Milenianews.com, Mata Akademisi– Dalam berumah tangga, seperti halnya manusia biasa, Nabi Muhammad SAW berperan sebagai seorang suami bagi istri-istri beliau, ayah bagi anak-anak beliau, dan tentu juga sebagai kepala rumah tangga. Dalam lanskap kehidupan sejarah, seperti apa peran beliau sebagai suami, ayah, dan kepala keluarga?
Sebagai seorang suami, Nabi begitu memperhatikan istri-istrinya, baik Khadijah, Aisyah, atau istri lainnya. Nabi tidak hanya peduli soal makan, minum, pakaian, dan menggilir mereka, tapi juga soal beribadah.
Nabi bersabda, “Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan dia membangunkan istrinya lalu istrinya mengerjakan shalat. Bila istrinya tidak mau bangun, dia memercikkan air di wajah istrinya. Semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya lalu suaminya mengerjakan shalat. Bila suaminya tidak mau bangun, dia memercikkan air di wajah suaminya.” (HR. Abu Daud).
Selain itu, dalam lembaran sejarah disebutkan juga bahwa Nabi kerap memanggil Aisyah dengan sebutan humairah. Artinya dalam bahasa kita perempuan yang pipinya kemerah-merahan, saking cantiknya. Memang Aisyah selain cerdas, muda, juga cantik. Nabi menikahinya pada usia sembilan tahun. Saat Nabi wafat, Aisyah berusia delapan belas tahun.
Berikutnya, dalam konteks Nabi sebagai ayah, beliau kerap memperhatikan anak-anak beliau dengan memerintahkan shalat. Nabi mewanti-wanti, “Perhatikanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun. Jika mereka telah berumur sepuluh tahun, namun mereka tidak mau shalat, pukullah mereka.” (HR. Abu Daud). Mengapa demikian? Karena shalat adalah tiang agama.
Selain itu, sebagai seorang ayah, Nabi mengarahkan anak-anaknya untuk gemar membaca al-Qur’an, seperti bunyi sabda beliau, “Didiklah anak-anakmu dengan tiga hal. Pertama, mencintai nabimu. Kedua, mencintai ahli baitnya dan, ketiga, membaca al-Qur’an. Sebab, orang yang mengamalkan al-Qur’an nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali dari-Nya bersama para nabi dan orang-orang suci.” (HR. Thabrani).
Sebagai seorang ayah, Nabi juga mengajarkan anak-anak beliau untuk hidup sederhana. Dalam kitab al-Mawaidz al-Ushfururiyah, Syaikh Muhammad bin Abi Bakar menuliskan keterheranan Umar bin Khaththab demi melihat mantel Fatimah yang memiliki dua belas tambalan, padahal beliau adalah putri seorang Nabi.
Selanjutnya, dalam konteks Nabi sebagai kepala keluarga tentu banyak pelajaran yang bisa diteladani. Misalnya, sebagai kepala keluarga Nabi berupaya menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka. Allah menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. al-Tahrim/66: 6).
Menurut pengarang kitab Tafsir Jalalain, yang dimaksud memelihara diri dan keluarga dari api neraka adalah mengarahkan mereka kepada jalan ketaatan kepada Allah. Tujuannya, agar seisi keluarga masuk surga.
Dengan meneladani rumah tangga Nabi, baik dalam konteks beliau sebagai seorang suami, ayah, dan kepala keluarga diharapkan kebahagiaan dunia dan akhirat bisa didapat. Sesuai doa yang selama ini digantungkan di langit oleh umat Nabi Muhammad, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah/2: 201).
Penulis: Dr. KH. Syamsul Yakin MA., Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok







