News  

Saat Tren ‘Sujud Freestyle’ Merenggut Nyawa Anak-Anak, Tamparan Keras Untuk Para Orang Tua

Tren Sujud Freestyle
(Ilustrasi, Tren Sujud Freestyle) Sumber: facebook/sultraViralcom

Edaran Sekolah Dan Darurat Pengawasan

Merespons tragedi yang terjadi di wilayahnya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Timur, M. Nurul Wathoni, langsung mengambil langkah tegas. Pihaknya segera menerbitkan surat edaran ke seluruh sekolah dan UPTD untuk membatasi penggunaan handphone bagi siswa.

Langkah ini tentu patut diapresiasi. Namun, Wathoni juga menyadari bahwa sekolah tidak bisa bekerja sendirian.

“Kami juga minta dukungan orang tua untuk mengawasi anak-anak. Kejadian ini harus menjadi pelajaran agar semua pihak berkolaborasi mengontrol perilaku siswa di luar sekolah,” paparnya yang dikutip dari radarsurabaya.id, Rabu (6/5).

Kenyataannya, aksi berbahaya ini justru dilakukan anak-anak saat mereka berada di rumah, jauh dari pantauan guru.

Baca juga: Dosen UBSI Paparkan Dampak Buruk Literasi Digital Terhadap Anak Dimasa Pandemi

Ponsel Bukan Pengasuh Pengganti

Tren Sujud Freestyle
Sumber: Magnific

Tragedi patahnya leher siswa TK dan SD karena ikut-ikutan tren “sujud freestyle” ini adalah alarm peringatan paling keras bagi kita semua yang bergelar orang tua. Kita harus berhenti bersikap naif dengan menganggap bahwa anak yang diam menatap layar ponsel adalah anak yang aman. Algoritma media sosial dan sistem game online didesain untuk membuat penggunanya kecanduan, mereka tidak memiliki nurani untuk memilah mana yang aman untuk anak kita dan mana yang bisa membunuh mereka.

Pengawasan terhadap apa yang dikonsumsi anak di media sosial atau game online harus dilakukan secara radikal. Jika kita sebagai orang tua merasa tidak memiliki waktu, tenaga, atau pemahaman teknologi untuk membatasi secara ketat apa saja yang mereka lihat di ponsel, maka solusinya hanya satu: jangan berikan mereka ponsel sama sekali.

Menahan tangis anak karena ponselnya disita jauh lebih baik daripada menangisi pusara anak karena kelalaian kita sendiri. Alihkan perhatian mereka pada permainan dunia nyata yang lebih atraktif dan aman. Biarkan mereka bermain tanah, bermain sepeda, atau membaca buku cerita bergambar.

Baca juga: Ketergantungan Media Sosial dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Remaja

Bangun Masa Kecil Anak-anak yang Sewajarnya

Nyawa anak-anak kita terlalu berharga untuk direnggut oleh tren sesaat demi sebuah validasi digital atau rasa penasaran meniru karakter game. Kepergian F dan Hamad harus menjadi titik balik bagi regulasi digital di Indonesia dan juga bagi gaya pengasuhan kita di rumah.

Internet adalah rimba liar yang tidak peduli pada keselamatan anak-anak kita. Jika bukan kita sendiri yang menjadi perisai dan penjaga pintu gerbang bagi mereka, lalu siapa lagi? Mari simpan ponsel itu, tatap mata anak kita, dan kembalikan mereka pada masa kecil yang sewajarnya: masa kecil yang aman, nyata, dan penuh kehidupan.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *