Milenianews.com, Cibubur— Suasana ba’da Subuh yang sejuk diawali dengan membaca Al-Qur’an bersama pimpinan, guru dan staf Sekolah Bakti Mulya (BM) 400 Cibubur, Jumat (23/10/2026), menambah keteguhan iman mengawali proses belajar-mengajar. Apalagi kemudian dilanjutkan sharing Kajian Jumat Pagi yang disampaikan oleh Ust. Imron Nasihin Lc. berjudul ”Islam Antara Teks dan Hikmah”.
Ia menegaskan bahwa Islam tidak cukup dipahami hanya dengan membaca atau menghafal teks agama saja. “Perlu kita pahami maknanya, tujuan sesuatu disyariatkan dan bagaimana nilai agama itu sendiri terwujud dalam kehidupan sehari- hari,” kata Ust. Imron Nasihin Lc.
Dalam hal ini tentu teks menjadi landasan utama baik dari Al-Quran maupun hadist. “Cara berpikir membantu kita untuk mendapatkan makna, dan dari makna itulah kita bisa mendapatkan sebuah hikmah. Dan pemahaman kita pada konteks membantu kita untuk menerapkannya secara tepat,” ujarnya.

Lebih lanjut Ust. Imron Nasihin, guru pendidikan Agama Islam Primary Years Programme (PYP) Bakti Mulya 400 Cibubur, menyampaikan bahwa hikmah adalah suatu pelajaran atau kebijaksanaan yang didapat oleh seseorang dari suatu kejadian. “Dengan memahami hikmah kita dapat melihat bahwa ajaran Islam bukan hanya tentang aturan yang ada dalam sebuah teks. Melainkan teks tersebut (Al-Quran dan hadist) menjadi pedoman yang membentuk pola berpikir, bersikap dan bertindak. Maka kita sering kali mendengar perkataan bahwa ‘Pasti ada hikmahnya’ di setiap kejadian,” kata Ust. Imron Nasihin.
Ketika beragama, masyarakat pada umunya memahami bahwa adanya gangguan mental adalah indikasi kurangnya iman. Hal ini muncul karena masyarakat terjebak dalam pendekatan tekstual yang kaku, sehingga solusi yang ditawarkan kerapkali hanya berupa sholat, dzikir, ruqyah dan ritual ibadah lainnya. “Namun historikal hadist dan Sejarah Nabawi membuktikan bahwa Islam menawarkan kerangka penanganan yang sangat konseptual dan kontekstual,” ujarnya.
Hal tersebut, kata dia, terlihat jelas pada Rasulullah saw saat merespons emosional individu tertentu. Dari Sejarah Nabawi kita belajar, ketika Nabi berinteraksi dengan anak kecil bernama Abu Umair yang sedang bersedih karena burung peliharaannya mati. “Nabi tidak serta merta mengajaknya untuk melakukan sholat, puasa, berdzikir atau ibadah lainnya, dan tidak juga mendiktekan dalil-dalil agama untuk mengurai kesedihan Umair. Justru Nabi menerapkan pendampingan psikologis dengan cara hadir langsung, berdialog memvalidasi perasaannya,” kata Ust . Imron yang juga alumnus Al Azhar University, Kairo.
Baca Juga : Siswa SD BM 400 Cibubur Juara Indonesia Olympiad Battle (IOB) Challenge
Hal lain juga terlihat Ketika Nabi mengalami kesedihan yang amat mendalam ketika kehilangan anaknya, bernama Abdullah. Kala itu kafir Quraish mengolok beliau dengan sebutan “al abtar” berasal dari bahasa Arab dengan arti dasar “terputus” karena putra –putra beliau wafat ketika masih kecil. Saat itulah Allah turunkan Surat Al-Kautsar (surat ke-108 di dalam Al-Quran, yang artinya “Nikmat yang berlimpah”) untuk menghibur dan memvalidasi perasaan Nabi.
“Dari dua kejadian tersebut dapat kita pahami sekaligus membuktikan bahwa agama Islam sangat mengedepankan pendekatan secara konsep, dan agama Islam juga melihat pada konteks kejadiannya,” kata Ust. Imron Nasihin.













