Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Menjelang tahun 1800, Tanjung Pinang dan Pulau Bintan adalah pelabuhan dagang yang ramai dan makmur. Selain penduduk lokal, perdagangan diramaikan para perantau Bugis. Belanda dan Inggris, dua kekuatan maritim saat itu, terlibat persaingan sengit memperebutkan jalur dagang di wilayah ini.
Belanda berhasil menggulingkan penguasa lokal dan mengontrol perdagangan. Inggris tidak tinggal diam. Pada 1819, Raffles mendirikan pos di Singapura. Langkah ini ditentang Belanda yang menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari pengaruh dagangnya. Ketegangan meningkat menuju perang terbuka, tetapi akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian London 1824.
Inggris tetap menguasai Singapura dan Malaya di utara, sementara Belanda memperoleh wilayah selatan seperti Bintan, Batam, dan Karimun. Setelah traktat ini, Bintan meredup sebagai pelabuhan dagang karena Inggris menjadikan Singapura sebagai pelabuhan bebas. Sejak saat itu, wilayah serumpun Melayu seperti Riau Kepulauan, Malaysia, dan Singapura terpisah secara politik hingga hari ini.
Baca juga: Kupang, Wajah Indonesia Timur yang Tenang
Pulau Penyengat, pintu masuk Bintan

Hari ini saya berada di Pulau Penyengat, pintu masuk Pulau Bintan. Dahulu pulau ini menjadi tameng pelindung Kerajaan Riau dari berbagai ancaman. Letaknya strategis dan kontur alamnya berbukit, menyulitkan penyerang mendekat. Dari puncak bukit, kapal asing yang datang bisa terlihat jelas.
Pulau Penyengat praktis menyatu dengan Bintan. Jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari Tanjung Pinang. Dari satu sisi terlihat kehidupan kota, dari sisi lain terasa suasana pulau kecil yang tenang. Untuk mencapainya, saya naik kapal motor kecil yang disebut pompong. Waktu tempuh sekitar 10 menit, tergantung ombak.
Saya menuju dermaga penyeberangan di kawasan kota lama. Tiket seharga Rp10.000 dibeli di loket sederhana. Tidak ada jadwal tetap, kapal berangkat ketika penumpang cukup. Sekitar 10 orang naik bersama saya, kapasitas maksimal mungkin 15 orang.
Dari dermaga keberangkatan, kubah Masjid Raya Sultan Riau sudah terlihat. Begitu tiba, beberapa becak motor menawarkan jasa. Saya memilih berjalan kaki mengikuti arus penumpang. Keluar dari gerbang dermaga, saya menyusuri jalan lurus menuju masjid yang berada di sisi kanan. Suasana keseharian Pulau Penyengat menyambut: nelayan duduk di teras rumah panggung, warung kecil melayani pembeli, ibu-ibu lalu-lalang menuju Tanjung Pinang, dan kios suvenir menyapa wisatawan.
Masjid dengan putih telur

Berdiri di gerbang masjid, mata langsung tertuju pada warna kuning diraja dengan aksen hijau. Kuning adalah warna tradisi Melayu, melambangkan kesetiaan dan kemuliaan. Hijau identik dengan Islam.
Secara arsitektur, masjid ini unik. Ia memadukan unsur Melayu, neoklasik Belanda, Turki Usmani, dan Mughal India. Kubah utama besar dikelilingi 12 kubah kecil. Bentuk setengah lingkaran menunjukkan pengaruh Turki. Di setiap sudut berdiri menara ramping dengan ujung runcing, mengingatkan pada arsitektur Mughal.
Serambi depan ditopang pilar-pilar besar bergaya kolonial Hindia Belanda. Pintu dan jendela berukuran besar menyesuaikan iklim tropis, memungkinkan sirkulasi udara yang baik. Lantai marmer menambah kesejukan. Masjid ini dikenal karena konon menggunakan putih telur sebagai bahan pengikat campuran pasir, batu, tanah liat, dan kapur. Campuran itu membuat bangunan kokoh hingga kini.
Di dalam, lampu kristal Eropa tergantung di tengah ruang, serasi dengan mimbar kayu jati berukir halus. Motif bunga, tumbuhan, dan kaligrafi ayat mempertegas identitasnya sebagai tempat ibadah. Di luar masjid, becak motor berjajar. Jika ingin berkeliling pulau, kendaraan ini bisa disewa. Pulau tidak besar, tetapi menyimpan benteng pertahanan dan makam raja-raja sebagai jejak sejarah perlawanan terhadap kolonialisme.
Teh Nai dan Nasi Ayam Bintan

Perjalanan belum lengkap tanpa kuliner. Di Tanjung Pinang, saya menuju Akau Potong Lembu, pusat jajanan malam yang legendaris. Jika Masjid Sultan menyatukan berbagai budaya arsitektur, maka Akau adalah tempat bertemunya budaya kuliner Melayu dan peranakan.
Area ini berada di pusat kota lama yang telah direvitalisasi. Saya datang setelah Magrib, saat kios mulai ramai. Asap panggangan ikan dan ayam mengepul, aroma sate bercampur suara percakapan.
Baca juga: Pempek di Kampung Pempek: Menghirup Identitas Palembang dari Mangkok Cuko
Sebagai pembuka, saya memesan siput gonggong. Siput laut ini direbus dan dimakan dengan bantuan tusuk gigi untuk mengeluarkan dagingnya dari cangkang, lalu dicocol sambal nanas asam pedas. Untuk hidangan utama, saya memilih nasi ayam Bintan. Mirip nasi Hainan, tetapi ayamnya digoreng cepat setelah direbus sehingga bagian luar renyah sementara bagian dalam tetap lembut.
Minuman yang ditawarkan adalah teh obeng, sebutan lokal untuk es teh manis. Saya memilih teh nai. Berbeda dengan teh tarik yang menggunakan susu kental manis dan teknik ditarik untuk menghasilkan buih, teh nai memakai susu evaporasi dengan tambahan gula secukupnya. Rasanya lebih ringan dan gurih.
Tanjung Pinang meninggalkan kesan mendalam. Ada sejarah, ada identitas Melayu, ada rasa yang sederhana namun kuat. Saya merasa sedikit lebih dekat dengan akar budaya sendiri.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







