Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Di kawasan Gangnam, saya telah menyusuri dan menikmati wajah Seoul sebagai salah satu episentrum ekonomi Asia. Deretan gedung perkantoran tinggi, pusat bisnis, dan area perbelanjaan menjadi simbol sah Seoul sebagai kota modern bergaya hidup metropolitan, dengan denyut kehidupan yang terus terjaga hingga dini hari.
Modernitas Seoul memancar kuat dari jaringan kereta bawah tanahnya yang luar biasa luas, serta teknologi digital yang melekat erat dalam keseharian warganya. Sementara itu, gelombang pengaruh budaya Korea Selatan telah lama melampaui batas-batas negara. K-Pop, drama Korea, tren kosmetik, kuliner, hingga gaya busana telah bertransformasi menjadi budaya populer di ranah global.
Namun, di balik rimbunnya pencakar langit dan ingar-bingar K-Pop, Seoul ternyata sangat setia memeluk artefak tuanya. Di antara aspal jalanan lebar dan taman-taman modern, masih berdiri kukuh istana kerajaan, megahnya gerbang kota, rumah-rumah tradisional, hingga sisa-sisa tembok pertahanan masa lalu.
Perjalanan untuk memahami Seoul secara utuh rasanya tak cukup jika hanya mencecap kehidupan metropolitannya; kita perlu mundur sejenak menelusuri jejak-jejak sejarahnya. Berbekal rasa penasaran, saya mencoba napak tilas jejak Raja Sejong dan Benteng Namhansanseong. Nama pertama berlokasi tepat di jantung kota, sementara yang kedua bersandar di kawasan pegunungan pinggiran—sebuah benteng penyimpan epik krusial peninggalan Dinasti Joseon.
Baca juga: Seoul, Si Kota Futuristik yang Tetap Muslim Friendly
Raja Sejong dan Lahirnya Aksara Hangeul

Langkah saya bermula di Gwanghwamun, alun-alun megah yang membentang tepat di depan istana utama Dinasti Joseon, Gyeongbokgung. Gwanghwamun bukan sekadar gerbang istana; pada masanya, kawasan ini adalah urat nadi pemerintahan kerajaan. Kini, ia bersalin rupa menjadi ruang publik utama di Seoul, tempat masyarakat berkumpul sekaligus saksi bisu meleburnya sejarah masa lalu dengan peradaban modern.
Patung Raja Sejong duduk berwibawa di Gwanghwamun, seolah mengingatkan setiap pejalan kaki pada satu periode keemasan dalam sejarah Korea. Sejong adalah raja keempat Dinasti Joseon yang memerintah pada tahun 1418 hingga 1450. Namanya harum dikenang berkat inisiatif dan dukungannya dalam mengembangkan sistem tulisan Korea, Hangeul—aksara yang terus hidup dan mendominasi hingga detik ini.
Jauh sebelum era Hangeul, masyarakat Korea menggunakan aksara Hanja yang berakar dari aksara Tiongkok. Aksara ini secara resmi dipakai dalam urusan pemerintahan, sistem pendidikan, dan karya sastra. Masalahnya, bahasa Korea lisan dan bahasa Tiongkok memiliki struktur yang sangat berbeda. Memaksakan penggunaan Hanja untuk menuliskan bahasa Korea menuntut rumusan dan aturan khusus yang teramat rumit. Mempelajarinya butuh waktu panjang, sehingga kemampuan literasi kala itu hanya dimonopoli oleh kalangan bangsawan terdidik dan sulit dijangkau oleh rakyat jelata.
Raja Sejong menyadari betul ketimpangan ini beserta risiko jangka panjangnya. Ia kemudian mengumpulkan para sarjana kerajaan dan menitahkan mereka untuk merumuskan sistem aksara baru yang lebih ramah terhadap lidah lokal. Sistem tulisan ini harus mampu merepresentasikan bunyi bahasa Korea secara sederhana, logis, dan sistematis. Jerih payah tersebut membuahkan hasil berupa sistem aksara Hangeul, yang mulai digunakan secara resmi pada tahun 1446.
Keistimewaan Hangeul langsung terasa; ia bukan sekadar kumpulan simbol acak. Sistem Hangeul dirancang menggunakan prinsip fonetik tingkat tinggi. Bentuk dasar konsonannya didesain menyerupai posisi organ artikulasi (mulut, lidah, tenggorokan) saat menghasilkan bunyi. Huruf-huruf ini lantas disusun menjadi blok suku kata, memberikan tulisan Korea tampilan visual yang sangat khas dan estetik, berbeda dari susunan alfabet Latin yang berderet linier.
Berdiri persis di hadapan patung Raja Sejong, kisah sejarah ini memberikan makna yang menancap lebih dalam. Monumen ini tidak hanya didirikan untuk mengenang penguasa masa lampau, melainkan menjadi pengingat bahwa salah satu fondasi terkuat peradaban Korea modern justru bermula dari kebesaran hati seorang raja: menciptakan bahasa tertulis yang merakyat, setara, dan mudah dimengerti siapa saja.
Menyapa Balai Kota, Harmoni Masa Lalu dan Masa Depan

Kaki saya melangkah bergeser ke Seoul Plaza, sebuah ruang terbuka hijau luas dan tertata rapi yang membentang di depan balai kota. Gedung Seoul City Hall yang baru tampak sangat anggun dan futuristik. Tepat di sampingnya, berdiri Seoul Metropolitan Library—sebuah bangunan klasik peninggalan awal abad ke-20 yang dulunya difungsikan sebagai balai kota lama.
Desain Seoul City Hall baru adalah bukti sahih kehebatan Korea dalam meleburkan teknologi, arsitektur kontemporer, dan identitas tradisional. Fasad bangunannya yang melengkung terinspirasi langsung dari siluet atap tradisional Korea, namun dieksekusi menggunakan konstruksi mutakhir dan teknologi hijau yang hemat energi.
Di seberang jalan, Istana Deoksugung berdiri tenang dengan jalan setapak berbatu yang mengitari temboknya. Pagi ini, hanya dengan satu sapuan pandangan mata, saya bisa merangkum lanskap gedung perkantoran pencakar langit, ruang publik terbuka, taman istana kerajaan, hingga bangunan bersejarah era kolonial. Inilah karakter Seoul yang menakjubkan; masa lalu tidak pernah digusur paksa ketika kotanya berlari kencang menuju masa depan. Sebaliknya, jejak-jejak itu dirawat dan disatukan menjadi lanskap kota modern.
Aktivitas kota mulai beranjak ramai. Para pekerja dan profesional muda bergegas menuju kantor, bus-bus kota membelah aspal Sejong-daero, sementara gerombolan pejalan kaki menyemut menuruni trotoar menuju stasiun kereta bawah tanah. Saya menjadi salah satu dari mereka, ikut berdesakan di dalam subway untuk bertolak menuju Namhansanseong.
Setelah puas mencerna gemerlap Seoul dengan segala teknologi dan kecepatan metropolisnya, perjalanan berganti haluan. Berlokasi di sebelah tenggara Seoul, kawasan pegunungan Namhansanseong menawarkan atmosfer yang bertolak belakang. Ini adalah kawasan benteng bersejarah, tempat di mana sistem pertahanan kerajaan sempat menjadi pertaruhan paling krusial dalam sejarah Korea. Berkunjung ke sini sama artinya dengan menyelami narasi sejarah sekaligus memanjakan paru-paru dengan lanskap alam yang masih perawan.
Lokasi ini memancarkan aura historis yang pekat karena pernah menjadi benteng perlindungan terakhir Dinasti Joseon saat menghadapi invasi Dinasti Qing pada tahun 1636. Kala itu, Raja Injo yang tengah berkuasa terpaksa menyingkir dan bertahan di balik tembok pertahanan ini.
Situs Warisan Dunia dan Hangatnya Hotteok di Sudut Stasiun

Kompleks Namhansanseong tentu bukan sekadar jajaran tembok kaku yang membosankan. Di baliknya, terdapat gerbang benteng yang artistik namun tetap fungsional, pos-pos komando militer, sisa bangunan pemerintahan, hingga jejak tata letak kota di dalam area pertahanan. Hebatnya, Namhansanseong didirikan dengan mematuhi kontur alami pegunungan, membuat sistem pertahanannya seolah bernapas dan menyatu sempurna dengan kondisi alam sekitar.
Bagi siapa saja yang sudah memendam bayangan tertentu tentang Korea Selatan di kepalanya, menapaki Namhansanseong akan menyajikan perspektif yang sama sekali baru. Berjalan menyusuri tembok panjangnya, kita bisa menikmati embusan angin pegunungan sekaligus mereka ulang bagaimana kawasan ini difungsikan sebagai tameng hidup peradaban. Tak heran jika UNESCO menetapkan Namhansanseong sebagai Situs Warisan Dunia pada 2014, mengapresiasi tingginya nilai sejarah, arsitektur, dan kecerdasan sistem pertahanannya.
Jelajah sejarah akhirnya usai, waktunya kembali ke hotel. Namun, langkah saya tertahan di depan sebuah gerobak kecil di sudut stasiun kereta. Panggilan ringan dari perut menuntun saya pada seorang penjaja hotteok. Sebagai salah satu jajanan pinggir jalan paling populer di Korea, hotteok pada dasarnya adalah penganan manis sejenis roti goreng.
Baca juga: Noryangjin, Pasar Laut dan Cerita Pagi di Seoul
Di balik kepulan asap gerobaknya, sang penjual dengan ritme cekatan menuangkan adonan ke atas wajan ceper yang panas, lalu menekan-nekannya dengan alat khusus hingga adonan berubah menjadi bulat pipih. Perlahan, permukaan tepung itu berubah rona menjadi kuning kecokelatan yang menggoda, sementara isian gula di dalamnya lumer berkadar karamel akibat sengatan suhu panas.
Saya memesan lima buah. Dengan penjepit besi, penjual mengangkat roti-roti itu lantas memasukkannya ke dalam kantong kertas baru yang bersih dan higienis, bukan kertas bekas. Transaksinya berlangsung sangat singkat dan efisien. Begitu pesanan saya berpindah tangan, pembeli lain terus berdatangan dan langsung dilayani dengan ritme cepat yang sama, nyaris tanpa antrean yang berarti.
Saya bergeser sedikit menepi, menyiapkan selembar tisu, lalu menjepit sebuah hotteok panas di tangan. Suhunya masih terlalu menyengat, saya terpaksa menunggu sejenak. Begitu gigitan pertama akhirnya mendarat, lumeran gulanya langsung pecah berhamburan di dalam mulut—sebuah kenikmatan autentik jalanan. Manis dan hangatnya penganan ini terasa begitu pas untuk menutup perjalanan melintasi waktu di Namhansanseong, sekaligus merayakan kepingan kecil keseharian warga Seoul.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







