Hidup Berputar 180 Derajat, Pak Theo : Dari Menjual Tahu, Sampai Memberi Tahu

cerpen Hidup Berputar 180 Derajat

Matahari belum matang, lapangan yang lengang, dan beberapa murid yang terbirit-birit barangkali menjadi tontonan langganan oleh lelaki berkepala lima ini. Pak Theo Gunawan Wahana, S.S., M.Pd. yang karib dipanggil Pak Theo merupakan salah seorang paling konsisten yang pernah kutemui. Pada beberapa perjumpaan, saya sudah bisa memastikan, Pak Theo bukan orang Jepang.

Alasan nomor satu, sebab ia tidak menganut budaya datang tepat waktu. Sepagi apapun saya berangkat, ia jauh lebih siap berdiri di depan joglo, dengan posisi tegap.

“Lebih baik datang lebih awal, ketimbang tepat waktu tapi terburu-buru.” pungkasnya.

Alasan nomor dua, ia tak melakukan ojigi (sikap membungkukkan badan tanda hormat ala orang Jepang). Ia lebih memilih menyapa siswanya dengan senyuman, atau pertanyaan retorik. Beliau terkenal ramah dan energik. Dua puluh jam mengajar sepekan, tidak membuat lelaki itu kehabisan energi untuk mengajar dengan seru dan menyenangkan.

Cocokologi atau bukan, kiranya hal itu merupakan cerminan dari nama panggung lain Pak Theo, yaitu Gunawan : gundul-gundul menawan bagi sebagian orang, terdengar seperti lucu-lucuan. Padahal itu bentuk satir untuk membercandakan luka. Atas pahit-manis masa lalu, yang acapkali getir jika direka.

Mimpi membawanya ke tanah perjuangan ini. Berangkat dari tekadnya menjadi guru, keterbatasan bukanlah jeruji yang membelenggu. Pramuka bukan kegiatan, tapi hidup dalam nadinya. Beberapa rumpun helai putih yang semburat, nampak merangkum asam garam serta getir dalam riwayat.

Lelaki kelahiran Cepu 1967 itu mengisahkan, bahwa ia dulunya adalah anak jalanan. Hidup dalam arus deras tak berakar tunggang, menjadikannya terhuyung-huyung agar tetap tegak dan terus berkembang. Semasa bangku sekolah, bahkan ia pernah tidak naik kelas 2 kali saat SD dan SMP. Dirundung teman, guru, dan orang sekitar dicap sebagai anak bodoh.

“Bagaimana bisa fokus sekolah, sedangkan kehidupan rumah kurang dari istilah kata ‘berkecukupan’,” tandasnya, membela diri. Sambil getir ia mengisahkan, bahwa sebagai anak ke-2 dari 7 bersaudara ia memiliki tas punggung yang besar. Ia harus berjualan es cekek ketika bersekolah. Saat lonceng istirahat dipentung, dan guru dalam kelas belum juga rampung, yang ada dalam pikirannya adalah esnya tidak akan habis terjual. Sebab anak-anak kelas lain pasti sudah membeli di kantin, atau menyambar pedagang keliling.

Begitu pula saat pulang sekolah ketika es itu tak habis terjual, ia harus berjalan 8 km menuju gelanggang sawah, ‘ngider’ bahasa Jawanya. Untuk menjajakan es kepada orang-orang. Bahkan kepada pembeli orang dewasa beberapa kali esnya dihutang, kemudian hilang tak dibayar. Akhirnya ia kelabakan dan pindah menuju pembeli di terminal, yang lebih menjanjikan.

Tak hanya berjualan es cekek. kuli bangunan, anak angkat GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua), teknisi sepeda, kurir tahu, tempe, es batu, bahkan ngamen, dan pengalaman teruk lainnya pernah ia cecap. Dengan harapan ia tetap hidup, dan sekolah hanya sebagai pelengkap.

Namun kebiasaan ketidak seriusannya dalam dunia pendidikan, nampaknya membuat sebagian hidupnya terasa hilang. Meski mendapatkan hasil yang lumayan dari kerja serabutan ketika jeda lulus SPG (Sekolah Pendidikan Guru) menuju perguruan tinggi, nampaknya itu tak membuatnya tergiur untuk melenceng dari mimpi.

Hal itu dibuktikan dengan lulus S1 dalam empat tahun, lalu dilanjutkan mendapat beasiswa sekolah pendidik di Universitas Malang, dengan lulusan cumlaude tahun 1989 silam. Pendidik yang telah keluar masuk kelas selama 33 tahun ini nampaknya masih haus akan ilmu pengetahuan. Di tahun 2012, gelar S2 teknologi pendidikan ia bubuhkan di nama belakang.

Beberapa kali juga ditawari S3 ia bersedia menyanggupi, dengan catatan menunggu jabatan fungsionalnya selesai, agar bisa lebih terfokuskan. Saat ditanya, mengapa terus belajar dan belajar. Ia dengan singkat menjawab, “Sekarang senyampang ada kesempatan belajar, saya akan terus belajar.” Ia seperti menambal luka, akibat korban perundungan masa lalu.

Di sisi lain tak hanya terus menimba ilmu, beliau juga membagikan apa yang ia dapat. Kini, beliau menjadi guru teladan di SMAN 3 Surabaya, fasilitator guru penggerak, dan guru pamong dengan mahasiswanya dari lintas daerah.

Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri-sendiri, mendengar kisah orang lain adalah cara belajar untuk terinspirasi. Pandemi bukan hanya datang sekali, tiap-tiap individu punya rintangan yang berbeda untuk dilewati.

Ada sebuah pendapat dari Panglima TNI : pelaut yang ulung, bukan lahir dari lautan yang tenang. Maka silahkan dipilih : pasrah terbawa arus sampai dipertemukan hilir, atau tegar menuju hulu menggapai mimpi yang dituju.

 

Penulis : Aldi Firmansyah – SMAN 23 Surabaya

 

Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email [email protected], untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *