Kisah Di Balik Gunting

Oleh: TeHera

Terdengar sebuah suara memanggil, “Bu Guru…. Aku nggak bisa !”   ucap seorang anak laki-laki empat tahun di hadapanku. Sebut saja Fega, anak berambut ikal yang selalu ingin dekat dengan gurunya. Ia memegang sehelai kertas dengan gunting kecil di tangannya.

“Oh, Fega perlu bantuan Bu Guru ya ?” tanyaku. “Iya, aku nggak bisa!” diulangnya kembali ucapan itu. “Ayo duduk di sini,“   kataku sambil mengajak Fega duduk di depanku membelakangiku dan aku ambil gunting kecil yang dipegangnya. Aku pegangi kertasnya, aku bantu masukkan jari-jarinya ke lubang gunting dan aku pegangi tangannya untuk menggunting kertas bergambar lingkaran itu.

Seraya mengikuti gerakan tanganku, ia mencoba membuka dan menutup gunting itu. Berusaha mengikuti bentuk lingkaran yang ada di atas kertas itu. Kurasakan tangannya sesekali gemetar, jarinya sering terdiam jika kulepas dari genggaman. Keringat Fega mulai bercucuran dan dingin kurasakan di tubuhnya. Lalu ia berkata lagi dan lagi, “Bu…..susah! Aku nggak bisa!”

Aku bingung……..”Diapakan lagi ya?” gumamku. Akhirnya kupeluk Fega dari belakang dan kuajak bicara, “Fega, mengguntingnya sudah? Yuk kita simpan gunting dan kertasnya !” dan Fega mengangguk pelan.

“Ayo,  mau main ayunan atau main bola di halaman?”  Wajahnya cerah dan matanya berbinar. “Aku mau main bola,  Bu,”  jawabnya.

Bermain ayunan dan main bola adalah kesukaannya. Suster yang mengantarnya pun bicara kalau di rumah Fega suka main ayunan yang sengaja dibuat untuknya dan bermain bola bersama di halaman luas milik keluarganya.

Saat itu, aku pertama kali mengajar anak-anak TK yang masih cukup asing buatku. Masa sekolah di Pendidikan Guru TK  belumlah cukup untukku ketika dihadapkan pada masalah seperti Fega tadi. Kenapa ia sulit memegang gunting, mengapa ia susah menggunting sesuai bentuk lingkaran di atas kertas itu. Ternyata sekarang baru kusadari bahwa pengetahuan guru tentang tahapan perkembangan anak, terutama pada pendidikan  anak usia dini yang aku geluti itu sangatlah penting. Bagaimana seorang anak nyaman saat bemain dan berinteraksi dengan guru dan temannya, bagaimana seorang anak memilih dan melakukan kegiatan yang dipilihnya sampai tuntas itu sangatlah berarti. Tak kalah pentingnya adalah bagaimana seorang anak merasa dirinya mampu merupakan sesuatu yang akan menjadi bekal di masa depannya nanti untuk hidup sukses menghadapi tantangan di berbagai situasi. Ternyata aku harus terus belajar mengerti tentang mereka, memahami setiap tahap perkembangan mereka sehingga bisa menyediakan kesempatan bermain sesuai kebutuhan tumbuh-kembang mereka.

“Maafkan Bu Guru Fega, maaf sudah membuatmu tidak nyaman. Seharusnya Bu Guru sediakan mainan yang kau butuhkan, bermain air, playdough, meronce, melukis, merobek dan meremas. Bukan hanya gunting dan kertas yang itu membuatmu berkeringat, membuatmu merasa tidak mampu.”

Sampai sekarang, Bu Guru terus belajar tentang tumbuh-kembang anak-anak seusiamu. Bahkan tantangan untuk memahami apa dan bagaimana tahap perkembangan sebelum usia sepertimu serta setelah melewat usia TK-mu itu. Ternyata, semakin mendalaminya semakin banyak yang perlu Bu Guru cari tahu.

Berbagai model pembelajaran Bu Guru tekuni, sejak tahun 1991 saat bertemu denganmu hingga kini banyak sekali yang Bu Guru temui. Dari model Klasikal, Kelompok dan Individu, Model Area dan Sudut, hingga Model Sentra – Beyond Centre and Circle Time (BCCT) yang Bu Guru pelajari langsung di Creative Preschool – Florida tahun 1996 yang lalu.

Sungguh banyak pengalaman yang Bu Guru dapatkan selama mengajar di TK, terima kasih atas pelajaran dan pengalaman berharga bersamamu Fega. Semoga kita bisa maju bersama untuk Indonesia.

Bogor, 10 Juni 2023

Tjutju Herawati. Panggilan akrabnya Ibu Hera. Aktivitas keseharian berkiprah di dunia pendidikan anak usia dini dan parenting terutama yang berkaitan dengan tahapan perkembangan anak. Menjadi guru TK sejak tahun 1991 dan menekuni model pembelajaran BCCT sejak tahun 1996 hingga saat ini. Pelatihan langsung didapatkan dari Dr. Pamela C. Phelps di Creative Preschool Tallahasse-Florida.

Mulai menulis sejak pertengahan tahun 2021 berupa: cerita anak, cerita pendek, dan puisi yang bertajuk kisah kehidupan dan pengalaman selama mengajar.  Jejak pena mengukir indah sejarah kehidupan, menebar hikmah dan manfaat bagi sesama.  Semoga dapat menginspirasi dan penuh keberkahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *