Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Ketika biro perjalanan umrah menawarkan opsi rute Madinah ke Makkah menggunakan kereta cepat Haramain, semangat saya langsung berlipat ganda. Ada rasa penasaran sekaligus antusias yang membaur. Meski sudah beberapa kali pergi umrah, saya belum pernah menjajal moda transportasi darat paling modern di Arab Saudi ini. Perjalanan kali ini tak sekadar berpindah dari Kota Nabi ke Kota Suci, tetapi juga pengalaman baru menyaksikan bagaimana teknologi menyusup manis di tengah perjalanan ibadah.
Stasiun Haramain Madinah bukanlah sekadar titik keberangkatan biasa. Bangunannya mengadopsi struktur radial menyerupai payung raksasa dengan sentuhan warna hitam yang dominan. Desain keseluruhannya menggabungkan rangka baja, bentang atap yang luas, serta bukaan cahaya yang memadukan sinar matahari dan lampu buatan. Bangunan ini dirancang tertutup penuh dengan sistem pendingin udara untuk menghalau sengatan cuaca gurun demi menjaga kenyamanan jemaah.
Eksterior maupun interiornya tampil sangat modern, dilengkapi ruang tunggu yang teduh. Berbagai fasilitas tersedia lengkap di area layanan pendukung. Menariknya, saya mencatat kehadiran restoran ayam goreng primadona Arab Saudi, Albaik, lalu Pizza Hut, hingga deretan toko kosmetik. Layanan komersial di sini memang disesuaikan dengan profil jemaah umrah, bukan penumpang kereta reguler biasa. Area toilet dan ruang tunggunya didesain sangat lega untuk mengakomodasi pergerakan penumpang yang selalu membeludak dalam rombongan besar.
Baca juga: Jalan-Jalan ke Masjid Sheikh Zayed: Dari Megahnya Gurun Abu Dhabi hingga Syahdunya Kota Solo
Jika dibandingkan dengan Stasiun Whoosh Halim di Jakarta, perbedaannya cukup terasa. Stasiun Halim dikembangkan dengan pembagian ruang bertingkat untuk mengakomodasi penumpang individual atau keluarga kecil. Sementara itu, Stasiun Haramain Madinah sangat lekat dengan ritme ibadah kolektif. Rata-rata penumpangnya adalah jemaah yang bergerak berbondong-bondong, sehingga tata ruang dan fasilitasnya pun menyesuaikan dengan skala pergerakan kelompok tersebut.
Berihram di Stasiun dan Memangkas Waktu Tempuh

Saya berdiri di Stasiun Haramain Madinah, membaur bersama jemaah dari berbagai negara. Hampir semua jemaah umrah bergerak dalam rombongan dan sudah rapi mengenakan pakaian ihram. Sebagian membawa koper kabin, sementara yang lain cukup menenteng tas kecil atau ransel. Untuk rombongan kami, koper dan bagasi besar sudah diangkut terpisah menggunakan bus langsung menuju hotel di Makkah. Di antara kerumunan itu, ada jemaah yang menggunakan kursi roda, ada pula yang berjalan perlahan bertumpu pada tongkat sembari didampingi keluarganya.
Ketika panggilan boarding bergema, kami bergerak menuju peron mengikuti arahan petugas. Di sanalah saya pertama kali bertatap muka dengan kereta Haramain. Warnanya putih bersih dengan moncong aerodinamis yang menyiratkan karakter kendaraan masa depan berteknologi tinggi.
Ingatan saya otomatis melayang pada kereta Whoosh relasi Jakarta-Bandung yang kini jadi andalan saya. Keduanya sama-sama memiliki hidung aerodinamis, meski moncong Whoosh terasa lebih runcing, sedangkan Haramain sedikit lebih tumpul. Bodi Haramain didominasi kelir putih dengan garis hijau melintang bertuliskan Haramain High Speed Railway. Berbeda dengan Whoosh yang memadukan dasar putih dengan aksen merah dan hitam yang berani.
Begitu melangkah masuk ke kabin, kami disambut suasana yang bersih dan tertata. Kursi tersusun dalam format dua-dua dengan lorong di tengah, memudahkan mobilitas penumpang. Pencahayaan interiornya pas, membuat ruang terasa terang namun tetap nyaman di mata. Suhu pendingin udaranya pun diatur sejuk—pengalaman yang sungguh berbeda dibandingkan saat saya menempuh rute Madinah-Makkah dengan bus atau mobil sedan sewaan di tahun-tahun sebelumnya.
Kehadiran kereta ini sukses membuat jemaah tetap segar. Tidak ada lagi drama perjalanan panjang yang memakan waktu lebih dari lima jam. Waktu tempuh dipangkas menjadi dua jam lebih sedikit, tanpa perlu berhenti istirahat di pertengahan jalan.
Di dalam kereta juga tersedia kafe mungil. Karena penasaran, saya menyempatkan diri menengok kafe tersebut. Ternyata ukurannya cukup kecil dengan pilihan menu yang lebih terbatas dibanding kafe di Whoosh. Jika Whoosh memiliki beragam racikan kopi panas dan dingin, aneka roti, hingga onigiri, kafe di Haramain rata-rata hanya menyediakan makanan ringan dalam kemasan.
Pintu kereta tertutup rapat, dan rangkaian besi ini mulai meluncur mulus. Perjalanan ibadah menuju Makkah dimulai dengan lantunan talbiyah dari bibir jemaah yang telah berbalut ihram. Dari balik jendela, hamparan bentang alam Arab Saudi menyapa. Jangan mencari pepohonan hijau di rute ini; hampir sepanjang perjalanan kita hanya akan disuguhi padang pasir, gurun, perbukitan tandus di kejauhan, dan sesekali melewati permukiman yang suasananya setara dengan pedesaan di Pulau Jawa.
Di dalam kabin, rombongan jemaah kami lebih banyak duduk tenang. Tidak ada yang mondar-mandir atau berbicara dengan suara keras. Suasana terasa syahdu; sebagian mengisi waktu dengan berzikir, berdoa, atau mempersiapkan mental sebelum tiba di Makkah. Ada juga yang terlelap mengumpulkan tenaga, atau sekadar menatap layar ponsel. Beruntung, sinyal seluler dengan paket internet khusus umrah tetap lancar tanpa kendala di sepanjang jalur gurun tersebut.
Tiba di Makkah: Arsitektur Megah Penyangga Puncak Ibadah

Perjalanan kereta berakhir di Stasiun Makkah yang berlokasi di kawasan Al Rusaifah, berjarak tak sampai empat kilometer dari Masjidilharam. Pengumuman berbahasa Arab mengudara, menandakan kereta telah tiba di tujuan. Penumpang mulai sibuk berbenah, mengambil barang bawaan di rak atas, dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Beberapa orang tampak berdiri meregangkan otot, sementara yang lain merapikan kembali posisi kain ihramnya. Sungguh, bepergian menaiki kereta api modern dalam balutan kain ihram adalah sebuah pengalaman silang-budaya yang sangat berkesan.
Turun di peron dan berjalan menuju ruang kedatangan, kami langsung disambut oleh aula yang luar biasa luas. Eskalator dan papan penunjuk arah tersedia sangat jelas, menciptakan alur pergerakan yang mulus layaknya di bandara internasional. Area di luar gedung menuju lahan parkir bus juga dirancang sangat lapang, meski suhu udara panas khas Arab Saudi langsung menyergap kulit karena hilangnya embusan AC. Stasiun ini memang dipersiapkan untuk melayani arus pergerakan manusia dalam skala masif, yang pastinya akan diuji maksimal saat puncak musim umrah di bulan Ramadan atau musim haji.
Baca juga: Catatan Umrah 2026 dan Transformasi Mekah Jadi Kota Metropolitan Dunia
Dari area luar, Stasiun Makkah tampak sangat megah dengan arsitektur beratap lebar yang didominasi warna emas—sebuah identitas visual yang membedakannya secara tegas dari Stasiun Madinah. Di area parkir bus, pemandangannya tetap dipenuhi oleh pergerakan rombongan; saya nyaris tidak melihat mobil pribadi berukuran kecil di sana. Bagi kami, stasiun ini bukan sekadar titik kedatangan, melainkan gerbang awal menuju tahapan ibadah yang sesungguhnya di Tanah Suci. Labbaik Allahumma labbaik.
Alhamdulillah, pengalaman pertama menumpangi kereta cepat Haramain ini berjalan lancar dan nyaman. Sebagai jemaah umrah asal Indonesia, perjalanan ini menyadarkan saya bahwa kemajuan teknologi bisa sangat bersahabat dengan urusan ibadah. Kereta cepat tak sekadar menghemat waktu tempuh antar-dua kota suci, tetapi juga sukses menjaga stamina fisik agar kami bisa lebih khusyuk saat menunaikan rentetan ibadah di Tanah Suci.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









