News  

Membaca Harapan Pada Gempa yang Tak Usai

Anak-anak di MIS Jihadul Iman Golo Kanca dan pelosok NTT lainnya menanti uluran tangan untuk rekonstruksi ruang kelas darurat, perbaikan gedung permanen, penyediaan buku-buku layak, hingga pemulihan trauma. (Foto: Dok PPPA Daarul Qur’an)

Milenianews.com, Elar– Debu masih menempel di seragam hijau anak-anak Elar, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur  (NTT).  Jari-jari kecil yang mungil dengan hati-hati membalik halaman buku yang sudah usang, mata mereka terfokus pada deretan kalimat, seolah dunia di sekitar mereka tidak sedang runtuh. Di tengah tumpukan batu dan puing-puing, di tanah yang masih sering bergetar, anak-anak ini duduk dengan tenang. Tidak ada meja, tidak ada kursi, hanya tanah keras dan debu yang menjadi alas tempat duduk mereka di depan reruntuhan bangunan yang dulunya adalah ruang kelas. Ini adalah potret ketahanan yang memilukan di tengah bencana yang melanda Nusa Tenggara Timur.

Potret ini menangkap kepolosan yang kontras dengan kehancuran fisik yang masif di lokasi MIS Jihadul Iman Golo Kanca, Elar, Manggarai Timur. Dinding cat hijau bangunan itu runtuh, meninggalkan kekosongan yang mengerikan yang memperlihatkan kerangka atap seng yang rusak parah dan perabotan kelas yang berserakan, seperti meja dan lemari kayu yang miring di bawah bayang-bayang langit biru yang cerah namun ironi. Papan nama sekolah yang masih tertempel di bagian dinding yang mulai roboh menjadi saksi bisu dari kehidupan yang dulunya ada di sana, sebelum tanah berguncang hebat.

Anak-anak Elar NTT, meskipun terlihat tenang saat membaca, menyimpan trauma yang mendalam. Setiap getaran kecil masih bisa memicu ketakutan. Ketekunan mereka untuk terus belajar di bawah kondisi yang mengerikan ini menunjukkan keinginan yang kuat untuk pendidikan, sekaligus mencari bahagia di tengah kekacauan. Halaman-halaman buku yang mereka baca menawarkan pelarian sementara dari kenyataan pahit yang mengelilingi mereka,” kata Maulana Kurnia Putra, S.Sos., M.A., Manajer Program LAZNAS PPPA Daarul Qur’an, melaporakan dari Elar, Manggarai Timur, NTT, Senin, 7 September 2026.

Ia menambahkan, sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman, tempat untuk bermimpi dan bercita-cita, kini menjadi simbol dari kerapuhan kehidupan. “Kehilangan ruang fisik sekolah juga berarti hilangnya rasa keamanan dan rutinitas yang sangat penting bagi perkembangan psikologis anak-anak. Tanah berbatu tempat mereka duduk di bawah terik matahari sekarang menjadi simbol perjuangan untuk mempertahankan sedikit normalnya hidup yang telah terganggu secara drastic,” ujarnya.

Baca Juga : Institut SEBI Mulai Pembangunan Gedung Perpustakaan Baru, Didukung BPKH dan PPPA Daarul Qur’an

Suara di antara keheningan yang tercipta di MIS Jihadul Iman adalah bisikan harapan. Setiap anak yang terlihat dalam foto tersebut mewakili masa depan yang masih bisa dibangun kembali. Trauma gempa bumi meninggalkan luka fisik juga luka batin yang mendalam di hati. “Kerinduan anak-anak akan ruang kelas yang utuh, teman-teman bermain, dan kedamaian hati terpancar dari tatapan fokus pada alinea-alinea yang dibaca, seolah sedang mencari kunci untuk membangun kembali masa depan mereka,” kata Maulana.

Ia mengemukakan, gempa di NTT tidak hanya terjadi sekali. Lebih dari dua belas ribu lindu susulan terus menjelma rangkaian trauma yang berkepanjangan yang terus menghantui. “Ini menantang bayangan saya dan anda tentang akhir dari sebuah bencana. Anak-anak ini ternyata belajar di tengah reruntuhan sekolah dengan kenyataan bahwa ancaman masih terus mengintai. Harapan anak-anak akan sekolah yang baru, untuk masa depan yang layak, adalah gempa yang “tak usai” yang harus mereka hadapi setiap hari,” ujarnya.

Menurut data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas seismik di wilayah Nusa Tenggara Timur masih cukup tinggi setelah gempa utama. Gempa susulan dengan magnitudo yang bervariasi terus terjadi, meskipun frekuensi dan kekuatannya cenderung menurun. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan menghindari bangunan yang sudah retak atau rusak, yang ironisnya justru berada tepat di belakang tempat anak-anak ini mencoba untuk tetap belajar.

Sementara itu, catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menunjukkan dampak kemanusiaan yang signifikan di lapangan. Puluhan ribu bangunan dan rumah warga mengalami kerusakan dari kategori ringan hingga roboh total, di samping fasilitas umum serta gedung-gedung madrasah dan sekolah yang tak lagi layak pakai. Sejumlah warga terpaksa mengungsi ke pos Siaga Bencana (SIGAB) dengan fasilitas terbatas, di mana anak-anak menjadi kelompok paling rentan yang membutuhkan perlindungan fisik maupun pendampingan psikososial.

“Kita akhirnya diajak untuk melihat reruntuhan fisik juga keruntuhan ruang hidup manusia. Bayangkan ketakutan yang anak-anak rasakan setiap kali tanah kembali berguncang, keraguan untuk melangkah masuk ke dalam bangunan yang rapuh, dan kelelahan mental hidup dalam ketidakpastian. Penderitaan masyarakat Flores adalah kepedihan kemanusiaan kita bersama, dan bingkai visual ini hadir sebagai pengingat keras agar kita tidak menutup mata,” kata Maulana.

Baca Juga : PPPA Daarul Qur’an Kunjungi King Hussein Cancer Center: Bawa Harapan untuk Anak-anak Gaza

Pada akhir laporannya, Maulana mengungkapkan, “Anak-anak di MIS Jihadul Iman Golo Kanca dan pelosok NTT lainnya menanti kepedulian nyata saya dan Anda. Uluran tangan untuk rekonstruksi ruang kelas darurat, perbaikan gedung permanen, penyediaan buku-buku layak, hingga pemulihan trauma adalah kebutuhan mendesak yang tak bisa ditunda. Saya dan anda harus memastikan lembaran halaman yang anak-anak dekap dengan khidmat di atas batu-batu runtuhan itu tak menjelma jadi mimpi yang kandas, juga menjadi tangga awal untuk bangkit menata masa depan yang lebih kokoh.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *