Putra Tri Ramadani Raih Emas Bersejarah di World Climbing Series Praha 2026

Sumber foto Instagram @srondeng_26

Milenianews.com, Jakarta – Tahukah Kalian? Indonesia akhirnya memiliki juara dunia di nomor lead panjat tebing. Putra Tri Ramadani mencetak sejarah dengan merebut medali emas World Climbing Series Praha 2026, sebuah pencapaian yang bukan hanya mengharumkan nama bangsa, tetapi juga mematahkan penantian panjang Indonesia di salah satu disiplin paling bergengsi dalam olahraga panjat tebing.

Baca juga: Klasemen Perolehan Medali Olimpiade Paris 2024: Amerika Serikat Memimpin, Indonesia Masih Berjuang

Namun Senin dini hari itu, sebuah kabar datang dari Praha, Republik Ceko, yang layak membuat pecinta olahraga nasional mengangkat kepala sejenak dari layar ponsel mereka.

Putra Tri Ramadani, atau yang akrab disapa Srondeng, baru saja mencetak sejarah. Ia menjadi atlet Indonesia pertama yang berhasil merebut medali emas nomor lead dalam ajang World Climbing Series 2026.

Emas yang Datang dari Jalur Sulit

Di dunia panjat tebing, nomor lead bukanlah perlombaan yang bisa dimenangkan hanya dengan keberanian.

Atlet harus memanjat setinggi mungkin pada rute yang semakin rumit, semakin melelahkan, dan semakin kejam terhadap otot lengan yang perlahan kehilangan tenaga.

Singkatnya, ini adalah olahraga yang membuat seseorang harus bertarung melawan gravitasi sekaligus rasa sakit dalam waktu bersamaan.

Di Praha, Srondeng mencetak skor 43 pada final lead putra. Angka itu cukup untuk mengungguli pemanjat andalan Jepang, Neo Suzuki, yang selama ini dikenal sebagai salah satu langganan juara dunia dan hanya mampu membukukan skor 39.

Sementara posisi ketiga ditempati wakil Austria, Jakob Schubert, dengan skor 37.

Dari Peringkat Enam Menjadi Juara Dunia

Yang membuat pencapaian ini terasa lebih istimewa adalah perjalanan yang harus ditempuh Srondeng. Setahun sebelumnya, tepatnya pada World Climbing Series Koper 2025 di Slovenia, ia sebenarnya sudah mencicipi atmosfer final.

Namun hasilnya belum sesuai harapan. Saat itu, Putra hanya mampu finis di peringkat keenam dengan skor 40+. Bagi sebagian atlet, kegagalan seperti itu bisa menjadi tembok penghalang.

Bagi Srondeng, kegagalan tersebut justru menjadi pijakan untuk memanjat lebih tinggi, Perjalanan menuju podium tertinggi Praha dimulai sejak babak kualifikasi.

Baca juga: Rizki Juniansyah Angkat Nama Indonesia, Raih Emas di SEA Games 2025

Ia berhasil menembus delapan besar dan mengamankan tiket semifinal. Pada fase tersebut, Srondeng mencetak skor 37+ dan menempati posisi ketiga.

Di atasnya berdiri dua pemanjat Jepang, Sorato Anraku dan Neo Suzuki, yang masing-masing mencatat skor 38+. Secara teori, peluang emas Indonesia tidak terlalu banyak dibicarakan.

Di balik medali emas itu, ada cerita yang lebih manusiawi. Srondeng mengaku rute final di Praha sangat sulit, terutama pada bagian atas lintasan.

Semakin tinggi ia memanjat, semakin besar tekanan yang dirasakan tangannya. Dalam istilah panjat tebing, kondisi itu disebut “pump”, ketika otot lengan mulai kelelahan akibat terus-menerus mencengkeram pegangan. Bagi atlet, itulah momen ketika tubuh mulai meminta berhenti sementara pikiran memaksa untuk terus naik.

Mengalahkan Favorit Dunia

Panjat tebing dunia selama ini identik dengan dominasi negara-negara tertentu, terutama Jepang yang memiliki regenerasi atlet luar biasa.

Karena itu, keberhasilan Srondeng mengalahkan Neo Suzuki bukan sekadar kemenangan biasa. Bahwa Indonesia tidak hanya memiliki atlet cepat di nomor speed yang selama ini sering menjadi kebanggaan nasional.

Indonesia kini juga mampu berbicara di nomor lead, disiplin yang selama bertahun-tahun menjadi wilayah yang sulit ditaklukkan.

Manajer Timnas Panjat Tebing Indonesia, Wahyu Pristiawan Buntoro, bahkan menyebut pencapaian tersebut sebagai momen bersejarah.

Dan sulit untuk membantahnya, Karena memang belum pernah ada atlet Indonesia yang mampu membawa pulang emas lead dari ajang World Climbing Series sebelumnya.

Baca juga: Veddriq Leonardo Raih Emas Pertama Untuk Indonesia di Olimpiade Paris 2024

Prestasi ini juga menjadi pengingat bahwa olahraga Indonesia tidak hanya hidup di lapangan sepak bola, arena bulu tangkis, atau lintasan balap.

Di saat sebagian publik sibuk memperdebatkan hasil pertandingan atau rumor transfer pemain, ada atlet-atlet lain yang diam-diam mengibarkan Merah Putih di panggung dunia.

Mungkin tanpa sorotan sebesar olahraga populer, Mungkin tanpa trending topic berhari-hari. Namun pencapaian mereka tetap sama berharganya, Bahkan terkadang lebih sulit diraih.

Karena menjadi juara dunia membutuhkan lebih dari sekadar popularitas. Dibutuhkan kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus memanjat ketika jalan menuju puncak terlihat semakin curam.

Dan di Praha, Putra Tri Ramadani menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak hanya mampu memanjat dinding, Indonesia juga mampu memanjat sejarah.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *