Milenianews.com, Bogor– IPB University bersama Korea International Cooperation Agency (KOICA) menyelenggarakan 2026 NICAB Workshop di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempercepat lahirnya inovasi berbasis pertanian dan biosains sekaligus mendukung pembangunan bioekonomi berkelanjutan.
Rektor IPB University Dr. Alim Setiawan Slamet mengatakan, salah satu capaian strategis dari kerja sama IPB University dan KOICA adalah pembangunan National Instrumentation Center for Agriculture and Bioscience (NICAB) yang ditargetkan rampung pada Februari 2027. Fasilitas ini akan menjadi pusat unggulan untuk riset, inovasi, pengembangan kapasitas, serta kolaborasi internasional di bidang pertanian dan biosains.
“Ketika beroperasi nanti, NICAB akan menjadi pusat keunggulan untuk penelitian mutakhir, inovasi, pengembangan kapasitas, dan kolaborasi internasional di bidang pertanian dan biosains,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan NICAB sejalan dengan visi IPB sebagai Techno-Socio-Entrepreneurial University yang menghasilkan inovasi berdampak bagi masyarakat.
Baca Juga : IPB University Tuan Rumah Seleksi Terpusat Beasiswa ADik 2026
Sementara itu, Deputy Director General Institutes of Green Bio Science and Technology (GBST), Seoul National University (SNU), Prof. Tae Sub Park, menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia dan Korea Selatan terus berkembang secara positif.
Menurutnya, workshop ini menunjukkan semakin kuatnya kemitraan kedua negara dalam memperluas penelitian biosains serta membuka peluang kolaborasi lintas disiplin.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan NICAB yang didukung KOICA, bersama penyediaan peralatan riset canggih, akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penelitian pertanian dan biosains di kawasan.
“Kami berharap workshop ini melahirkan ide-ide baru, memperkuat kolaborasi ilmiah, dan membuka peluang riset bersama yang lebih luas antara Korea Selatan dan Indonesia,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria, menyoroti pentingnya membangun ekosistem bioinovasi berbasis kekayaan biodiversitas Indonesia. Ia menjelaskan bahwa perkembangan biosains saat ini telah memasuki era biorevolution, yakni transformasi yang memanfaatkan kemajuan ilmu hayati untuk menghasilkan inovasi baru di berbagai sektor.
Menurut Prof. Arif, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bioinovasi melalui penguatan riset biodiversitas, teknologi multi-omics, biologi struktural, hingga komputasi berperforma tinggi.
“Seluruh tahapan tersebut memerlukan dukungan infrastruktur riset kelas dunia agar hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi produk inovatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan industri,” ujarnya.













