Milenianews.com, Jakarta — Workshop Penulisan Karya Tulis Ilmiah yang diselenggarakan oleh IDAQU Jakarta pada Sabtu (13/6/2026) antara lain diisi penyampaian materi oleh Dr. Sarwenda, MA.Pd. Dalam sesi bertajuk Penulisan Artikel Ilmiah, ia mengajak mahasiswa untuk membangun budaya literasi sebagai fondasi utama dalam dunia akademik.
Mengawali pemaparannya, Sarwenda menegaskan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan sarana untuk mengekspresikan gagasan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta meningkatkan kreativitas. Menurutnya, kemampuan menulis yang baik akan menjadi modal penting bagi mahasiswa dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.
“Menulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang efektif. Melalui tulisan, seseorang dapat menyampaikan ide, gagasan, dan hasil pemikirannya secara sistematis kepada masyarakat luas,” ungkapnya di hadapan peserta workshop.
Ia menjelaskan bahwa menulis juga memiliki manfaat psikologis. Aktivitas menulis dapat menjadi media refleksi diri yang membantu seseorang memahami pengalaman hidup, mengelola emosi, dan membangun kesadaran diri. Oleh karena itu, kebiasaan menulis perlu ditumbuhkan sejak masa perkuliahan.
Selain membahas pentingnya menulis, Sarwenda juga menekankan bahwa kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Ia menggambarkan membaca dan menulis sebagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Semakin banyak seseorang membaca, semakin kaya pula wawasan dan perspektif yang dapat dituangkan ke dalam tulisan.


Dalam kesempatan tersebut, Sarwenda mendorong mahasiswa untuk memperbanyak membaca berbagai jenis literatur, baik buku fiksi maupun nonfiksi. Menurutnya, buku fiksi mampu mengembangkan empati dan kecerdasan emosional, sementara buku nonfiksi berperan dalam memperkuat logika, kemampuan analisis, dan pemahaman terhadap berbagai persoalan ilmiah.
Sarwenda juga membagikan sejumlah kutipan inspiratif yang memotivasi peserta agar tidak menunda untuk mulai menulis. Ia menegaskan bahwa kualitas tulisan akan berkembang melalui proses latihan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, keberanian untuk memulai merupakan langkah pertama yang harus dimiliki setiap calon penulis.“Kita sebagai akedemisi harus sering membaca,” ujar Sarwenda.
Ia mengutip surat Al-Qur’an yang pertama turun yaitu Iqro’ (bacalah). “Hal ini sejalan sengan kegiatan pada hari ini. Oleh sebab itu temen-temen mahasiswa harus sering membaca baik karya fiksi maupun non-fiksi sebagai bahan dalam menambah pengetahuan kita sebagai akademisi,” tuturnya.
Baca Juga : Dosen Pelaksana IDAQU Jakarta Dorong Mahasiswa Tingkatkan Budaya Menulis Ilmiah Melalui Workshop Akademik
Sarwenda menegaskan, menulis karya baik fiksi maupun non-fiksi perlu pengayaan bacaan. Ia menceritakan bagaimana kampung halamannya (di Provinsi Bangka Belitung) dijadikan objek penulisan oleh Andrea Hirata pada tahun 2005 yang menjadi karya yang meledak, bahkan menjadi sangat viral saat buku ini dikemas dalam sebuah karya film “Laskar Pelangi” pada tahun 2008.
“Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Tulisan yang baik lahir dari proses panjang membaca, berpikir, dan terus berlatih,” pesannya kepada peserta.
Baca Juga : Dari Amman untuk Palestina: Rektor Institut Daarul Qur’an Kawal Misi Kemanusiaan via Yordania
Sesi tersebut berlangsung dengan penuh antusiasme. Mahasiswa aktif berdiskusi mengenai cara membangun kebiasaan membaca, teknik menemukan ide tulisan, serta strategi meningkatkan produktivitas menulis di tengah berbagai aktivitas akademik. Berbagai pengalaman dan motivasi yang disampaikan narasumber turut memberikan inspirasi kepada peserta untuk lebih serius mengembangkan kemampuan literasi mereka.
Melalui materi ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami teknik dasar penulisan artikel ilmiah, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa membaca dan menulis merupakan bagian penting dari perjalanan akademik dan pengembangan diri. Budaya literasi yang kuat diyakini akan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Workshop kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik penggunaan perangkat pendukung penulisan ilmiah dan pencarian referensi akademik yang relevan guna menunjang kualitas penelitian mahasiswa.












