Milenianews.com – Pagi di Jakarta selalu dimulai dengan pergerakan. Jalan raya dipenuhi kendaraan yang saling beriringan, dari sepeda motor hingga kendaraan bermesin diesel yang membawa penumpang maupun barang. Di tengah padatnya mobilitas tersebut, ada sesuatu yang tidak selalu terlihat tetapi ikut memenuhi ruang kota: partikel polusi udara.
Sebuah studi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa kendaraan bermesin diesel menjadi salah satu sumber utama partikulat halus PM2.5 di Jakarta. Berdasarkan studi tersebut, kendaraan diesel menyumbang 32,4 persen dari emisi PM2.5 di Ibu Kota.
Temuan tersebut kembali menyoroti hubungan erat antara aktivitas transportasi dan kualitas udara perkotaan. Semakin padat pergerakan kendaraan, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap emisi yang dihasilkan.
PM2.5 yang Tak Terlihat Mata
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat berada di udara dan terhirup manusia. Ukurannya yang halus membuat keberadaannya tidak selalu dapat dikenali secara kasatmata.
Masalahnya, polusi udara di Jakarta bukan hanya berasal dari satu sumber. Aktivitas transportasi menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap pencemaran udara perkotaan. Penelitian-penelitian ITB sebelumnya juga menunjukkan adanya keterkaitan antara aktivitas kendaraan dan konsentrasi polutan di Jakarta. Salah satu penelitian pemantauan kualitas udara ITB menemukan bahwa konsentrasi PM2.5 dan black carbon di kawasan padat lalu lintas berkaitan dengan volume kendaraan yang melintas.
Karena itu, kendaraan yang setiap hari bergerak di jalanan Jakarta tidak hanya membawa orang dan barang. Gas buang yang dilepaskan ke udara juga menjadi bagian dari persoalan kualitas udara yang harus dihadapi kota.
Baca juga: Polusi Udara Jakarta Memburuk, dan Pentingnya Peran Corporate Social Responsibility (CSR)
Kendaraan Diesel Berada di Posisi Teratas
Dalam studi yang diberitakan CNN Indonesia, kendaraan berbahan bakar diesel menjadi kontributor terbesar PM2.5 di Jakarta dengan porsi 32,4 persen. Setelah kendaraan diesel, kontribusi berikutnya berasal dari kendaraan berbahan bakar bensin.
Temuan tersebut menjadi penting karena kendaraan diesel digunakan dalam berbagai aktivitas transportasi. Kendaraan jenis ini tidak hanya ditemukan pada kendaraan pribadi, tetapi juga pada kendaraan yang mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kualitas udara Jakarta tidak dapat dilepaskan dari persoalan emisi kendaraan.
Namun, temuan ini bukan berarti seluruh polusi Jakarta hanya berasal dari kendaraan diesel. Polusi udara merupakan persoalan yang memiliki banyak sumber dan dipengaruhi berbagai faktor.
Penelitian ITB mengenai kualitas udara Jakarta juga menunjukkan bahwa sektor transportasi memiliki peran besar dalam emisi sejumlah polutan. Dalam penelitian mengenai pengembangan faktor emisi kendaraan di DKI Jakarta, misalnya, kendaraan berbahan bakar diesel ditemukan menghasilkan faktor emisi NOx yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.
Padatnya Jalan, Beratnya Beban Polusi
Jakarta merupakan kawasan perkotaan dengan aktivitas transportasi yang tinggi. Setiap hari, kendaraan bergerak untuk mengantarkan masyarakat menuju tempat kerja, sekolah, pusat perdagangan, hingga berbagai kawasan lainnya.
Kepadatan tersebut membuat jalan raya menjadi salah satu ruang yang paling dekat dengan sumber emisi. Masyarakat yang berjalan kaki, menggunakan kendaraan pribadi, maupun menunggu transportasi umum sama-sama beraktivitas di lingkungan yang dipengaruhi oleh kualitas udara.
Penelitian ITB mengenai paparan PM2.5 pada individu di DKI Jakarta juga menemukan bahwa tingkat paparan dapat berbeda berdasarkan aktivitas dan moda transportasi. Dalam penelitian tersebut, rata-rata paparan PM2.5 tertinggi selama perjalanan tercatat pada aktivitas menggunakan sepeda motor.
Artinya, persoalan polusi tidak berhenti pada jumlah emisi yang dilepaskan kendaraan. Ada persoalan lain yang tak kalah penting, yakni seberapa besar polutan tersebut kemudian terhirup oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Paru-paru di Hiruk Pikuk Polusi Jakarta
Bukan Sekadar Masalah Kendaraan
Mengurangi polusi udara Jakarta tentu tidak cukup hanya dengan menunjuk satu jenis kendaraan. Pengelolaan kualitas udara membutuhkan pendekatan yang lebih luas, termasuk pengendalian emisi dari sektor transportasi dan pengelolaan mobilitas masyarakat.
Penelitian ITB mengenai kualitas udara Jakarta menunjukkan bahwa sektor transportasi memiliki kontribusi besar terhadap sejumlah polutan. Karena itu, berbagai strategi seperti peningkatan transportasi umum, pengelolaan permintaan perjalanan, serta kebijakan pembatasan kendaraan dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan emisi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi kendaraan dan penerapan standar emisi juga menjadi bagian dari pembahasan. Penelitian ITB mengenai kendaraan diesel menunjukkan bahwa standar emisi yang berbeda dapat memengaruhi karakteristik emisi kendaraan. Studi tersebut membandingkan kendaraan diesel dengan standar Euro-2 dan Euro-4 menggunakan bahan bakar B50.
Pada akhirnya, persoalan udara Jakarta bukan hanya tentang apa yang terlihat di jalan. Di balik lalu lintas yang terus bergerak, terdapat partikel-partikel kecil yang ikut bergerak bersama udara dan masuk ke ruang hidup masyarakat.
Temuan bahwa kendaraan diesel menyumbang 32,4 persen PM2.5 menjadi salah satu gambaran tentang besarnya tantangan tersebut. Ketika jutaan perjalanan harus tetap berlangsung setiap hari, pekerjaan rumahnya bukan sekadar membuat jalan lebih lancar, tetapi juga memastikan udara yang mengiringi perjalanan itu tetap layak untuk dihirup.
Sebab, kemacetan mungkin hanya membuat seseorang terlambat sampai tujuan. Tetapi udara yang tercemar dapat meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













