Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Mumbai memang bukan ibu kota, tetapi ia adalah kota bisnis sekaligus kawasan berpenduduk terpadat di India. Kota ini sering diperkenalkan melalui deretan gedung pencakar langit, pusat keuangan yang sibuk, gemerlapnya dunia Bollywood, serta pesonanya sebagai kota pesisir yang menghadap langsung ke Laut Arab. Kawasan bisnis seperti Bandra Kurla Complex (BKC) menjadi simbol Mumbai sebagai jantung korporasi. Di sini, gedung perkantoran modern berdiri berdampingan dengan hotel, mal, pusat perdagangan, dan jaringan transportasi yang menghubungkannya ke berbagai kota di dalam maupun luar negeri.
Kehadiran Laut Arab semakin memperkuat identitas dan memberikan karakter unik pada Mumbai. Marine Drive menjadi salah satu ruang publik paling terkenal untuk menikmati garis pantai. Di sinilah tempat warga dan wisatawan bersantai menikmati embusan angin laut dan pemandangan kota, terutama pada malam hari. Dari tepian laut, siluet gedung-gedung tinggi tampak membentuk latar metropolitan yang memukau, berpadu kontras dengan cakrawala cakrawala terbuka.
Namun, pesona utama Mumbai juga terletak pada perannya sebagai jantung industri film Hindi paling top di dunia. Di sinilah bersemayam raksasa perfilman yang mampu mengimbangi dominasi Hollywood, yang membuat Mumbai memiliki julukan ikonis: Bollywood. Industri kreatif ini tumbuh beriringan dengan perkembangan Mumbai sebagai kota metropolitan, membentuk budaya populer India melalui film, musik, tarian, hingga gaya busana. Di kota ini, studio-studio besar, rumah produksi, aktor, sutradara, penulis naskah, hingga penata musik berkumpul, melahirkan ekosistem perfilman terbesar di India.
Baca juga: Mumbai: Kota Kontras, dari Kemewahan hingga Hening di Haji Ali Dargah
Setiap tahunnya, Mumbai melahirkan lebih dari 300 film berbahasa Hindi. Angka ini luar biasa, mengingat total produksi film di India secara keseluruhan bisa mencapai lebih dari 2.000 judul per tahun. Jumlah produksi dari Mumbai ini bahkan bisa lebih besar jika memperhitungkan syuting di luar kota oleh perusahaan-perusahaan film setempat. Karya-karya Bollywood ini sukses beredar hingga ke 38 negara.
Di India sendiri, penonton bioskop lokal mencapai angka 900 juta orang setiap tahunnya, atau sekitar 3 juta penonton per hari! Jumlah penonton globalnya tentu jauh lebih fantastis, mengingat distribusinya tak lagi sekadar lewat bioskop, tetapi juga televisi, media sosial, dan platform streaming. Mengunjungi Mumbai berarti melihat kota yang tidak hanya sibuk sebagai mesin ekonomi, tetapi juga menjelma menjadi “pabrik” yang memproduksi mimpi melalui layar lebar.
Bollywood telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas modern Mumbai, sekaligus agen utama yang menyebarkan budaya India ke tingkat global. Setiap kali kita terbayang tarian khas India, akhir cerita yang dramatis, atau keanggunan balutan kain sari, saat itulah kita menyadari seberapa jauh pengaruh Mumbai telah menyebar ke penjuru dunia.
Etalase Kehidupan di Balik Gerobak Street Food

Memahami Mumbai tentu tidak cukup hanya dengan menengadah pada gedung pencakar langit atau mengagumi kemegahan Bollywood. Untuk mengerti kota ini lebih dekat dan akrab, kita perlu meresapi denyut kehidupan di jalan-jalan kecil, pasar, stasiun kereta, hingga kedai street food sederhana. Di tempat-tempat warga berkumpul untuk menyantap makanan dan menyeruput secangkir chai inilah, kita bisa berkenalan dengan karakter asli Mumbai yang paling nyata.
Meski makanannya terlihat sederhana—pedagang membuka gerobak, meracik bahan, lalu memasak dengan tangkas untuk pelanggan yang silih berganti—ada cerita besar di baliknya. Mumbai adalah kota padat yang berdetak dalam ritme super cepat. Setiap harinya, belasan juta orang hilir mudik menggunakan kereta, bus, taksi, motor, bajaj, hingga berjalan kaki. Di tengah hiruk-pikuk mobilitas itulah, street food hadir sebagai ruang interaksi yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.
Kehadiran penjaja makanan informal ini kadang luput dari perhatian. Padahal, lewat merekalah kita bisa melihat bagaimana masyarakat metropolitan bertahan, berinteraksi, dan merawat tradisi di tengah pusaran modernisasi. Dengan ritme hidup yang berpacu dengan waktu, kebutuhan akan makanan yang cepat saji, praktis, dan murah menjadi rutinitas tak terelakkan.
Salah satu primadonanya adalah vada pav, roti sederhana berisi olahan kentang renyah mirip perkedel yang dinobatkan sebagai ikon makanan jalanan Mumbai. Jika di Jakarta, jajanan ini mungkin setara dengan popularitas bala-bala atau tahu isi. Vada pav sangat praktis disantap oleh mereka yang sedang dalam perjalanan atau yang membutuhkan asupan instan sebelum berangkat kerja.
Tentu, vada pav hanyalah satu dari sekian banyak jajanan populer. Masih ada pav bhaji, bhel puri, sev puri, dan rupa-rupa kudapan ringan lainnya. Kuliner-kuliner ini hidup berdampingan menopang energi para pekerja perkotaan, baik di sektor formal maupun informal. Amatlah menarik mengamati apa yang mereka jual, siapa penjualnya, di mana lokasinya, cara meraciknya, hingga siapa saja pembelinya. Dari pengamatan sederhana ini, sebuah perjalanan kuliner seketika berubah menjadi observasi sosial tentang lincahnya budaya hidup perkotaan.
Secangkir Chai: Ritme Cepat dan Ruang Sosial yang Hangat

Di antara riuhnya street food Mumbai, ada satu elemen yang menduduki takhta paling istimewa: chai. Minuman teh susu yang diracik dengan gula dan rempah khas India ini begitu lekat dengan keseharian masyarakat. Di Mumbai, chai hadir di mana-mana, mulai dari lapak terpal di tepi jalan, kafe ikonis di kota tua, hingga restoran mewah. Meminum chai adalah rutinitas wajib warga kota.
Salah satu varian yang paling ikonis adalah cutting chai, yakni teh yang disajikan dalam porsi kecil, baik di dalam cangkir mungil maupun gelas berisi setengah porsi. Karena ukurannya yang “dipotong”, teh ini lebih cepat dingin dan bisa dihabiskan hanya dalam hitungan sruput. Konsep penyajian super praktis ini sangat mencerminkan karakter Mumbai yang tak memberikan banyak waktu untuk berhenti terlalu lama. Polanya amat efisien: datang, pesan, berbincang sejenak, sruput chai, lalu bergegas kembali melangkah.
Namun, di balik budaya cutting chai yang serba cepat, tersembunyi sebuah fungsi sosial yang berharga. Chai menjadi alasan yang pas bagi warga kota untuk berhenti sejenak dan bertukar sapa, tanpa perlu menghabiskan banyak waktu istirahat atau merogoh kocek dalam-dalam di restoran mahal. Di lori-lori penjual chai, dua pekerja kantoran bisa mendiskusikan bisnis, sementara pedagang bisa bertukar kabar dengan pelanggannya. Di sini, secangkir teh bertransformasi menjadi sarana “media sosial” dunia nyata bagi masyarakat perkotaan.
Akar tradisi minum teh yang efisien ini bisa ditelusuri ke era 1800-an akhir, seiring menjamurnya Irani Café. Kedai-kedai klasik ini awalnya didirikan oleh komunitas imigran keturunan Persia yang merantau ke Mumbai. Budaya keseharian mereka perlahan melebur dan menjadi sejarah sosial budaya bagi Mumbai. Istilah Irani Café sendiri merujuk pada sebuah gaya warung makan—bukan nama merek—mirip dengan konsep warung tegal (warteg) di Jakarta. Tempat ini bukan cuma ruang untuk makan dan minum, melainkan wadah pergaulan lintas kelas sosial. Orang datang ke sana saat kopi belum begitu populer, murni untuk menikmati teh, menyantap kudapan, berdiskusi santai, membaca koran, atau sekadar membunuh waktu. Tradisi inilah yang mengukuhkan posisi teh sebagai napas kehidupan urban Mumbai.
Baca juga: Old Delhi Market, Menyusuri Lorong Mughal dan Jajanan Legendaris India
Sore itu, saya baru saja merampungkan kunjungan ke Masjid Haji Ali Dargah, destinasi wisata religi ikonik yang telah berdiri sejak tahun 1431. Lokasinya unik karena menjorok sekitar 400 meter ke tengah laut dan hanya dihubungkan oleh akses jalan sempit, sehingga dari kejauhan masjid ini tampak seolah mengapung. Berjalan kembali sejauh 400 meter menuju jalan utama di bawah teriknya udara musim panas Mumbai sukses membuat tubuh lelah dan dahaga.
Setibanya di persimpangan jalan besar, saya menyeberang dan mampir ke sebuah kios chai street food sederhana. Tak ada papan nama yang bisa saya baca—atau mungkin ada, tetapi tertulis dalam aksara Hindi. Di kedai yang tampak tua itulah saya memesan segelas chai.
Saat uap hangat teh itu tersaji di hadapan saya, ada perasaan haru yang tiba-tiba menyeruak. Dalam setiap sruputan cangkir kecil ini, saya seolah ikut mereguk kentalnya sari pati Mumbai: menyimak sejarah kota, riwayat migrasi, jalur perdagangan, dinamika perkotaan, hingga sisa-sisa budaya Persia yang telah lama melebur di dalam secangkir teh hangat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







