Tentang Hari Ini

Cerpen Tentang Hari Ini

Sejatinya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Bagaimana roda kehidupan yang berputar dengan manusia saling berbagi rasa, saling berempati, atau hanya belas kasihan. Entah bagaimana para remaja dengan segala pemikirannya dalam menghadapi setiap cobaan yang Tuhan berikan.

Dengan hati yang berperasaan, berpikir secara berlebihan, mementingkan perasaan orang lain dibanding dirinya, serta menganggap bahwa orang sekitar adalah orang yang tidak peduli padanya.

Selalu dituntut menjadi dewasa karena keadaan, dan menghadapi segala masalah hingga depresi. Yang tua hilang, dan yang muda menangis tanpa ampun. Menjalani sisa hidup dengan dibumbui perasaan bersalah setiap detiknya. Bagai gejolak api yang membara dan menjalar disela-sela tubuhnya.

**

Fazia, anak pertama dari tiga bersaudara. Satu laki-laki sebagai anak tengah, dan satu perempuan sebagai anak bungsu. Kehidupan dengan cobaan ini selalu Fazia rasakan. Ia menangis setiap harinya, memikirkan bagaimana harus selalu kuat untuk hidup bersama keluarganya. Lidahnya kelu untuk bercerita, atau hanya berkata bahwa ia baik-baik saja. Namun, hati tidak pernah bisa berbohong, bahwa didalam hati kecilnya, ia jelas terluka.

Awal mulanya saat Covid-19. Februari akhir. Keluarganya pindah ke rumah Neneknya, Ibu dari Ibunya, dengan alasan bahwa setelah Kakeknya meninggal tidak ada yang bisa mengurusi Neneknya selain Ibu Fazia, karena jarak rumahnya yang terbilang dekat.

Keluarganya termasuk keluarga yang terbilang pas-pasan. Terlebihnya setelah Covid-19, Ayahnya harus kena PHK yang mengakibatkan krisis ekonomi terjadi di keluarganya. Harus menghidupi enam anggota keluarga termasuk Nenek, dan Fazia masuk ke Sekolah Menengah Swasta dengan uang masuk yang terbilang kecil, namun terasa besar untuk kedua orang tuanya pada saat itu. Sehingga hanya bisa menyicil sedikit demi sedikit hingga saat ini.

Ibunya hanya seorang pekerja rumah tangga, yang harus mendidik ketiga anaknya, mengurus rumah, dan merawat Ibu kandung serta Suaminya. Menurut Fazia, Ibunya sangat kuat sebagai panutannya. Walaupun hubungannya dengan sang Ibu tidak dekat, namun Fazia cukup tahu bahwa Ibunya adalah Ibu terhebat sepanjang hidupnya. Ia pantas dijadikan sebagai panutan dan cerminan hidupnya.

Dengan masa pubertas dan emosi yang masih labil, Fazia belum bisa menjadi anak pertama yang bisa diandalkan oleh kedua orang tuanya, terutama Ibunya. Menjadi anak SMA, tinggal dengan Nenek yang tidak punya hati dan selalu memikirkan diri sendiri, permasalahan keluarganya selalu timbul setiap hari.

Fazia depresi dengan keadaan saat itu. Ia hanya bisa melempar barang, berteriak tanpa ampun, menyebabkan seluruh isi rumah hancur, hati dan kejiwaannya juga hancur, Ayah dan Ibunya tidak pernah berhenti bertengkar. Pada akhirnya, ia mencoba melampiaskan seluruh emosinya dengan menulis, memotret dan menyunting gambar, mengikuti beberapa lomba daring sampai menjuarai beberapa lomba tersebut.

Sebenarnya, selain Ibu Fazia, Neneknya memiliki dua anak perempuan lain. Menurut Fazia, keduanya adalah orang yang sangat egois. Mereka secara tidak langsung tidak mau mengurus orang tua satu-satunya dan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada Ibu Fazia dengan alasan sibuk dengan keluarga masing-masing.

Sifat kedua anaknya ini, ternyata menurun dari sifat Neneknya Fazia. Akhirnya Fazia tahu semua permasalahan keluarganya. Ia sudah dewasa, Ayah berbicara seperti itu padanya. Ia sudah bisa menjadi anak pertama yang bisa diandalkan. Sebenarnya, ia didewasakan oleh keadaan.

Sebelum Covid-19, Fazia sama sekali tidak dekat dengan Ibunya. Keduanya sering terjadi salah paham. Ibunya yang memiliki permasalahan keluarga, dan Fazia yang merasa tertekan dengan keadaan.

Beranjak remaja membuat Fazia sensitif, mudah tersinggung dan emosi yang semakin tidak terkendali. Semakin lama, keadaan rumah bukannya semakin membaik, justru semakin memburuk. Ia hancur tinggal seatap dengan Perempuan “tanpa hati” seperti Neneknya. Ia hancur ketika Ayahnya dengan mudah mengatakan bahwa Ibu hanya bisa bersantai di rumah tanpa kerja keras seperti Ayah. Ia hancur ketika Adik Laki-lakinya tumbuh menjadi laki-laki yang memiliki sifat keras seperti Ayah. Ia hancur ketika Adik Perempuannya tahu semua permasalahan keluarga walaupun umurnya baru tujuh tahun. Ia hancur ketika Ibunya sendiri selalu menangis tanpa ampun dihadapan Tuhan ketika berdoa dihadapan-Nya. Apa yang harus Fazia lakukan, Ya Allah?

Batinnya berbicara. Fazia mencoba mendekatkan diri dengan Ibunya. Ia juga mencoba mendekatkan diri dengan
Yang Maha Kuasa. Ia mencoba memperbaiki kehidupannya. Ia mencoba berlapang dada untuk menerima semuanya. Ayah tidak berubah. Ayah tetap menjadi tulang punggung keluarga yang tidak mengenal Istri dan Anaknya, sibuk mencari nafkah tanpa memikirkan bagaimana keadaan di rumah, bagaimana Istri dan Anaknya bisa hidup dengan cobaan ini. Fazia masih menganggap bahwa Ayah tetap Ayah Fazia. Tetap Ayah yang hebat di mata Fazia walaupun lisannya suka menyakiti Ibu, Fazia dan kedua Adiknya.

Hidup sebagai anak perempuan sekaligus anak pertama, bukanlah hal yang mudah. Mencoba mencari uang dengan kemampuan yang ada dan membantu orangtua semampunya. Sebagai anak pertama, Fazia ingin menjadi orang yang bisa memahami keluarga. Menjadi pelindung keluarga dan menjadi tempat keluh-kesah Ibunya.

Fazia mencoba untuk berlapang dada, menguatkan keluarganya dan menerima kenyataan bahwa ia adalah satu-satunya anak yang paham dengan keadaan keluarga dan keadaan Ibunya. Jujur, sesungguhnya melelahkan menjadi
anak pertama. Ia tidak akan egois meninggalkan keluarganya begitu saja.

Ia mencoba bekerja sebagai editor secara daring dan membantu Ayahnya yang bekerja sebagai seorang fotografer. Dengan bekerja, ia bisa meluapkan amarah yang selama ini ia rasakan. Ia juga bisa meringankan beban orang tua. Ia tidak berhenti berkarya di media sosial untuk memperlihatkan kepada pengikutnya bahwa Fazia mempunyai bakat.

“Kak… kamu sudah lihat cermin Ayah dan Ibu, kan… Kelak kamu dewasa, kamu bisa ambil yang baik dan buang yang buruk. Sayangi dan lindungi kedua Adikmu, jangan lupakan orangtua. Carilah pasangan yang mampu membahagiakanmu setiap saat, dan tidak menyakitimu walaupun kamu salah. Semoga kamu jadi anak baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Ibu bangga sama kamu,” kata-kata itu yang membuat Fazia bertahan hidup.

Penulisa : Azalea Bunga Rahmatullah

 

Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email [email protected], untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *