Awal Tahun ini, Investasi di Metaverse Mencapai 1.797 Triliun Rupiah

Investasi Metaverse

Milenianews.com – Tahun 2022 ini membawa kita pada trend dan era baru, yaitu Metaverse dan NFT yang sudah mulai merambah ke seluruh dunia. Namun, selama beberapa bulan terakhir ini, berita terkait Metaverse sudah mulai mereda dan jarang terdengar. Namun tahukah sobat milenia, di balik ketenangan ini, ternyata masih banyak yang investasi di Metaverse ini.

Berbagai perusahaan besar masih sangat tertarik untuk Investasi di Metaverse ini. Dan dalam sebuah laporan oleh McKinsey melalui Digital Nation, terlihat bahwa ada suntikan dana yang bisa kita bilang sangat mencengangkan.

Mengacu pada sebuah laporan yang bernama Value Creation in the metaverse, McKinsey menyoroti bahwa Metaverse sudah menerima suntikan dana atau investasi lebih dari US$120 miliar atau sekitar Rp1.797,018 triliun.

Baca Juga : Era Metaverse dan Berbagai Bagian Penting di Dalamnya

Mengutip dari laporan McKinsey(10/7), menunjukan peningkatan suntikan dana yang cukup drastis, bahkan hingga dua kali lipat dari tahun lalu. Di periode yang sama pada 2021, jumlah investasi Metaverse hanya sebesar USD57 miliar atau sekitar Rp853,583 triliun.

Laporan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan dan Venture Capital (VC) besar masih sangat tertarik untuk Investasi di Metaverse ini. McKinsey menyebut ada tiga kategori yang mengucurkan dana besar, termasuk perusahaan teknologi besar, VC, serta perusahaan dan merek besar.

Contoh perusahaan teknologi besar seperti Meta, Microsoft, NVIDIA, Apple, dan Google. Sedangkan nama-nama seperti Paradigm, OpenSea, Coature, Yuga Labs mendapatkan dukungan dari VC besar. Sementara untuk perusahaan besar selain teknologi seperti Disney, LEGO, Balenciaga, dan beberapa perusahaan lainnya menjadi pendukung pengembangan dan pendanaan untuk Metaverse.

Baca Juga : Microsoft dan Meta Bentuk Forum Standardisasi Metaverse 

Alasan Besar Pengembangan dan Investasai Metaverse

Laporan McKinsey tersebut juga mengungkapkan mengapa banyak perusahaan besar investasu dan mengembangkan sektor Metaverse. Ternyata, ada beberapa alasan besar di balik pengembangan dan pendanaan besar-besaran untuk teknologi ini.

Pertama, dengan kemajuan teknologi dan tantangan teknis yang signifikan masih berlangsung, para pemimpin melihat blockchain ini bisa memicu ekonomi pencipta yang terdesentralisasi. Kemudian akan memicu kemunculan teknologi saat ini yang paling menjanjikan. Dengan dalih untuk mencapai janji metaverse masa depan untuk interoperabilitas antar dunia.

Kemajuan lainnya termasuk peningkatan ketersediaan mesin back-end, teknologi komputer yang mendukung Metaverse, dan munculnya 5G. Serta kehadiran perangkat yang menggabungkan dunia fisik dan virtual, dan banyaknya pengembangan perangkat lunak yang semakin canggih.

Baca Juga : Dorong Pemanfaatan Metaverse, Kominfo Dukung Penuh Akselerasi Literasi Digital CfDS UGM

Kedua, faktor lain peningkatan investasi metaverse adalah meningkatnya kesiapan pemangku kepentingan. Karena game memiliki keunggulan utama, kasus penggunaan tambahan muncul dengan cepat. Ini termasuk pengalaman untuk bersosialiasi yang baru dengan dukungan AR/VR, ritel imersif, hiburan, olahraga, dan pendidikan.

Nantinya, Metaverse Akan Menjadi Sarana Bersosial

Ken Wee, chief strategy officer di Activision Blizzard mengatakan kepada McKinsey, bahwa bahkan sekarang game menjadi sarana bersosial. Dan Metaverse secara tidak langsung membantu mempercepat pertumbuhannya.

“Game sudah sangat sosial dan Anda memiliki inovasi fitur sosial yang berkelanjutan. Tetapi saat Anda mencoba menarik orang-orang yang tidak mengidentifikasi diri sebagai gamer, serangkaian mekanisme keterlibatan sosial yang lebih luas akan diperlukan. Untuk meyakinkan mereka agar menghabiskan lebih banyak waktu di metaverse,” ungkapnya.

Sementara itu, beberapa perusahaan juga sudah melakukan eksperimen dengan metaverse. Contohnya Gucci telah menciptakan sejumlah NFT, Nike memiliki Nikeland di Roblox, dan perusahaan makanan cepat saji Wendy’s telah mengadakan acara di Fortnite dan hadir di Horizon Worlds.

Baca Juga : Pelanggan McDonald’s Bisa Pesan Makanan di Metaverse

McKinsey mencatat bahwa beberapa aktivitas bersosialisasi selain game juga akan sering terjadi di Metaverse. Lima aktivitas harian akan sering terjadi di metaverse untuk jangka panjang, yakni bermain game, bersosialisasi, kebugaran, perdagangan, dan pembelajaran jarak jauh.

“Kasus penggunaan di luar game tidak hanya di masa depan, mereka sudah muncul,” kata pendiri dan CEO XR Safety Initiative Kavya Pearlman kepada McKinsey.

“Menurut PBB, 1,6 miliar anak pindah ke pembelajaran online selama pandemi. Jadi ini adalah area yang siap untuk disrupsi di mana banyak orang mencari alternatif. Kami juga melihat banyak eksperimen dalam bidang medis, seperti menggunakan HoloLens untuk membantu operasi,” lanjutnya.

Baca Juga : Daftar Perusahaan yang Kembangkan Metaverse Sendiri

Investasi di Metaverse, Hasilkan Solusi dan Produk Baru

Metaverse juga akan memungkinkan peningkatan bertahap di ruang perusahaan. Baik itu berupa menghasilkan solusi yang tepat saat ini, menambah produktifitas, dan menciptakan produk yang sama sekali baru. Beberapa kategori ini termasuk kolaborasi jarak jauh yang sudah semakin mudah. Pembelajaran dan pengembangan yang dirancang ulang, serta hal yang bersifat digitalisasi lainnya.

Penulis laporan tersebut juga mengatakan, “Metaverse berada pada titik ini dalam evolusinya. Karena berbagai faktor mulai dari ukuran peluang hingga pendorong pertumbuhan yang diharapkan dan jumlah yang diinvestasikan.”

“Kami percaya minat yang kuat dari tahun lalu memicu eksperimen perusahaan dramatis yang telah meletakkan dasar bagi evolusi metaverse. Kemungkinan ini akan mempertahankan momentum di masa mendatang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *