Milenianews.com, Bekasi – Membuat teknologi yang bekerja mungkin menjadi pencapaian besar bagi seorang inovator. Namun, menurut Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ery Punta Hendraswara, perjalanan sebuah inovasi tidak selesai ketika produk berhasil dibuat.
Pesan tersebut disampaikan Ery saat membuka rangkaian IEEE YESIST12 2026 Grand Finale di BSI Convention Center, Bekasi, Jumat (2/10). Di hadapan para inovator muda dari berbagai negara, ia menekankan pentingnya melihat teknologi bukan hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai aset yang perlu dilindungi dan dikembangkan secara komersial.
Baca juga: IEEE YESIST12 2026 Siap Bawa Inovasi Anak Muda Dunia ke Bekasi
Dalam sambutannya, Ery juga memberikan apresiasi kepada Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan YESIST12 2026 di Indonesia. Menurutnya, kehadiran UNM sebagai tuan rumah menjadi bagian penting dalam mempertemukan inovator, akademisi, profesional, dan pelaku industri dari berbagai negara.
“Saya merasa sangat terhormat dapat berada di sini dalam acara YESIST12. Terima kasih kepada Universitas Nusa Mandiri yang telah menjadi tuan rumah YESIST12 2026 di Indonesia dan membuka ruang bagi para inovator muda dari seluruh dunia untuk berkumpul, berbagi gagasan, dan menunjukkan karya mereka,” ujar Ery dalam sambutannya, Jumat (2/10).
Ery kemudian menekankan bahwa YESIST12 bukan sekadar panggung untuk memamerkan teknologi. Menurutnya, ajang tersebut merupakan ruang bertemunya sains, kreativitas, dan semangat kewirausahaan generasi muda.
“Menciptakan produk teknologi yang hebat barulah separuh dari perjalanan. Separuh perjalanan sisanya adalah perlindungan dan komersialisasi Kekayaan Intelektual,” paparnya.
Menurut Ery, perkembangan teknologi digital telah membuka kesempatan yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk masuk ke pasar yang sebelumnya sulit dijangkau. Kondisi tersebut juga membuka ruang bagi UMKM, startup, dan pelaku ekonomi kreatif untuk bersaing di tingkat global.
Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 60 juta UMKM yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian. Indonesia juga disebut berada di peringkat keenam dunia dalam jumlah startup, dengan lebih dari 2.500 startup teknologi yang beroperasi.
Di tengah perkembangan tersebut, Ery melihat para peserta YESIST12 berada pada posisi yang menarik. Mereka tidak hanya berhadapan dengan perkembangan teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau AI, tetapi juga memiliki peluang untuk membawa teknologi tersebut menjawab persoalan ekonomi dan sosial di tingkat masyarakat.
“Karya yang sedang Anda kembangkan, baik berupa perangkat lunak, IoT, maupun kecerdasan buatan, dapat menjadi solusi bagi ribuan pemilik usaha kecil serta jutaan orang, membantu mereka naik kelas dan menembus pasar internasional,” katanya.
Jangan Sampai Sibuk Membuat, Lupa Melindungi
Ada satu hal yang menurut Ery kerap luput dari perhatian inovator muda. Ketika terlalu fokus menyempurnakan produk dan menambah fitur, perlindungan terhadap karya justru bisa tertinggal.
Padahal, dalam sektor digital dan kreatif, aset utama sebuah usaha tidak selalu berbentuk bangunan, mesin, atau pabrik. Ide, algoritma, source code, merek, hingga desain dapat menjadi bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki nilai ekonomi.
“Pemerintah sedang bekerja keras menjadikan Kekayaan Intelektual sebagai instrumen ekonomi yang nyata, sebuah aset tak berwujud yang dapat dinilai, dikomersialkan, dan suatu hari bahkan dapat digunakan sebagai jaminan pembiayaan dari lembaga keuangan,” jelasnya.
Karena itu Ery mendorong peserta YESIST12 untuk mulai mengubah cara pandang terhadap karya yang mereka hasilkan. Seorang inovator, menurut pesan yang ia sampaikan, perlu memiliki cara berpikir seorang penemu sekaligus pengusaha.
“Berpikirlah seperti seorang penemu sekaligus pengusaha pada saat yang bersamaan. Lindungi paten, hak cipta, dan desain industri dari karya Anda, karena itulah modal utama Anda untuk memenangkan pasar masa depan,” tegas Ery.
Teknologi Harus Menjawab Masalah Nyata
Pesan tersebut kemudian bermuara pada satu hal yang menjadi benang merah YESIST12, yakni bagaimana teknologi digunakan untuk menjawab kebutuhan manusia.
Ery menantang para peserta untuk tidak berhenti pada penciptaan produk, tetapi memastikan inovasi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Gunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat, dukung pertumbuhan ekonomi inklusif bagi UMKM, sembari memastikan karya Anda terlindungi,” ujarnya.
Baca juga: UNM Tuan Rumah IEEE YESIST12 2026, Siap Pertemukan Inovator Muda Dunia
IEEE YESIST12 2026 sendiri mempertemukan inovator muda melalui sejumlah track yang mencakup berbagai persoalan, mulai dari keberlanjutan lingkungan, prototipe teknologi, energi bersih, kesehatan, mobilitas, hingga tantangan dunia industri.
Bagi para peserta, panggung ini akhirnya bukan hanya tempat menunjukkan seberapa canggih teknologi yang berhasil dibuat. Ada pekerjaan lain yang menunggu setelah tepuk tangan selesai, yaitu memastikan ide tersebut terlindungi, memiliki nilai, dan benar-benar bisa digunakan untuk menjawab persoalan di dunia nyata.
Ery kemudian secara resmi membuka rangkaian IEEE YESIST12 2026 dan menyampaikan harapan agar seluruh agenda yang berlangsung selama dua hari tersebut dapat berjalan lancar.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













