News  

Dari Kompetisi ke Dampak Nyata, General Chair IEEE YESIST12 Dorong Inovator Muda Tak Berhenti di Panggung

ieee yesist12

Milenianews.com, Bekasi – Sebuah ide tidak selalu lahir dari keinginan membuat teknologi yang terlihat canggih. Kadang, ia bermula dari persoalan sederhana yang dialami seseorang, sebuah komunitas, atau lingkungan. Dari titik itulah Dr. Ramalatha Marimuthu, General Chair IEEE YESIST12, mengajak para inovator muda melihat kembali makna sebuah inovasi dalam Grand Finale IEEE YESIST12 2026 di BSI Convention Center, Bekasi, Jumat (2/10).

Di hadapan sekitar 150 tim yang mewakili enam track, Ramalatha mengatakan YESIST12 sejak awal dibangun dengan keyakinan bahwa sebuah gagasan dapat membawa perubahan. Namun, perjalanan inovasi menurutnya tidak seharusnya berhenti pada kompetisi dan penghargaan.

“Anda tidak berada di sini hanya untuk memenangkan kompetisi. Anda berada di sini karena di suatu tempat, seseorang memiliki masalah. Mungkin seorang anak yang tidak dapat mengakses pendidikan dengan mudah. Mungkin sebuah komunitas yang berjuang mengatasi sampah, air, energi, atau perubahan iklim,” ujar Dr. Ramalatha, Jumat (2/10).

Baca juga: Bukan Sekadar Bertanding, YESIST12 2026 Tantang Inovator Muda Ciptakan Dampak Nyata

Menurut Ramalatha, persoalan yang dihadapi masyarakat seharusnya menjadi titik awal bagi para inovator untuk bertanya apakah teknologi benar-benar dapat membantu. Tetapi pertanyaan tersebut belum cukup.

Ia kemudian mengajak peserta membawa satu pertanyaan lanjutan yang lebih penting, yakni apakah solusi yang mereka buat benar-benar mampu mengubah kehidupan seseorang.

“Bisakah teknologi membantu? Pertanyaan itulah yang menjadi awal mula dari inovasi. Namun, saya ingin menambahkan pertanyaan lain. Apakah solusi saya benar-benar akan memberikan perubahan bagi kehidupan seseorang? Di situlah inovasi berubah menjadi dampak nyata,” katanya.

Dari Kompetisi Menuju Perjalanan Inovasi

Ramalatha juga membawa peserta melihat perjalanan panjang YESIST12. Ketika pertama kali dimulai pada 2013, YESIST12 disebut masih berupa kompetisi lokal berskala kecil yang berfokus pada teknologi asistif dengan tujuan mendorong siswa menggunakan teknologi untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Perjalanan tersebut berkembang pada 2016 ketika YESIST12 mulai menjadi platform inovasi global yang berfokus pada SDGs. Dari awal yang melibatkan empat negara dan dua track, YESIST12 kemudian berkembang menjadi gerakan inovasi pemuda multibenua yang mempertemukan pemikiran muda dari hampir 30 negara setiap tahunnya.

Kini, Indonesia menjadi tempat berlangsungnya Grand Finale 2026 yang mempertemukan sekitar 150 tim dalam enam track.

Bagi Ramalatha, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sebuah gagasan kecil dapat tumbuh jauh lebih besar ketika dipelihara dengan tujuan yang jelas.

“Sebuah gagasan kecil, ketika dipupuk dengan tujuan yang jelas, dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan siapa pun pada awalnya,” tuturnya.

Namun, perkembangan tersebut juga membuat YESIST12 ingin mengubah cara pandang terhadap kompetisi inovasi. Jika pola lama berhenti pada ide, kompetisi, dan hadiah, Ramalatha menawarkan alur yang lebih panjang.

Menurutnya, inovasi yang berhasil bukan selalu yang menggunakan teknologi paling canggih. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami persoalan secara mendalam, mendengarkan masyarakat, belajar dari kegagalan, melakukan perbaikan, dan menciptakan perubahan yang bermakna.

Jangan Takut Jika Prototipe Gagal

Pesan tersebut juga menjadi pengingat bagi peserta yang tengah menjalani evaluasi di Grand Finale. Ramalatha meminta para inovator muda tidak menjadikan kegagalan prototipe atau pertanyaan sulit dari juri sebagai alasan untuk berhenti.

“Jangan takut jika prototipe pertama Anda tidak berhasil. Jangan kecewa jika juri mengajukan pertanyaan yang sulit. Jangan takut jika ide Anda berubah selama hari-hari ini. Bahkan, saya katakan, biarkan ide itu berubah,” katanya.

Menurut Ramalatha, perubahan ide bukan sesuatu yang harus ditakuti dalam proses inovasi. Justru dari proses belajar itulah seorang inovator dapat menemukan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui dan memperbaiki solusi yang sedang dikembangkan.

Ia bahkan mengingatkan bahwa hasil paling berharga dari sebuah kompetisi tidak selalu berupa piala. Bisa jadi, hasil terpenting adalah ketika seorang inovator menyadari bahwa ia menemukan sesuatu yang belum diketahuinya dan kini memiliki cara untuk membuat solusinya menjadi lebih baik.

Yesist12 Bukan Garis Akhir

Ramalatha juga menyampaikan apresiasi kepada para mentor, juri, penyelenggara, sukarelawan, mitra, sponsor, dan tuan rumah di Indonesia yaitu Universitas Nusa Mandiri yang telah mendukung penyelenggaraan Grand Finale 2026.

Khusus kepada para peserta, ia mengingatkan bahwa perjalanan tidak seharusnya berakhir ketika evaluasi dan penghargaan selesai.

“Apa pun yang terjadi dalam evaluasi akhir nanti, jangan biarkan perjalanan Anda berakhir dengan final ini. Bawa kembali proyek Anda ke komunitas Anda,” ujarnya.

Ia mendorong para peserta untuk kembali menemui pengguna, menguji solusi, melakukan perbaikan, mencari mentor dan mitra, hingga membuka peluang pendanaan. Sebab, menurutnya, persoalan yang menjadi dasar lahirnya sebuah inovasi tetap perlu diselesaikan setelah kompetisi berakhir.

“Sebab YESIST12 bukanlah tujuan akhir dari perjalanan inovasi Anda. YESIST12 seharusnya menjadi awal mulanya,” tegasnya.

Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam satu gagasan yang menjadi penutup sambutannya.

Baca juga: Bukan Sekadar Bertanding, YESIST12 2026 Tantang Inovator Muda Ciptakan Dampak Nyata

“Jangan hanya membangun solusi untuk sebuah kompetisi. Bangunlah solusi yang dapat bertahan di dunia nyata,” pesannya.

Grand Finale IEEE YESIST12 2026 di Indonesia pun tidak sekadar menjadi tempat mempertemukan ratusan inovator muda dari berbagai negara. Panggung ini juga menjadi ruang untuk menguji apakah sebuah gagasan mampu bergerak lebih jauh dari layar komputer, meja laboratorium, atau ruang presentasi menuju persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Universitas Nusa Mandiri dan Indonesia menjadi titik pertemuan, teknologi menjadi penghubung, dan SDGs menjadi tujuan bersama. Setelah kompetisi selesai, pekerjaan yang sesungguhnya justru dimulai ketika para inovator membawa pulang gagasan mereka dan kembali berhadapan dengan dunia nyata.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *