Kutemukan Cahaya di Balik Wabah yang Melanda

“PENGUMUMAN!! Seluruh siswa dimohon untuk memasuki kelasnya masing-masing, karena ada informasi yang akan disampaikan oleh Bapak Ibu wali kelas”

Suara itu memecahkan suasana gaduh di depan kelas dan kantin, yang tak lain dan bukan bersumber dari para siswa yang sedang bersenda gurau saat jam istirahat. Terlihat sudah ada beberapa wali kelas yang mulai memasuki ruang kelas, diikuti anak didiknya.

ADOP

Tak berselang lama, Bu Yuni wali kelas 9B, juga sudah terlihat berjalan menuju ruang kelas anak didiknya. Namun di dalam rungan itu, terlihat hanya beberapa siswi putri saja, ruangan itu nampak sepi. Tak heran sih, kelas 9B memanglah kelas yang dikenal dengan kelas yang sangat susah diatur, untung ada Bu Yuni, guru yang terkenal cantik dan ramah bisa sabar menghadapi mereka.

Baca Juga : Peranan Pancasila Pada Masa Pandemi Covid-19

Jadi gak heran lagi kalau Pak Kepsek (Kepala Sekolah) menugaskan guru cantik itu untuk mengatur dan mendampingi kelas bandel ini Selain cantik, Bu Yuni juga sabar, lemah lembut baik hati pula orangnya. Kelas 9B adalah kelas yang sangat sering didatangi guru BK karena suara para penghuninya yang seringkali memecahkan fokus belajar kelas lain.

Oke kembali ke topik! Bu Yuni meminta Dhesta untuk memanggil teman-temannya yang belum masuk kelas. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya gerombolan anak-anak yang sangat tertib (tapi boong) itu, akhirnya datang dan langsung masuk kelas.

“Jadi anak-anak, saya mau menyampaikan berita, kalo kalian mendengarnya pasti senang,” ucap Bu Yuni sambil terseyum.

“Berhubung Ibu yang bilang, aku percaya deh. Tapi kalo guru lain yang bilang, aku nggak akan percaya begitu saja sih. Soalnya sesuai pengamatan saya selama kurang lebih 9 tahun ini, guru itu suka php-in muridnya,” gumam Ghata si ketua kelas tengil itu, yang sedang kumat penyakit ngelanturnya.

“Berita apa Bu, kok tumben nggak disampaikan di aula?,” si ambis bertanya dengan wajah santai, padahal biasanya mukanya nggak bisa santai, apalagi kalo tanya tentang materi pelajaran, mukanya nakutin, kayak rentenir.

“Kalian sudah tau berita tentang virus corona? Katanya warga Indonesia sudah ada yang terinfeksi, jadi untuk mencegah penularan virus ini, kalian diliburkan selama dua minggu,” sontak seisi ruangan berteriak kegirangan. Ini adalah berita yang sangat membuat hati para siswa berbunga-bunga. Nggak tau saja mereka bukan hanya libur dua minggu, tapi dua tahun hahaha.

“Dhestaaa,” teriak Ibuku.

“Iya?,” sontak aku kaget dan terbangun dari tidurku.

“A…ada apa?,” tanyaku kemudian.

“Barusan Ibu guru telpon, katanya kamu suruh ke sekolah buat ngembaliin buku sekolah yang belum kamu kembaliin.”

Sudah empat setengah bulan Dhesta tidak bertemu dengan teman-temannya, ia senang dengan adanya undangan ke sekolah untuk mengembalikan buku, sebab sejak pengumunan libur yang tadinya hanya dua minggu kini di undur-undur terus sampai sudah hampir lima bulan. Bahkan siswa kelas 9 angkatannya, kini tidak melaksanakan Ujian Nasional dikarenakan virus corona yang semakin menggila.

“Aku pikir dengan mengembalikan buku aku bisa bertemu teman-temanku, ternyata salah……,” Metode pengembalian bukunya hanya diperbolehkan satu per satu orang masuk lalu langsung pulang.

“Gagal deh temu kangen sama sobat gila ku,” Dheska ngedumel.

Libur…. satu kata ini tadinya amat sangat didambakan oleh para siswa, khususnya murid-murid di kelasnya Dhesta. Namun kini, kata libur sudah bukan menjadi hal yang menyenangkan, malah kini berubah seperti mimpi buruk.

Tidak bertemu kawan dalam waktu yang lama membuat setres pikiran. Rindu kegaduhan di kelas, rindu dimarahi guru, rindu dihukum karena telat masuk kelas, bahkan ulangan dadakan juga masuk dalam daftar hal yang paling dirindukan.

Dhesta Althaf, itulah nama panjangku, tapi jangan kalian pikir aku cowok ya… karena sebenarnya aku cewek. Banyak orang mengira aku cowok, karena namaku nggak ada unsur feminimnya sedikitpun, itu yang sering teman-temanku utarakan. Aku anak ke-2 dari 3 bersaudara, dan cewek sendirian lagi.

Empat setengah bulan libur sekolah mebuatku sedih, aku betul-betul merindukan suasana sekolah, karena kini sekolah harus dialihkan menjadi daring tanpa tatap muka. Tapi ada hikmah yang terjadi dalam hidup aku, adanya libur yang amat sangat panjang ini, membuatkan ‘hijrah’, kini aku ingin menjadi seprang hafiz Al-Quran, penampilanku pun kini juga sudah mulai berbeda, kini aku berusaha untuk istiqomah dengan niqobku hehe, doian ya semoga istiqomah.

**

Dua tahun yang lalu, tepatnya saat aku kelas 7… aku adalah salah satu siswi yang tidak pernah absen dari daftar siswa yang selalu terlambat masuk sekolah. Bukan karena macet di jalan, bukan juga karena ada ‘uzur’ syar’i, tapi karena memang sengaja berangkat telat saja, biar bisa bareng sama my crush. Soalnya my crush berangkatnya selalu telat.

Kerudungku pun dulunya belum menutup pantat, tapi sudah menutup dada sih, hanya belum sempurna. Aku juga belum bisa menjaga pandangan dari lawan jenis. Masih sering juga duduk bareng sama cowok, sambil nyalin jawaban PR si ambis. Masih sering gibah sama temen-temenku.

Tapi kini aku sudah berubah, bukan Dhesta yang dulu lagi. Dan asyiknya aku hijrah nggak sendirian saja lhoooo tapi temen sekelasku juga ikut hijrah semua.

Ceritanya, bermula ketika aku mendapat mimpi buruk, aku mimpi didatengin malaikat izrail, sedangkan aku masih sibuk dangan urusan dunia, dan bekalku belum ada, kan nggak lucu. Akhirnya aku lari sambil nangis, dan tiba-tiba aku terbangun. Pas aku bangun aku langsung beristighfar sambil menangis.

Paginya aku menceritakan mimpiku itu pada dua temanku Tika dan Tyas. Aku juga menceritakan mimpi itu sama Ibu dan Bapakku. Dan inilah awal mula aku hijrah, setelah aku selesai cerita, aku bilang sama Ibu dan Bapak bahwa aku mau ngaji sama ustaz lagi.

Akhirnya aku belajar cara membaca Al-Quran dan aku nggak lupa mengajak dua sahabatku, alasannya supaya lebih istiqomah aja sih. Tak lupa setiap hari kita juga ikut kajian rutih walaupun secara online, lama kelamaan banyak juga teman-teman kelas kita yang tertarik untuk ikut belajar mendalami agama Mereka tertarik karena sering melihat story WA kita hehe. Dan kini, kita juga sudah menghafal Al-Quran.

Baca Juga : Bahagia dan Cemas dalam Bingkai Corona

Pandemi Covid-19 sudah mengubah hidupku seratus delapan puluh derajat, dan dengan adanya Covid-19 aku jadi insyaf hehe.

Kini aku sudah masuk di bangku SMA, dan pembelajaran tatap muka pun juga sudah mulai diberlakukan, dan tantanganku di kehidupan baru ini adalah, menjaga pandangan di sekolah, karena itu adalah salah satu hal yang lumayan susah aku lakukan, tapi InsyaAllah bisa. Juga tetap tenang di era gemparan pamer ayang… azekkkk!!

Penulis : Dita Ria Cahya Ningsih

 

Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email redaksi@milenianews.com, untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here