Bangkit Karena Harapan Atau Menyerah Karena Cobaan

Cerpen Bangkit Karena Harapan Atau Menyerah Karena Cobaan

Kinasih, seorang anak perempuan yang terlahir sebagai yatim piatu. Ia ditinggalkan oleh kedua orangtuanya saat masih balita. Diusinya yang kini menginjak 14 tahun, Kinasih menghidupi dirinya sendiri untuk bertahan hidup dari dunia yang Candramawa. Tak ada yang peduli padanya kecuali sang nenek, Jamila.

Namun ternyata, nasib malang menimpanya lagi dua tahun lalu, dimana sang nenek meninggalkannya seorang diri untuk selamanya. Sejak kejadian tersebut, Kinasih putus sekolah.

Banyak yang melihat namun tak menolong. Banayak yang berbicara omong kosong padanya hanya untuk dikenal baik dengan berlindung dibalik kata “Iba”. Saat itu, Kinasih benar-benar merasa kecewa dan marah pada dirinya. Ia selalu menyalahkan takdir yang terjadi padanya.

“Ya Tuhan, aku masih tak mengerti apa yang terjadi. Semuanya berenang dikepala,” racau Kinasih sambil menangis saat itu.

Malam itu, angin berhembus kencang menusuk kulit. Rintik hujan membasahi bumi dengan deras. Membungkam luka yang sangat mendalam. Kinasih meluapkan rasa sakitnya dengan berteriak sekencang-kencangnya agar dunia tahu, bahwa ia tak sanggup menjalaninya lagi.  Ia merasa sangat amat takut. Tak mengerti apa-apa untuk memikirkan bagaimana nasib selanjutnya.

“Seperti ada hidup itu seharusnya?” bisik Kinasih dalam rintikan hujan.

Hari demi hari telah berlalu, Kinasih mempunyai rencana untuk merubah penampilannya yang lusuh ini. Ia mencoba cari pekerjaan yang cocok untuk dirinya itu.

“Ya Tuhan, tolonglah kabulkan keinginanku. Aku tak ingin merasakan kehidupan seperti ini terus-menerus. Dengan kebaikan dan murah hatimu kepada hidupku, berilah aku kekuatan,” ucap Kinasih sambil menenangkan dirinya.

Kemudian, ia berjalan menghampiri semua tempat berharap bisa diterima bekerja. Tetapi semua pegawai yang ada disana menolaknya, banyak berbagai alasan yang diberikan kepada Kinasih. Dari mulai masih dibawa umur, tak pantas bekerja, penampilannya yang seperti orang tak waras dan lainnya.

Esoknya, Kinasih berusaha untuk mencari pekerjaan kembali. Namun sama seperti kemarin, ia tetap tak diterima dengan berbagai alasan. Kemudian, dengan menghela nafas panjang, Kinasih berjalan kearah taman yang ada disekitar nya itu dan berteduh dibawah pohon. Ia benar-benar tak bisa melakukan ini sendiri. Tak ada sang nenek yang menyemangati dan memeluknya lagi jikala sedang sedih seperti ini.

Saat ia sedang melamun, datang seorang anak kecil menghampirinya. Anak kecil tersebut menawarkan satu buah roti dengan harga 3ribu saja. Kinasih menolak dan mengatakan bahwa ia tak mempunyai uang sepeserpun. Anak
kecil itu mengerti dan tersenyum, “Aku hanya bercanda kak. Ini gratis untukmu. Terimalah,” ucapnya.

Kinasih mengambil roti itu lalu mengatakan kenapa ia memberinya percuma, karena dirinya tau bahwa itu untuk dijual.

“Aku ingin menyemangati mu, agar kau tak pernah menyerah. Dunia memang tak adil kepada diri kita yang masih belum tau apa-apa tentangnya, tapi Tuhan mengajarkan kepada umatnya bahwa kita sebagai manusia tak boleh menyerah,” ucap anak kecil tersebut.

Kinasih merasa tersentuh, ia mengusap kepala anak itu sambil tersenyum.”Siapa namamu adik kecil?” tanya Kinasih.

Anak kecil tersebut menjawab, “Namaku Anjeli, kalau kakak siapa?” Lalu Kinasih menjawabnya,”Aku Kinasih, kau boleh memanggilku dengan sebutan Asih,” Anjeli mengulurkan tangannya, Kinasih yang mengerti
pun mengulurkan tangannya balik.

Mereka berdua tertawa bersama, seolah-olah mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Kemudian, Anjeli pun pamit kepada Kinasih untuk berjualan lagi. Kinasih mengangguk, ia menyemangati Anjeli kembali agar tak pernah
menyerah dan tak lupa juga mengucapkan rasa terimakasih padanya.

Setelah kepergian Anjeli, Kinasih melanjutkan rencananya lagi untuk mencari pekerjaan, ia mendatangi sebuah toko roti di seberang taman.

“Permisi kak, sebelumnya perkenalkan namaku Kinasih. Disini aku ingin bertanya, apakah toko roti ini sedang membutuhkan pegawai atau yang lainnya?,” tanya Kinasih kepada salah satu pegawai disitu.

Pegawai tersebut melihat penampilan Kinasih yang pucat dan sedikit lusuh, lalu berkata, “Iya benar, tapi sepertinya wajahmu pucat. Di toko ini, kami tak menerima orang yang sedang sakit,” ucapnya.

Dengan cepat, Kinasih menjawab dan meyakinkan bahwa wajah nya memang seperti itu. Pegawai itu melihat Kinasih kembali, “Apa kau bisa kami percayai?” Kinasih menjawabnya.

“Ya, aku bisa dipercaya, aku yakin itu. Walaupun aku putus sekolah tapi aku akan berusaha untuk menjadi yang terbaik sebagai pegawai disini.”

Setelah mendengar jawaban Kinasih, pegawai tersebut terdiam sejenak namun kemudian ia mengangguk menandakan bahwa Kinasih bisa bekerja di toko tersebut. Tetapi tiba-tiba Kinasih mengeluarkan air mata tanpa disadari, sebab dirinya terharu karena telah diterima bekerja setelah sekian lama ditolak. Setelah itu, Kinasih mengucapkan terimakasih banyak kepada pegawai tersebut karena telah menerimanya.

“Selamat datang ya Kinasih. sebelumnya, pernalkan namaku Fadwa, aku sudah lama bekerja disini. Jika kau membutuhkan bantuan bilang padaku jangan sungkan,” ucapnya itu.

Kemudian, Fadwa mengajak Kinasih untuk bertemu dengan yang lain dan mulai bekerja. Satu tahun telah berlalu, sekarang Kinasih sudah menjadi pegawai tetap di toko roti tersebut. Ia sudah bisa menghidupi dirinya sendiri. Kinasih yang lemah sudah tak ada. Yang ada saat ini, hanyalah kinasih yang kuat. Karena Kinasih menyadari, bahwa nasibnya adalah konsekuensi yang harus ia terima.

Di titik ini juga, Kinasih sadar dan merasa bahwa Tuhan memang adil. Tuhan memberikan skenario yang baik tetapi lebih baik. Seperti bahasa sansekerta abhipraya yang artinya mempunyai harapan. Dimana kita sebagai manusia jika mempunyai harapan, semua akan tercapai.

Tak ada yang tak mungkin. Tentang takut, kecewa, menyerah, gelisah dan sedih itu hanyalah sebuah kata yang
munafik. Bahkan Albert Einstein pun mengatakan bahwa, “Hidup ini seperti mengayuh sepeda, agar tetap seimbang teruslah bergerak agar kamu tak terjatuh”.

Lalu jika diri sendiri tak ingin terjatuh, kenapa harus menyerah?

 

Penulis : Septiani Aulia Ramadhani – SMAN 2 Klari

 

Sobat Milenia yang punya cerita pendek, boleh kirimkan naskahnya ke email [email protected], untuk dibagikan ke Sobat Milenia lainnya.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *