Ilmu Pesantren Jangan Cuma Mengendap di Balik Tembok Pondok, Bawa Keluar!

ilmu pesantren

Oleh: M. Ridhani, Mahasiswa Prodi PAI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Mata Akademisi, Milenianews.com – Apa gunanya belajar agama bertahun-tahun jika ilmunya berhenti pada diri sendiri? Pertanyaan itu terus saya bawa sejak menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Ilung, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Peringatan Hari Santri pada 22 Oktober lalu kembali mengingatkan saya pada pertanyaan tersebut. Tanggal itu merujuk pada Resolusi Jihad K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945, sebuah seruan para ulama untuk membela kemerdekaan. Lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, negara secara resmi mengakui bahwa santri punya tempat krusial dalam perjalanan bangsa ini. Pengakuan tersebut menuntut kita bertanya: apa yang bisa santri lanjutkan hari ini, ketika tantangan kita bukan lagi penjajah bersenjata?

Menurut saya, jawabannya dimulai dari hal-hal yang paling dekat: cara kita mengajar, menjalankan amanah, dan bermedia. Di sanalah Pancasila menjadi nyata. Bukan lagi sebagai hafalan kaku saat upacara, melainkan sebagai pedoman bertindak sehari-hari.

Baca juga: Hari Santri dan Perlawanan Sunyi Penjaga Ayat di Pelosok

Menghidupi Lima Sila di Ruang-Ruang Kecil

Di pondok, saya mengajar dan dipercaya sebagai Ketua Media Muhibbin. Saya juga terlibat mengajarkan Al-Qur’an dalam Pesantren Ramadan yang diselenggarakan oleh Remaja Masjid Nurul Yaqin, Desa Hamparaya, Kabupaten Balangan. Kegiatan seperti ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya justru bersemayam pelajaran bernegara yang tidak tertulis di buku cetak mana pun.

Semua bermula dari keyakinan bahwa beragama harus berbuah tanggung jawab moral; itulah perwujudan sila pertama yang hidup dalam perilaku. Mengajar menuntut kesabaran dan penghormatan terhadap orang yang sedang belajar; itulah nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan tumbuh ketika orang-orang dari berbagai latar belakang belajar dan bekerja untuk satu tujuan, tanpa perlu berpidato panjang lebar tentang makna persatuan. Mengelola kegiatan bersama jelas menuntut musyawarah dan pembagian tanggung jawab. Terakhir, mengerjakan sesuatu yang manfaatnya dirasakan orang lain—bukan hanya untuk diri sendiri—adalah bentuk terkecil dari keadilan sosial.

Dari pengalaman mengajar, saya belajar bahwa menyampaikan ilmu bukan sekadar memaparkan materi, melainkan juga berusaha memahami audiens yang menerimanya. Lewat Media Muhibbin, saya juga belajar bahwa pengabdian kepada pesantren tidak eksklusif di ruang kelas saja. Pengabdian itu mewujud lewat upaya menjaga denyut kegiatan pondok dan memperkenalkan pesantren kepada masyarakat melalui media. Kedua pengalaman itu meyakinkan saya bahwa tanggung jawab, kepedulian, dan gotong royong bisa dipupuk dari lingkungan pesantren, untuk kemudian dibawa menembus batas masyarakat luas.

Santri, Layar Ponsel, dan Jihad Digital

Kini, ruang pengabdian santri tidak lagi terbatas pada kelas dan mimbar. Informasi menyebar dalam hitungan detik, dan celakanya, tidak semuanya benar. Potongan ceramah tanpa konteks atau kabar yang tak jelas rimbanya amat mudah memicu prasangka dan meretakkan hubungan antarwarga. Di negara yang majemuk seperti Indonesia, hal ini bukan perkara sepele. Persatuan bisa koyak hanya oleh satu unggahan yang dibagikan tanpa nalar kritis.

Pengalaman mengelola media menyadarkan saya bahwa menyampaikan informasi adalah bentuk tanggung jawab, bukan sekadar ajang adu kecepatan. Oleh karena itu, prinsip tabayyun—memeriksa kebenaran kabar sebelum menyebarkannya—terasa makin relevan dewasa ini. Santri dapat mengambil peran pelopor dengan membagikan pengetahuan yang sumbernya otoritatif, menanggapi perbedaan pendapat dengan santun, dan menahan jempol untuk tidak ikut mendistribusikan informasi yang belum terverifikasi.

Bukankah ini juga cara menjaga persatuan Indonesia? Persatuan tidak hanya dirawat lewat rutinitas upacara bendera. Ia dijaga lewat kata, tulisan, dan sikap kita di ruang-ruang digital.

Label Santri Bukan Jaminan, Teruslah Mengevaluasi Diri

Meski begitu, menyandang label santri tidak otomatis menyulap seseorang menjadi sosok yang bijak dan toleran. Pesantren di Indonesia sangat beragam, dan nilai-nilai luhur hanya bermakna jika terus diuji lewat kesediaan menerima kritik serta memperbaiki diri.

Menjaga tradisi keilmuan pesantren memang penting, tetapi cara penyampaiannya perlu dievaluasi agar relevan dengan persoalan generasi muda. Misalnya, dengan mengupas kasus nyata sehari-hari dan menautkannya dengan ilmu agama. Tujuannya bukan untuk menggusur tradisi, melainkan membuatnya lincah menjawab tantangan zaman.

Saat ini, saya sedang melanjutkan studi Pendidikan Agama Islam di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sembari tetap mengabdi di pondok. Saya memandang hal ini bukan sekadar pencapaian portofolio pribadi, melainkan amanah agar ilmu tersebut membawa maslahat bagi generasi muda dan lingkungan pesantren. Saya sendiri masih terus belajar, dan justru proses berbenah itulah yang ingin saya jalani dengan penuh kesungguhan.

Baca juga: Wajib Hindari 5 Hal Ini yang Bisa Membuat Resolusi Kamu Gagal!

Kita juga baru saja memperingati Hari Pahlawan, di mana berbagai ulasan sejarah kerap mengaitkan semangat Resolusi Jihad dengan meletusnya peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Pelajarannya tetap sama: kemerdekaan negeri ini dibela oleh mereka yang menyatukan keyakinan iman dengan kepedulian nyata pada nasib bangsanya.

Maka, apakah ilmu dari pesantren boleh berhenti mengendap di dalam pondok? Jelas tidak boleh. Ilmu itu baru melangkah keluar ketika santri berhasil menjadikan nilai Pancasila sebagai pedoman bertindak: beragama dengan tanggung jawab, memanusiakan sesama, menjaga persatuan, menghargai musyawarah, dan berupaya bermanfaat bagi masyarakat.

Pancasila tidak cukup sekadar dihafal. Ia perlu dihidupkan dari ruang-ruang belajar, dari media yang kita konsumsi dan produksi, serta dari setiap pengabdian kecil untuk sesama.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *