebih sungguh-sungguh,” katanya.
Itikaf Terpadu dan Latihan Disiplin
Selain jamaah umum, peserta itikaf terpadu menjalani jadwal yang lebih terstruktur. Fadil (22), mahasiswa asal Depok, mengikuti program tersebut selama sepuluh hari penuh. Ia mengikuti kajian, tadarus bersama, dan qiyamullail berjamaah secara rutin. Dengan demikian, ia merasa ritme ibadahnya lebih terarah dan terjaga.
“Awalnya saya ragu bisa bertahan sepuluh hari. Namun, setelah menjalani hari pertama, saya justru merasa nyaman,” jelasnya. “Panitia mengatur jadwal dengan baik. Jadi, kami tetap punya waktu istirahat, tetapi fokus utama tetap ibadah.”
Menurut Fadil, tantangan terbesar datang dari dalam diri sendiri. Ia harus menahan keinginan membuka media sosial terlalu sering dan melawan rasa malas. Meski begitu, ia menilai perjuangan itu sepadan dengan ketenangan yang ia rasakan.
Baca juga: Keutamaan dan Amalan di Malam Nisfu Syaban
Mencari Cahaya, Menjaga Nyala
Di sela waktu sahur, panitia membagikan makanan sederhana. Jamaah duduk berdekatan, lalu berbagi cerita singkat sebelum kembali tenggelam dalam doa. Momen itu memperlihatkan bahwa itikaf bukan hanya ibadah personal, melainkan juga pengalaman kolektif yang menguatkan.
Akhirnya, ketika matahari terbit dan sebagian jamaah bersiap pulang, suasana masjid perlahan berubah. Namun, bagi mereka yang beritikaf, malam-malam itu meninggalkan jejak mendalam. Mereka tidak hanya mengejar satu malam istimewa, tetapi juga membangun kebiasaan baik dan memperkuat hubungan spiritual.
Dengan demikian, itikaf di Masjid Istiqlal tidak sekadar menjadi tradisi tahunan. Ia menjelma menjadi ruang jeda di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Di bawah kubah besar itu, para jamaah belajar menundukkan ego, menata niat, dan berharap agar cahaya Ramadan tetap menyala, bahkan setelah bulan suci usai.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













