Milenianews.com, Mata Akademisi– Keistimewaan Rasulullah terungkap dalam hadits dari seorang perawi yang bernama Jabir bin Abdullah. Hadits ini dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam karyanya, yakni kitab al-Iqtishad fil I’tiqad tanpa menyebut muhadditsnya.
Nabi bersabda, “Aku diberikan lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada para nabi sebelumku. Pertama, aku ditolong Allah dalam setiap peperangan dengan cara Allah menghunjamkan rasa takut di hati musuh-musuhku sebulan selama mereka menempuh perjalanan menuju peperangan.
Kedua, dijadikan untukku bumi sebagai masjid yang suci sehingga di mana saja aku dan umatku bisa melaksanakan shalat. Ketiga, dihalalkan untukku harta rampasan perang, padahal itu tidak dihalalkan untuk seorang nabi pun sebelumku.
Keempat, aku diberikan privelese untuk memberikan syafaat kepada umatku. Kelima, para nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya, sedangkan aku diutus untuk manusia seluruhnya.”
Terkait matan hadits ini, al-Ghazali meyakini bahwa Rasulullah adalah makhluk terbaik di antara para makhluk Allah. Beliau adalah yang paling mulia, utama, dan yang paling tinggi derajatnya. Bahkan berbanding dengan siapapun, Nabi adalah yang terdekat kedudukannya di sisi Allah. Maka pantas kalau Allah mengutus beliau bagi seluruh alam dan diberi hak istimewa memberikan syafaat.
Allah mempertegas, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta.” (QS. al-Anbiya/21: 107). Di dalam kitab Tafsir Jalalain diungkap bahwa yang dimaksud seluruh alam adalah alam manusia dan jin.
Lalu syafaat Nabi adalah doa yang beliau simpan pada hari kiamat. Hal ini terungkap dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Abu Hurairah. Nabi bersabda, “Setiap nabi memiliki doa makbul yang digunakan untuk berdoa. Aku menyimpan doaku tersebut sebagai syafaat untuk umatku di akhirat kelak.” (HR. Bukhari).
Abu Hurairah bertanya, “Katakanlah Ya Rasulullah, siapa yang berbahagia karena mendapat syafaatmu di hari kiamat nanti?” Nabi menjawab, “Ya Abu Hurairah, selainmu aku merasa tidak ada yang bertanya kepadaku tentang hal ini. Yang aku lihat, ini karena semangatmu mempelajari hadits. Yang berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat nanti adalah yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan ikhlas dalam hatinya.” (HR. Bukhari).
Rasulullah mempertegas, “Barangsiapa bershalawat kepadaku atau memintaku sebagai wasilah, maka dia pasti mendapatkan syafaatku pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim). Momemtum maulid saat ini bisa dimaksimalkan untuk meneladani Rasulullah. Semoga saja syafaat beliau terlimpah untuk kita.
Penulis: Dr. KH. Syamsul Yakin MA, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta












