News  

Ketika Nyawa Seharga Buku dan Pena: Surat Terakhir Bocah SD di NTT yang Menampar Wajah Pendidikan Kita

Buku dan Pena
Source: HUMAS POLRES NGADA

Milenianews.com, Ngada – Di saat elit politik di Jakarta sibuk berdebat soal program makan bergizi gratis atau mimpi muluk tentang “Indonesia Emas 2045”, di sebuah sudut sunyi Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang bocah berusia 10 tahun justru mengakhiri hidupnya karena alasan yang begitu sederhana, namun begitu menyakitkan, “Ia tak punya buku dan pena.”

Kamis, 29 Januari 2026 lalu, menjadi hari yang kelabu, bukan hanya bagi keluarga YBS, siswa kelas IV SD tersebut, tapi juga bagi nurani bangsa ini. Di usianya yang masih sangat belia, di mana seharusnya ia sibuk bermain bola atau mengejar layangan, YBS memilih menyerah pada keadaan. Ia pergi bukan karena sakit penyakit, melainkan karena rasa malu dan beban mental akibat kemiskinan yang mencekik.

Kematian YBS bukan sekadar statistik bunuh diri. Ini adalah alarm keras yang berbunyi nyaring di telinga kita semua, bahwa ada yang salah “sangat salah” dengan pemerataan kesejahteraan dan akses pendidikan di negeri ini.

Baca juga: Maraknya Kasus Bunuh Diri dan Bagaimana  Cara Menghindarinya

Surat perpisahan dalam Bahasa Ngada

Dalam postingan akun Instagram milenianews, Selasa (3/2), mengungkapkan bahwa YBS ditemukan tak bernyawa di pohon cengkih yang tak jauh dari pondok neneknya dalam keadaan yang tak patut dibayangkan, menimpa seorang anak kecil. Namun, yang membuat hati siapa pun remuk redam adalah penemuan sepucuk surat di lokasi kejadian. Secarik kertas dengan tulisan tangan khas anak-anak, yang ditulis dalam bahasa daerah Ngada.

Kepala Seksi Humas Polres Ngada, Inspektur Dua Benediktus E. Pissort, mengonfirmasi temuan tersebut. Polisi menduga kuat surat itu ditulis sendiri oleh korban sebelum ia memutuskan untuk pergi selamanya. Isinya bukan amarah, bukan pula tuntutan. Isinya adalah pamitan. Ia meminta ibunya untuk tidak bersedih.

Bayangkan beban psikologis macam apa yang ditanggung bocah 10 tahun, hingga ia merasa kematian adalah solusi terbaik untuk meringankan beban orang tuanya? Di saat anak-anak kota merengek minta gadget terbaru atau voucher game online, YBS hanya menginginkan alat tulis untuk belajar, dan ketika itu tak terpenuhi, ia merasa dunianya runtuh.

Baca juga:Cegah Bunuh Diri di Kalangan Mahasiswa Lewat Edukasi Mental 

Pena yang tak terbeli dan pagi yang murung

Kronologi kepiluan ini bermula dari hal yang sangat manusiawi. MGT (47), ibu korban, menuturkan dengan getir bahwa anaknya sempat meminta uang. Bukan uang jajan, melainkan uang untuk membeli buku dan pena.

Namun, apalah daya. Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas membuat sang ibu belum bisa menyanggupi permintaan “mewah” tersebut. Bagi keluarga prasejahtera, uang untuk membeli buku tulis mungkin setara dengan jatah beras untuk makan hari itu.

Pagi itu, sebelum kejadian, tetangga menyaksikan YBS terlihat murung. Ia tidak berangkat ke sekolah. Bisa jadi, ia malu. Bagaimana ia bisa duduk di kelas, mencatat pelajaran, jika pena saja tak punya? Rasa malu di hadapan teman-teman dan guru, bercampur dengan rasa bersalah karena membebani orang tua, tampaknya menjadi akumulasi rasa putus asa yang meledak dalam kesunyian.

Warga sekitar mengenal YBS sebagai anak yang periang dan cerdas. Ia bukan anak nakal. Ia punya potensi. Namun, potensi itu kini terkubur bersama jasadnya yang kaku, kalah oleh kemiskinan struktural yang tak kunjung terurai.

Baca juga: Mahasiswa PPDS UNDIP Bundir, Diduga karena Bullying

Potret buram di tengah gembar-gembor anggaran pendidikan

Kasus ini sontak memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Mengutip laporan Kompas, Anggota DPR RI menyebut kejadian ini sebagai “potret buram hak dasar pendidikan”. Frasa yang terdengar klise, namun itulah kenyataannya.

“Peristiwa tersebut merupakan potret buram dunia pendidikan nasional yang menunjukkan masih adanya celah besar dalam pemenuhan hak dasar belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu,” ujar Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/2/).

Tragedi YBS menelanjangi ketimpangan yang menganga lebar. Kita sering mendengar klaim bahwa anggaran pendidikan adalah porsi terbesar dalam APBN (20 persen). Namun, pertanyaannya, ke mana larinya triliunan rupiah itu jika seorang anak di NTT masih harus meregang nyawa hanya karena tidak mampu membeli buku tulis?

Sistem pendidikan kita mungkin sudah “gratis” di atas kertas melalui dana BOS dan program sejenisnya. Tapi realitanya, komponen pendukung sekolah, seperti seragam, sepatu, buku tulis, pena, masih menjadi barang mahal bagi jutaan keluarga di pelosok Indonesia. Sekolah gratis menjadi tidak ada artinya jika siswa tidak punya alat untuk menulis masa depan mereka.

Di saat media sosial penuh dengan konten pamer kekayaan (flexing) dan gaya hidup hedonis, kematian YBS adalah tamparan realita. Bahwa di negara yang sama, ada anak yang merasa hidupnya tidak lagi berharga hanya karena ketiadaan alat tulis seharga beberapa ribu perak.

Baca juga: Siswi SMA Bunuh Diri, Depresi karena Tugas Sekolah Menumpuk

Kepergian yang meninggalkan PR besar bagi kita semua

YBS kini sudah tenang di sana, seperti yang ia tulis dalam surat terakhirnya. Ia tidak perlu lagi cemas memikirkan bagaimana cara mencatat pelajaran esok hari. Ia tidak perlu lagi merasa malu datang ke sekolah dengan tangan kosong.

Namun, bagi kita yang masih hidup, bagi pemerintah, dan bagi para pemangku kebijakan, kematian YBS meninggalkan “PR” besar yang tak bisa diselesaikan hanya dengan ucapan belasungkawa.

Jangan sampai ada YBS lain. Jangan sampai pena dan buku “yang seharusnya menjadi jembatan menuju mimpi” justru menjadi tembok tinggi yang membuat anak-anak bangsa putus asa dan memilih mati. Fenomena ini harusnya membuat kita, terutama para pejabat yang duduk nyaman di kursi empuk, merasa gagal. Gagal melindungi tunas bangsa dari kejamnya kemiskinan.

Selamat jalan, Dek. Maafkan negeri ini yang gagal menyediakan pena untukmu menuliskan cita-cita.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *