News  

Anak Minta Laptop Gaming? Jangan Langsung Bilang Tidak!

laptop gaming

“Laptop mahal cuma dipakai buat main game?”

Milenianews.com, Jakarta – Kalimat itu mungkin pernah terucap dari banyak orang tua ketika anak meminta laptop gaming. Di tengah harga perangkat yang tidak murah, kekhawatiran tersebut tentu bisa dipahami. Apalagi, kata “gaming” identik dengan aktivitas bermain gim yang sering dianggap mengganggu waktu belajar.

Namun, benarkah laptop gaming hanya bermanfaat untuk bermain gim?

Menurut Rizki Hesananda, M.Kom, dosen Program Studi (Prodi) Teknologi Informasi Cyber University (Universitas Siber Indonesia) sekaligus praktisi IT, cara pandang tersebut mulai perlu diubah. Di era transformasi digital, perangkat dengan spesifikasi tinggi justru menjadi salah satu modal penting bagi siswa yang ingin mengembangkan keterampilan teknologi.

“Laptop gaming sebenarnya bukan hanya untuk bermain game. Dengan pemanfaatan yang tepat, perangkat ini bisa menjadi alat belajar yang sangat powerful, bahkan bisa membantu siswa membangun skill yang siap digunakan di dunia kerja,” ujar Rizki, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (30/7).

Baca juga: Lewat Program CLP 3+1, Mahasiswa Cyber University Sudah Kerja Sebelum Lulus Kuliah

Dunia Kerja Kini Membutuhkan Talenta Digital

Indonesia sedang berada di tengah percepatan transformasi digital. Hampir seluruh sektor industri kini memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, mulai dari pendidikan, kesehatan, perbankan, hingga manufaktur.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kebutuhan sumber daya manusia. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor informasi dan komunikasi menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan paling cepat dalam beberapa tahun terakhir serta memberi kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tidak hanya itu, Kementerian Ketenagakerjaan juga menempatkan kemampuan seperti pemrograman, analisis data, dan pengembangan aplikasi sebagai kompetensi yang semakin dicari oleh dunia industri.

Artinya, kesempatan untuk mempersiapkan diri menuju dunia kerja digital sebenarnya sudah bisa dimulai sejak bangku sekolah, terutama bagi siswa SMK yang memang dibekali keterampilan vokasi.

Ketika Laptop Menjadi Alat Berkarya

Bagi sebagian orang, laptop gaming identik dengan kartu grafis yang tangguh, prosesor cepat, dan kapasitas memori besar. Spesifikasi tersebut memang dibutuhkan untuk menjalankan gim modern, tetapi kemampuan yang sama juga sangat diperlukan dalam berbagai pekerjaan berbasis teknologi.

Software pengembangan aplikasi seperti Visual Studio, Android Studio, hingga perangkat lunak desain grafis membutuhkan sumber daya komputer yang besar. Begitu pula dengan proses menjalankan emulator Android, mengolah video, atau melatih model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Karena itu, laptop dengan spesifikasi tinggi bukan hanya memudahkan proses belajar, tetapi juga membuat siswa lebih leluasa bereksperimen tanpa terkendala kemampuan perangkat.

Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang

Pandangan tersebut bukan sekadar teori. Rizki mengaku melihat langsung kemampuan siswa SMK ketika dipercaya menjadi juri pada Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang IT Software Solution for Business di SMK Negeri 47 Jakarta beberapa waktu silam.

Selama dua hari kompetisi, peserta ditantang mengembangkan aplikasi desktop menggunakan platform .NET, kemudian melanjutkannya dengan membuat aplikasi Android.

Yang menarik, seluruh proses dilakukan dalam waktu terbatas dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

“Siswa-siswa SMK luar biasa. Mereka mampu membangun software dengan kualitas yang baik dalam waktu yang relatif singkat. Ini menunjukkan bahwa kompetensi mereka sudah sangat siap untuk masuk ke dunia industri digital,” katanya.

Menurut Rizki, kemampuan tersebut tidak hanya lahir dari proses belajar di sekolah, tetapi juga didukung oleh perangkat yang mampu menjalankan berbagai aplikasi pengembangan perangkat lunak secara optimal.

Lebih dari Sekadar Bermain Gim

Laptop gaming sebenarnya membuka banyak peluang bagi siswa untuk belajar dan menghasilkan karya. Setidaknya ada lima aktivitas produktif yang dapat dilakukan.

Pertama, belajar programming dan pengembangan perangkat lunak menggunakan berbagai perangkat lunak profesional.

Kedua, membuat aplikasi Android lengkap dengan pengujian melalui emulator yang membutuhkan spesifikasi komputer tinggi.

Ketiga, mempelajari Artificial Intelligence, termasuk machine learning dan computer vision, yang kini menjadi bidang dengan pertumbuhan paling pesat.

Keempat, mengembangkan kemampuan desain UI/UX, mengedit video, hingga membuat berbagai konten digital.

Kelima, membangun portofolio melalui proyek nyata atau bahkan mulai menerima pekerjaan lepas (freelance) sejak masih berstatus pelajar.

Baca juga: Mahasiswi Cyber University Melaju ke Final Puteri Batik Banten 2026

Investasi untuk Masa Depan

Tentu, membeli laptop gaming bukan berarti membebaskan anak bermain gim tanpa batas. Peran orang tua tetap penting dalam mengarahkan penggunaan teknologi agar lebih produktif.

Dengan pendampingan yang tepat, perangkat tersebut dapat berubah fungsi dari sekadar alat hiburan menjadi sarana belajar, bereksperimen, dan membangun kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Pada akhirnya, nilai sebuah laptop tidak hanya ditentukan oleh spesifikasinya, tetapi juga oleh bagaimana perangkat itu dimanfaatkan. Jika digunakan untuk belajar, berinovasi, dan menghasilkan karya, laptop gaming bukan lagi sekadar gadget, melainkan investasi bagi masa depan generasi digital Indonesia.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *