News  

Diskusi Terbatas Ikapi dan Indonesia Bermutu: Indonesia Berpeluang Besar Tampil sebagai Pusat Peradaban Islam Dunia

Pendiri Yayasan Indonesia Bermutu, Dr. Zulfikri Anas, M.Ed (kiri) dan Dewan Pembina Ikapi DKI, H.E. Afrizal Rusdi. (Foto: Dok Yayasan Indonesia Bermutu)

Milenianews.com, Jakarta– Indonesia memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pusat peradaban Islam dunia. Ada beberapa faktor kemajuan peradaban Islam sebagai berikut:

  1. Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.
  2. Indonesia negara damai, politik yang stabil. Sebagian besar negara Islam di timur tengah saat ini sedang berkonflik/perang.
  3. Indonesia memiliki pondok pesantren terbanyak di dunia, mencapai 42.390 pesantren.
  4. Indonesia memiliki perguruan tinggi Islam terbanyak di dunia, mencapai 870 kampus Islam swasta, dan 57 kampus negeri.

Hal itu merupakan kesimpulan diskusi terbatas H.E. Afrizal Rusdi, Dewan Pembina Ikapi DKI yang juga  Dewan Pembina AYPI (Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam) dengan Dr. Zulfikri Anas, M.Ed, Pendiri Yayasan Indonesia Bermutu yang juga  Pembina Al-Iman Islamic School, Senin (30/3/2026).

“Satu hal yang paling utama dalam mendorong kemajuan peradaban Islam adalah, diperkuatnya tiga pilar literasi yaitu budaya baca, budaya diskusi, budaya tulis,” kata Zulfikri Anas.

Ia menambahkan, literasi saat ini menjadi pintu gerbang arah masuk ke dunia ilmu pengetahuan, Agama dan politik. “Pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam perlu memastikan bahwa budaya baca, budaya diskusi, budaya tulis sudah menjadi program prioritas dalam sistem pendidikannya,” ujarnya.

Afrizal Sinaro mengemukakan, Islamic Book Fair Ikapi Dki Jakarta hadir dengan tujuan besar untuk kejayaan peradaban Islam lewat literasi Islam. Inilah kontribusi para pegiat literasi untuk menjadi bagian dari membangun bangsa yang berkemajuan dan beradab.

“IBF merupakan pameran buku Islam terbesar di Indonesia, Insya Allah tahun ini IBF ke 24 akan dilaksanakan pada tanggal 23 s.d 27 Oktober 2026 di Jakarta Convention Center,” kata Afrizal Sinaro.

Namun irionisnya di negeri ini, ia menambahkan, fenomena yang nyata dan sedang terjadi sekarang ini adalah pertumbuhan lembaga pendidikan Islam berbanding terbalik dengan pertumbuhan industri perbukuan di Indonesia.

“Terutama dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, bahwa bisnis penerbitan buku mengalami penurunan signifikan. Jumlah terbitan buku baru rata-rata di cetak hanya 1000 eks per-judul,” ujarnya.

Begitu juga dengan jumlah jaringan toko buku Gunung Agung dan Walisongo yang memiliki 30 cabang,  sekarang sudah tutup. “Kondisi penerbitan buku di Indonesia saat ini berada di titik nadir. Dari 2750 anggota IKAPI, kini hanya 725 penerbit yang aktif. Ini pertanda akan hancurkan sebuah ekosistem yang menopang pendidikan,  literasi, dan pembangunan peradaban bangsa,” kata Afrizal Sinaro.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *